<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Innovation of Puter Ice Cream Tool for Business Productivity in Manggis Village</article-title>
        <subtitle>Inovasi Alat Es Krim Puter untuk Produktivitas Usaha di Desa Manggis</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-c356ab475c5c1f381c58637cb7e4c204" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Fauzi</surname>
            <given-names>Muhammad Alvin</given-names>
          </name>
          <email>Muhammadalvin@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-75b97ff83a49e2854d5eab0edacc3881" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Mulyadi</surname>
            <given-names>Akhmad</given-names>
          </name>
          <email>akhmadmulyadi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
        <contrib id="person-0615f29e6c25305cf24157a42786ebff" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Aisidah</surname>
            <given-names>Suffi Natul</given-names>
          </name>
          <email>Suffi@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-3" />
        </contrib>
        <contrib id="person-4cd6e4811abe833e9ecf201afb99ab69" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Fatima</surname>
            <given-names>Siti</given-names>
          </name>
          <email>Sitifatima@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-4" />
        </contrib>
        <contrib id="person-4e09ecd6e70771d1577a7f202c6bc8f7" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Haqewi</surname>
            <given-names>Muhammad Danil</given-names>
          </name>
          <email>Muhammadd@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-5" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-3">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-4">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-5">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2025-05-08">
          <day>08</day>
          <month>05</month>
          <year>2025</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-24d77e7912058ecea5e62d84246901ff">
      <title>I.Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-18">Teknologi tepat guna umumnya dipahami sebagai produk atau alat yang mampu menyelesaikan masalah spesifik di masyarakat. Namun, jika kita menelusuri lebih dalam kepada gagasan awal yang dikemukakan oleh E. F. Schumacher pada tahun 1973, kita akan menemukan bahwa teknologi tepat guna seharusnya lebih berorientasi pada gerakan pemberdayaan masyarakat, bukannya sekadar penciptaan alat. Hubungan antara kedua hal tersebut terjalin melalui sebuah skema di mana penguatan masyarakat dilakukan dengan menerapkan alat dan teknologi yang sesuai dengan kondisi lokal. Schumacher, yang pertama kali mengemukakan istilah "intermediate technology," berpendapat bahwa teknologi seharusnya dapat diakses dan digunakan secara lokal sesuai dengan kebutuhan, tanpa berorientasi pada eksploitasi. Bagi Schumacher, intermediate technology bukan sekadar alat, melainkan sebuah gerakan yang menekankan penggunaan teknologi secara pragmatis dalam skala lokal untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Pada tahun 1979, istilah intermediate technology bertransformasi menjadi appropriate technology. Perubahan istilah ini terjadi karena "intermediate" cenderung merujuk pada tingkat penggunaan teknologi, sementara kenyataannya, penerapan teknologi dengan paradigma pengelolaan lokal juga berlangsung di negara-negara maju.</p>
      <p id="_paragraph-19">Beragam jenis makanan tradisional di Indonesia masih mudah ditemukan hingga saat ini. Salah satu contohnya adalah es puter. Proses pembuatan es puter tetap menggunakan bahan-bahan yang mudah diakses. Pada awalnya, alat produksi es puter diputar secara manual dengan tangan. Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi, kini terdapat mesin yang membantu memutar tabung adonan es puter, sehingga proses produksinya menjadi lebih mudah dan efisien. Di Indonesia, penggunaan mesin pendingin diperkirakan akan semakin meluas. Hal ini disebabkan oleh iklim tropis yang kita miliki, di mana suhu yang panas membuat banyak orang memerlukan makanan atau minuman yang dapat membantu menjaga kondisi tubuh dalam menghadapi aktivitas sehari-hari. Salah satu pilihan yang sangat digemari oleh masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dan orang tua, adalah minuman es krim.</p>
      <p id="_paragraph-20">Pembuatan es krim, yang sering disebut es puter, biasanya dilakukan dengan cara diputar secara manual oleh pengrajin. Dengan adanya alat bantu pemutar pembuat es krim, para pengrajin es krim rumahan diharapkan dapat mengenal serta memahami fungsi dari alat ini. Harapannya, mereka akan tertarik untuk mengintegrasikannya dalam proses produksi mereka.</p>
      <p id="_paragraph-21">[1]menyatakan bahwa teknologi tepat guna tidak hanya sekadar alat, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi sebuah metode. Dalam bukunya, ia menguraikan beberapa aspek penting yang terkait dengan hal ini, yaitu aspek teknologi yang berupaya sederhana dan tidak bergantung pada pihak lain, aspek ekonomi yang mengutamakan investasi yang terjangkau, serta aspek lingkungan yang memastikan bahwa teknologi tersebut tidak merusak. Oleh karena itu, pengelolaan secara lokal menjadi pertimbangan utama dalam penerapan teknologi tersebut.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-d315098480e254c0890f6cbda3309f2e">
      <title>II.Metode</title>
      <p id="_paragraph-22">Dalam penelitian terdahulu, artikel ini mengacu pada sejumlah sumber yang mengeksplorasi paradigma teknologi tepat guna (TTG) dan penerapannya dalam masyarakat. Salah satu penelitian yang menonjol adalah dari [2] yang membahas penerapan desalinasi surya untuk penyediaan air bersih. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keputusan penggunaan teknologi harus mempertimbangkan karakteristik lingkungan, sosial, dan ekonomi dari masyarakat sasaran, bukan hanya berdasarkan kemajuan teknologinya saja. Selain itu, artikel ini menyoroti pentingnya saling berbagi pengetahuan dengan masyarakat sebagai cara untuk memahami potensi internal yang mereka miliki. Hal ini mencerminkan bahwa desain produk harus didasarkan pada kebutuhan dan konteks masyarakat agar dapat diterima secara lebih luas. Hasil dari tinjauan tersebut menginspirasi artikel ini untuk fokus pada desain yang didasarkan pada permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat, menekankan bahwa proses perancangan harus mempertimbangkan kerangka referensi masyarakat, sehingga desainer tidak hanya mengandalkan pandangan mereka sendiri. Penelitian sebelumnya juga menggarisbawahi bahwa desain yang tepat guna berkaitan erat dengan konteks lokal dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, yang penting bagi keberlanjutan solusi yang diusulkan.</p>
      <p id="_paragraph-23">memperkenalkan istilah "desain yang tepat" yang menekankan pentingnya ketepatsasaran dan ketepatgunaan dalam penerapan teknologi tepat guna.[3] Dua faktor utama menentukan keberhasilan ini: pertama, faktor teknologi, yang berarti pemilihan teknologi yang sesuai; dan kedua, faktor desain, yang berkaitan dengan cara perancangan yang tepat. Untuk memahami kedua faktor ini, perancang perlu menganalisis konteks budaya masyarakat yang menjadi sasaran secara mendalam, sebab ukuran ketepatgunaan tidak dapat dinilai hanya dari penyelesaian masalah teknis dan pendekatan rekayasa semata. Clifford juga mengkritik anggapan bahwa teknologi bersifat universal, dengan menunjukkan bahwa kondisi masyarakat sangat beragam. Keberagaman ini seharusnya mendorong perancang untuk membuat usulan desain yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan pengguna yang telah dievaluasi. Meskipun demikian, istilah "desain yang tepat" menurut Clifford masih dimaknai secara khusus sebagai proses perancangan berbasis pendekatan dari bawah ke atas dalam konteks teknologi tepat guna.</p>
      <p id="_paragraph-24">Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan penerapan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kondisi lokal guna memberdayakan masyarakat. Meliputi analisis penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya pada sektor produksi makanan tradisional, serta mendorong penerapan teknologi yang sederhana, terjangkau, dan sesuai kebutuhan masyarakat. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara desain dan teknologi tepat guna, serta menilai keberhasilannya berdasarkan ketepatan sasaran dan relevansi dengan konteks sosial dan budaya lokal.</p>
      <p id="_paragraph-25">Dalam penyusunan Artikel luaran kkn, kami menggunakan metodologi pengumpulan data yang sistematis dan terencana untuk memastikan akurasi dan keandalan informasi yang disajikan. Proses ini melibatkan beberapa tahap yang dirancang untuk mengumpulkan data secara komprehensif dari berbagai sumber.</p>
      <p id="_paragraph-26">1. Observasi Langsung Tahap awal pengumpulan data dimulai dengan observasi langsung di lapangan. Tim KKN melakukan kunjungan ke berbagai lokasi di desa Manggis, termasuk UMKM, Sekolah, dan tempat tempat umum lainnya. Observasi ini bertujuan untuk memahami kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat secara langsung. Dengan cara ini, kami dapat mengidentifikasi potensi dan tantangan yang dihadapi oleh desa dalam konteks yang lebih nyata.</p>
      <p id="_paragraph-27">2. Wawancara. Selanjutnya kami melakukan wawancara dengan berbagai pemangku kepentingan di desa, termasuk kepala desa, guru, tokoh masyarakat, dan warga setempat. Wawancara ini bertujuan untuk menggali informasi lebih dalam mengenai kebutuhan, harapan, dan pandangan masyarakat terhadap pembangunan desa. Pertanyaan yang diajukan dirancang untuk mendapatkan perspektif yang beragam dan menyeluruh.</p>
      <p id="_paragraph-28">3. Studi Dokumentasi Sebagai pelengkap, kami juga melakukan studi dokumentasi dengan mengumpulkan data sekunder dari berbagai sumber, seperti laporan pemerintah, data statistik, dan dokumen terkait lainnya. Infromasi ini digunakan untuk memberikan konteks yang lebih luas mengenai desa Manggis, serta untuk mengidentifikasi kebijakan dan program yang telah dijalankan sebelumnya.</p>
      <p id="_paragraph-29">4. Forum Group Discussion (FGD) Untuk menangkap dinamika sosial yang lebih dalam, kami mengadakan Forum Group Discussion (FGD) dengan kelompok masyarakat yang berbeda, seperti pemuda, Ibu-ibu, dan kelompok lansia. Diskusi ini bertujuan untuk mendapatkan masukan dan ideide dari berbagai lapisan masyarakat, serta untuk memperdalam pemahaman tentang isu-isu yang relevan dengan mereka.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-deabb4d328bf0b9c0cb0b66f65e7be9c">
      <title>III.Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-e987b121d839789c34ee652de1b5acbb">
        <title>
          <bold id="_bold-13">1. Deskripsi Alat Pembuat Es Krim Puter yang Dikembangkan</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-31">Alat pembuat es krim puter yang dikembangkan ini merupakan hasil modifikasi dari alat tradisional dengan penambahan fitur-fitur teknologi tepat guna. Secara umum, alat ini terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu:</p>
        <list list-type="bullet" id="list-29c9fb1668099389797a3e462b2f7cd8">
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-14">Wadah Pemutar (Drum):</bold> Terbuat dari bahan <italic id="_italic-16">stainless steel</italic> anti karat dengan kapasitas 10 liter. Dilengkapi dengan pengaduk yang dirancang khusus untuk memastikan adonan tercampur merata selama proses pembekuan.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-15">Wadah Pendingin:</bold> Terbuat dari bahan isolator panas yang efektif untuk mempertahankan suhu rendah dalam waktu yang lebih lama. Menggunakan campuran es batu dan garam sebagai media pendingin.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-16">Kontrol Kecepatan:</bold> Dilengkapi dengan <italic id="_italic-17">speed controller</italic> yang memungkinkan pengguna untuk mengatur kecepatan putaran drum sesuai dengan kebutuhan.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-17">Rangka dan Penyangga:</bold> Terbuat dari bahan besi yang kuat dan kokoh untuk menopang seluruh komponen alat.</p>
          </list-item>
        </list>
      </sec>
      <sec id="heading-128361b5914ef3fa022e95cfc06bf9cd">
        <title>
          <bold id="_bold-18">2. Peningkatan Produktivitas Usaha Kecil</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-33">Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan alat pembuat es krim puter berbasis teknologi tepat guna ini mampu meningkatkan produktivitas usaha kecil di Desa Manggis secara signifikan. Berikut adalah beberapa poin penting yang perlu diperhatikan:</p>
        <list list-type="bullet" id="list-35ac627e55891b947859514b9d3ab7c5">
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-19">Kualitas Produk yang Lebih Konsisten:</bold> Dengan adanya kontrol kecepatan dan pengaduk otomatis, kualitas es krim puter yang dihasilkan menjadi lebih konsisten dari segi tekstur dan rasa. Hal ini penting untuk menjaga kepuasan pelanggan.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-20">Pengurangan Biaya Produksi:</bold> Meskipun memerlukan investasi awal, penggunaan alat ini dapat mengurangi biaya produksi jangka panjang. Hal ini disebabkan oleh efisiensi penggunaan bahan baku, pengurangan biaya tenaga kerja, dan peningkatan produktivitas secara keseluruhan.</p>
          </list-item>
        </list>
      </sec>
      <sec id="heading-01f2a1e3373acb06f1ee81e3ea530caa">
        <title>
          <bold id="_bold-21">3. Penerimaan dan Respon Pelaku Usaha</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-35">Berdasarkan survei yang dilakukan, sebagian besar pelaku usaha di Desa Manggis memberikan respon positif terhadap pengembangan alat pembuat es krim puter ini. Mereka mengakui bahwa alat ini sangat membantu dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas produk mereka. Beberapa pelaku usaha juga memberikan saran perbaikan untuk meningkatkan kinerja alat di masa mendatang, seperti penambahan fitur pengatur suhu dan desain yang lebih ergonomis.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-37fe618c429e2c0d10a6a51e8faaf82a">
        <title>
          <bold id="_bold-22">4. Kendala dan Tantangan</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-37">Meskipun memberikan banyak manfaat, pengembangan dan implementasi alat ini juga menghadapi beberapa kendala dan tantangan, antara lain:</p>
        <list list-type="bullet" id="list-9cf6bf24176c736b377e3367ad99976b">
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-23">Biaya Investasi Awal:</bold> Harga alat yang relatif mahal menjadi kendala bagi sebagian pelaku usaha kecil dengan modal terbatas.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-24">Keterampilan Pengoperasian:</bold> Pelatihan dan pendampingan diperlukan agar pelaku usaha dapat mengoperasikan alat ini dengan benar dan aman.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-25">Perawatan dan Perbaikan:</bold> Ketersediaan suku cadang dan tenaga ahli untuk melakukan perawatan dan perbaikan alat perlu diperhatikan.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-26">Fluktuasi Harga Bahan Baku:</bold> Harga bahan baku seperti susu, gula, dan es batu dapat mempengaruhi profitabilitas usaha.</p>
          </list-item>
        </list>
      </sec>
      <sec id="heading-c773ca007e9ce70255dbce5a072cb2c8">
        <title>
          <bold id="_bold-27">5. Potensi Pengembangan Lebih Lanjut</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-39">Pengembangan alat pembuat es krim puter ini memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut, antara lain:</p>
        <list list-type="bullet" id="list-571031324621a48699e56f1a9f467bfc">
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-28">Penggunaan Energi Terbarukan:</bold> Mengintegrasikan sumber energi terbarukan seperti tenaga surya untuk mengurangi ketergantungan pada listrik PLN.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-29">Sistem Otomatisasi:</bold> Menambahkan sistem otomatisasi yang lebih canggih untuk mengontrol seluruh proses pembuatan es krim puter secara otomatis.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-30">Desain yang Lebih Ekonomis:</bold> Merancang alat dengan desain yang lebih ergonomis dan mudah digunakan oleh semua kalangan usia.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><bold id="_bold-31">Pengembangan Variasi Produk:</bold> Membantu pelaku usaha untuk mengembangkan variasi produk es krim puter dengan rasa dan tampilan yang lebih menarik.</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-40">Dokumentasi TTG Kelompok Manggis</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-4b2e27d225f93825b416aaf80646c8aa">
      <title>IV.Kesimpulan</title>
      <p id="paragraph-192bfcf58d2b96ca4b18c9e10750ca05">Kesimpulan menggambarkan jawaban dari hipotesis dan/atau tujuan penelitian atau temuan ilmiah yang diperoleh. Kesimpulan bukan berisi perulangan dari hasil dan pembahasan, tetapi lebih kepada ringkasan hasil temuan seperti yang diharapkan di tujuan atau hipotesis. Bila perlu, di bagian akhir kesimpulan dapat juga dituliskan hal-hal yang akan/perlu dilakukan terkait dengan gagasan selanjutnya dari penelitian tersebut. Kesimpulan dinyatakan sebagai paragraf. <italic id="italic-1">Numbering</italic> atau <italic id="italic-2">itemize</italic> tidak diperkenankan di bab ini. Subbab (misalnya 7.1 Kesimpulan, 7.2 Saran) juga tidak diperkenankan dalam bab ini.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>