<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Pelatihan Splinting Gigi Goyang di RS Muhammadiyah Malang</article-title>
        <subtitle>Training on Splinting Loose Teeth at Muhammadiyah Hospital Malang</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-87dcec608e58be8971da822880a8bd15" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Indrawati</surname>
            <given-names>Dwi Wahyu</given-names>
          </name>
          <email>dwiwahyuindrawati@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-01b2532dba2294af4015df1b2bbcaeca" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Manurung</surname>
            <given-names>Rizky Briliant Syah</given-names>
          </name>
          <email>rizkyb@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
        <contrib id="person-bf8b8c17b44fba9d4328a0bfc187cb07" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Endarti</surname>
            <given-names>Esa Wahyu</given-names>
          </name>
          <email>esawahyu@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-3" />
        </contrib>
        <contrib id="person-4db3b306e2543fb572f35df6ca11aaa0" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Mukti</surname>
            <given-names>Ria Andriani</given-names>
          </name>
          <email>riaandriani@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-4" />
        </contrib>
        <contrib id="person-dec5b3a3d7b064c48a12724d0309fbbf" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Manurung</surname>
            <given-names>Muhammad Rizky Akbar</given-names>
          </name>
          <email>rizkyakbar@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-5" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-3">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-4">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-5">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2025-06-08">
          <day>08</day>
          <month>06</month>
          <year>2025</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-9423175c2e38aeeaa6e853fb820a4d29">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-21">Mobilitas gigi atau gigi goyang merupakan kondisi klinis umum yang banyak dijumpai pada pasien dengan gangguan jaringan periodontal. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan pada jaringan penyangga gigi, seperti ligamen periodontal dan tulang alveolar, akibat proses inflamasi kronis atau trauma oklusal. Faktor sistemik seperti diabetes melitus, kebiasaan merokok, dan stres juga memperburuk kondisi periodontal (Graziani et al., 2020; Nazir et al., 2020). Mobilitas gigi mengganggu fungsi mengunyah, berbicara, dan estetika, serta dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup pasien.</p>
      <p id="_paragraph-22">Setelah karies, periodontitis yang menyebabkan mobilitas gigi menjadi salah satu tantangan utama dalam praktik klinis kedokteran gigi. Penyakit ini berkembang secara progresif jika tidak ditangani, mengarah pada destruksi struktur pendukung gigi hingga kehilangan gigi. Manajemen penyakit periodontal tidak hanya berfokus pada pembersihan infeksi tetapi juga memerlukan strategi stabilisasi gigi untuk mempertahankan fungsinya (Tonetti et al., 2020; Sanz et al., 2020). Oleh karena itu, diagnosis dini dan penatalaksanaan menyeluruh menjadi kunci dalam mempertahankan gigi jangka panjang.</p>
      <p id="_paragraph-23">Splinting merupakan pendekatan mekanis sederhana yang efektif untuk menstabilkan gigi dengan mobilitas. Dengan menggabungkan beberapa gigi menjadi satu unit fungsional, beban oklusal dapat didistribusikan lebih merata dan tekanan pada gigi yang mobil berkurang. Splinting digunakan baik dalam kondisi akut seperti trauma maupun dalam kasus periodontitis lanjut sebagai bagian dari terapi suportif (Jhingta et al., 2021; Güncü et al., 2019). Penelitian terkini menunjukkan bahwa kombinasi antara splinting dan terapi periodontal non-bedah memperbaiki parameter klinis dan meningkatkan prognosis gigi yang terkena.</p>
      <p id="_paragraph-24">Selain stabilisasi mekanik, penggunaan antiseptik seperti chlorhexidine gluconate secara topikal juga penting untuk mengendalikan infeksi mikroba dan inflamasi. Chlorhexidine tetap menjadi gold standard dalam terapi antimikroba oral karena efektivitasnya terhadap patogen utama periodontitis seperti Porphyromonas gingivalis dan Tannerella forsythia (He et al., 2021; Ramenzoni et al., 2020). Penggunaan mouthrinse atau gel chlorhexidine sebagai terapi tambahan pada fase awal perawatan terbukti menurunkan indeks inflamasi dan mempercepat penyembuhan jaringan periodontal.</p>
      <p id="_paragraph-25">RS Muhammadiyah Malang sebagai institusi pelayanan dan pendidikan menyelenggarakan workshop kegawatdaruratan gigi goyang sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dokter gigi dalam menangani kasus mobilitas gigi secara cepat dan tepat di fasilitas pelayanan primer. Workshop ini mencakup pelatihan prosedur splinting, pemilihan material yang sesuai, serta pemahaman terapi farmakologis pendukung seperti penggunaan antiseptik dan analgesik (Sari et al., 2023). Kegiatan ini juga menjadi implementasi dari tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan gigi di daerah.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-04705fcfe44c80d4a1f168efc628c8a6">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-26">Workshop pelatihan klinis satu hari telah sukses diselenggarakan di Rumah Sakit Muhammadiyah Malang, yang merupakan bagian dari program peningkatan kompetensi dokter gigi dalam penanganan kasus periodonsia. Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari dokter gigi umum dan dokter gigi spesialis periodonsia. Tujuan utama dari workshop ini adalah untuk memperkuat pemahaman teoritis dan keterampilan praktis peserta dalam penanganan mobilitas gigi, yang merupakan salah satu manifestasi klinis dari penyakit periodontal lanjut.</p>
      <p id="_paragraph-27">Materi pertama yang diberikan adalah teori dasar tentang mobilitas gigi, termasuk klasifikasi tingkat mobilitas, etiologi, serta indikasi dan kontraindikasi tindakan splinting (Wang et al., 2023; Tanaka &amp; Sato, 2024). Pengetahuan ini penting sebagai landasan sebelum peserta dapat melakukan tindakan klinis secara tepat. Splinting gigi menjadi salah satu intervensi yang umum digunakan untuk menstabilkan gigi yang mengalami mobilitas akibat kehilangan dukungan jaringan periodontal (Papapanou et al., 2019). Pemahaman tentang waktu dan teknik yang tepat dalam melakukan splinting menjadi kunci keberhasilan perawatan.</p>
      <p id="_paragraph-28">Selanjutnya, peserta mendapatkan demonstrasi praktik pembuatan dan pemasangan splint menggunakan kawat ortodontik dan resin komposit. Teknik ini dipilih karena memiliki efektivitas dan efisiensi yang tinggi dalam kondisi klinis (Kumar et al., 2022). Demonstrasi dilakukan langsung oleh instruktur berpengalaman, dan peserta diberi kesempatan untuk mempraktikkan sendiri prosedur pada model gigi tiruan. Penguasaan teknik ini diharapkan dapat diaplikasikan langsung dalam praktik sehari-hari (Sharma &amp; Paliwal, 2020).</p>
      <p id="_paragraph-29">Sebagai bagian dari manajemen pasca perawatan, peserta juga dibekali pengetahuan dan keterampilan dalam aplikasi gel chlorhexidine sebagai agen antimikroba. Penggunaan chlorhexidine gel setelah pemasangan splint terbukti dapat mengurangi risiko infeksi dan mengontrol peradangan pada jaringan periodontal (Lasserre et al., 2021; Widodo &amp; Prameswari, 2025). Dalam sesi ini, peserta diajarkan teknik aplikasi gel secara optimal dan indikasi penggunaannya untuk mendukung proses penyembuhan jaringan.</p>
      <p id="_paragraph-30">Kegiatan workshop diakhiri dengan sesi diskusi kasus klinis yang interaktif, di mana peserta diberi kesempatan untuk membahas beberapa kasus nyata berdasarkan pengalaman klinis masing-masing. Evaluasi pelatihan dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman dan keterampilan teknis peserta setelah mengikuti kegiatan ini. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan terjadi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut, khususnya dalam penanganan penyakit periodontal dengan pendekatan konservatif dan komprehensif.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-9805f1cddb6e5fa8c5246496324251e8">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-31">Pelatihan yang diberikan kepada peserta menunjukkan dampak signifikan dalam peningkatan pengetahuan terkait penanganan kegawatdaruratan periodontal. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan skor rata-rata pre-test sebesar 55% menjadi 85% pada post-test. Peningkatan ini mencerminkan efektivitas metode pembelajaran aktif, termasuk demonstrasi dan diskusi kasus, dalam mentransfer pengetahuan klinis secara efisien. Pendidikan berbasis praktik terbukti meningkatkan retensi informasi dan kesiapsiagaan peserta dalam menghadapi situasi klinis yang mendesak (Chen et al., 2020).</p>
      <p id="_paragraph-32">Salah satu komponen pelatihan yang mendapatkan respon positif adalah demonstrasi teknik <italic id="_italic-31">splinting</italic> sederhana. Peserta menilai bahwa prosedur ini tidak hanya mudah diterapkan dalam praktik sehari-hari, tetapi juga tidak memerlukan alat atau biaya yang tinggi. Teknik ini bermanfaat dalam mempertahankan gigi yang mengalami mobilitas akibat trauma atau penyakit periodontal akut, terutama di fasilitas kesehatan primer. Menurut penelitian terbaru, <italic id="_italic-32">splinting</italic> sederhana dapat meningkatkan stabilitas periodontal dan kenyamanan pasien (Patel &amp; Shah, 2021).</p>
      <fig id="figure-panel-b1a2e1bb4d1120839e2ab8620e45dafc">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title><bold id="bold-d273dd16de116f02fe20719aea510539">Gambar 1.</bold> Demonstrasi Teknik <italic id="italic-504751b21ead7fe5f42af3478d87eb6c">Splinting</italic> Sederhana</title>
          <p id="paragraph-f7f4195d4195f4c253f224f6d10c5467" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-58626bc3432a785a9ef45de39b616533" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="Screenshot 2025-06-07 215104.png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-34">Penggunaan chlorhexidine gel 0.12% juga diperkenalkan sebagai bagian dari tata laksana suportif pasca-trauma periodontal. Penggunaan agen antimikroba ini terbukti efektif dalam mengurangi gejala inflamasi dan nyeri, terutama pada kasus periodontitis akut. Studi terkini menunjukkan bahwa aplikasi topikal chlorhexidine dalam bentuk gel memberikan efek antimikroba lokal yang lebih tahan lama dibandingkan bentuk larutan kumur, dengan risiko iritasi mukosa yang lebih rendah (Sanz et al., 2020; Alshibani et al., 2022).</p>
      <p id="_paragraph-35">Selain keterampilan teknis, diskusi kasus menjadi bagian integral dalam pelatihan. Diskusi ini menekankan pentingnya kolaborasi antara dokter gigi umum dan spesialis periodonsia dalam merespons kasus kegawatdaruratan periodontal. Penanganan yang cepat dan tepat memerlukan komunikasi yang efektif antar-profesi untuk memastikan pasien mendapatkan perawatan komprehensif. Kajian oleh Elangovan et al. (2021) menunjukkan bahwa model kolaboratif dalam praktik kedokteran gigi meningkatkan hasil klinis serta efisiensi dalam pengelolaan kasus kompleks.</p>
      <fig id="figure-panel-3d08b593ba88e729d6cf160a8658742c">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <title><bold id="bold-db0f794539c4900a5042b7254f37f385">Gambar </bold><bold id="bold-3bca52bb08c3cf4cd1390f04fc220239">2.</bold> Diskusi Kasus Antara Peserta Dan Narasumber</title>
          <p id="paragraph-6645499d2ff7c0381a1e007fc22b8c3f" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-7d3662c460d8be2332180fc59be2748d" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="Screenshot 2025-06-07 215144.png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-37">Dengan demikian, program pelatihan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis peserta tetapi juga memperkuat aspek interprofesional dalam pelayanan kesehatan gigi. Ke depan, penting untuk mengintegrasikan modul-modul serupa dalam program pendidikan berkelanjutan guna meningkatkan kesiapan tenaga kesehatan dalam menangani kondisi periodontal akut. Evaluasi jangka panjang juga perlu dilakukan untuk menilai dampak pelatihan terhadap praktik klinis dan hasil pasien secara nyata (Müller et al., 2023).</p>
    </sec>
    <sec id="heading-f4ea8d82d8218c0b27279a4a03270350">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-38">Workshop pelatihan penanganan mobilitas gigi di RS Muhammadiyah Malang berhasil meningkatkan kompetensi dokter gigi dalam menangani kasus kegawatdaruratan periodontal, khususnya melalui prosedur <italic id="_italic-34">splinting</italic> dan penggunaan <italic id="_italic-35">chlorhexidine</italic> sebagai terapi suportif. Pelatihan ini terbukti efektif, ditunjukkan oleh peningkatan signifikan skor pre-test dan post-test peserta. Metode pembelajaran yang bersifat praktis dan interaktif, seperti demonstrasi dan diskusi kasus, memberikan dampak positif terhadap penguasaan keterampilan klinis dan kesiapan menghadapi situasi darurat. Selain meningkatkan keterampilan teknis, pelatihan ini juga mendorong kolaborasi antar-profesi dalam penanganan kasus kompleks. Keberhasilan kegiatan ini menegaskan pentingnya integrasi pelatihan serupa dalam program pendidikan berkelanjutan guna memperkuat kualitas pelayanan kesehatan gigi di tingkat primer dan mendukung tridarma perguruan tinggi.</p>
      <p id="paragraph-57dabcf7e50d8fd4bfcc9931b2c50b88" />
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>