Abstract

The aim of carrying out this service is specifically in the mountain tourism industry and the manufacture of Samiler crackers in Kedungudi, micro businesses are enhanced by empowerment. The service method used is to increase added value, product and process development to encourage innovation in the process of making Samiler crackers. identify and create attractive and sustainable mountain tourism packages. This dedication produces micro-entrepreneurs who have greater capacity and better skills in management, production and marketing. And the resulting essence in the form of environmental destruction prioritizes sustainable product practices in production and mountain tourism, maintaining the balance of the local ecosystem. disturb the environment maintain the balance of the local ecosystem by using sustainable products when creating and developing mountain tourism.

Highlights:

  • Enhancing micro-businesses in Kedungudi through value addition and product development for Samiler crackers.
  • Empowering micro-entrepreneurs with improved management, production, and marketing skills in the mountain tourism industry.
  • Prioritizing sustainable practices to prevent environmental degradation and maintain the local ecosystem's balance in both product manufacturing and mountain tourism development.

Keywords: Mountain Tourism, Samiler, Micro Business

Pendahuluan

Pemandangan pegunungan Kedungudi yang menakjubkan menjadi latar belakang narasi ganda antara berkembangnya pariwisata pegunungan dan usaha mikro kerupuk Samiler yang berkelanjutan. Ketika masyarakat mulai memanfaatkan jalur ekonomi ini, maka perlu adanya pemahaman holistik mengenai pertemuan kedua perusahaan ini dalam tatanan sosial budaya di Kedungudi. Studi ini bertujuan untuk memberikan eksplorasi yang berbeda mengenai lintasan perkembangan dan keterhubungan kedua perusahaan ini dalam masyarakat [1].

Dengan menggabungkan domain ekowisata dan keberlanjutan usaha mikro, pengabdian ini bertujuan untuk menemukan landasan ilmiah munculnya daya tarik wisata pegunungan dan usaha mikro berkelanjutan kerupuk Samiler, yang terjalin dalam narasi pemberdayaan desa [2].

Dalam literatur masa lalu, orang tahu bahwa wisata pegunungan dan usaha mikro penting untuk pembangunan berkelanjutan [3]. Namun sintesis tema-tema ini dalam konteks Kedungudi masih belum banyak dieksplorasi. Pengabdian sebelumnya berfokus pada aspek individual, baik menyoroti potensi ekonomi wisata pegunungan atau menjelaskan strategi keberlanjutan usaha mikro [4]. Oleh karena itu, pengabdian ini memposisikan diri sebagai ikhtiar khusus, mensintesis [5].

Kebaruan ilmiah dari pengabdian ini terletak pada kajian perintisnya terhadap bidang-bidang yang saling bersinggungan antara pariwisata pegunungan yang sedang berkembang dan keberlangsungan bisnis kerupuk Samiler sebagai usaha mikro di Kedungudi [6]. Dengan merangkai narasi-narasi ini, pengabdian ini berkontribusi terhadap berkembangnya wacana mengenai pembangunan masyarakat berkelanjutan, memberikan wawasan mengenai potensi sinergi dan tantangan yang muncul dari pertemuan kedua jalur ekonomi ini [7].

Sebelumnya, pengabdian telah fokus pada wisata pegunungan dan usaha mikro secara terpisah, seringkali mengabaikan interaksi dinamis antara keduanya di tempat-tempat tertentu seperti Kedungudi. Dengan melakukan analisis holistik tentang kemungkinan simbiosis antara wisata gunung dan kewirausahaan Samiler cracker, tujuan dari pengabdian ini adalah untuk mendapatkan sudut pandang yang luas tentang hubungan evolusioner yang terkait [8].

Salah satu tujuan dari pengabdian ini adalah untuk mengeksplorasi peluang yang belum dieksplorasi untuk pemberdayaan komunitas yang berkelanjutan di Kedungudi dengan melihat melalui dua lensa: pariwisata gunung dan perusahaan mikro Samiler cracker. Untuk mendorong strategi pengembangan holistik yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan lingkungan hidup dan alam, sangat penting untuk memahami keharmonisan dan tantangan dari kisah yang saling berkaitan ini [9]. Fakta-fakta yang ditemukan dalam studi ini memiliki manfaat praktis bagi mereka yang membuat undang-undang, pemimpin komunitas, dan pengusaha yang bekerja untuk membuat upaya pembangunan berkelanjutan di wilayah yang bergunung-gunung [10].

Tujuan utama dari pengabdian ini adalah untuk mengeksplorasi mendalam narasi yang saling terkait dari pariwisata gunung dan usaha mikro Samiler Cracker di Kedungudi, dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Melalui analisis yang ketat, pengabdian ini bertujuan untuk mengungkap dinamika upaya ekonomi ini, menjelaskan sinergi dan tantangan mereka. Dengan secara eksplisit merinci interaksi ini, pengabdian ini berupaya untuk menginformasikan dan memandu inisiatif di masa depan, menumbuhkan pemahaman ekonomi yang lebih dalam [11].

Metode

Untuk memulai proyek, yang disebut "Ungkap Wisata Gunung Berkembang dan Kerupuk Samiler sebagai Usaha Mikro Berkelanjutan Pemberdayaan Kedungudi", diperlukan penjelasan tentang konteks dan pentingnya kegiatan ini. Pendahuluan menggambarkan Gunung Berkembang sebagai destinasi wisata yang sedang berkembang, serta Kerupuk Samiler sebagai prospek bisnis mikro lokal di daerah Kedungudi.

Langkah pertama adalah menemukan kemungkinan dan masalah lokal terkait Gunung Berkembang dan Kerupuk Samiler. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang elemen yang dapat ditingkatkan dan hambatan yang mungkin dihadapi masyarakat, tim peneliti akan melakukan survei lapangan dan wawancara dengan penduduk setempat.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan program pemberdayaan masyarakat berdasarkan potensi dan tantangan yang ditemukan. Program ini mencakup pelatihan keterampilan, manajemen usaha, dan pengelolaan wisata. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas lokal untuk mengelola Gunung Berkembang sebagai destinasi wisata dan mengembangkan bisnis mikro Kerupuk Samiler [12].

Tim akan memimpin upaya pengembangan infrastruktur untuk mendukung pengembangan wisata dan usaha mikro. Upaya ini termasuk meningkatkan akses ke Gunung Berkembang dan fasilitas pendukung wisata, serta mendukung infrastruktur yang diperlukan untuk produksi dan distribusi Kerupuk Samiler[13]. Diharapkan peningkatan kualitas dan aksesibilitas ini akan meningkatkan daya tarik dan keberlanjutan kedua inisiatif tersebut.

Bagian penting dari kegiatan ini adalah pelatihan dan pendampingan bagi pengrajin Kerupuk Samiler [14]. Fokus dari pelatihan ini adalah meningkatkan kualitas produk, strategi pemasaran, dan manajemen bisnis. Dengan memberdayakan pengrajin, diharapkan Kerupuk Samiler dapat berkembang menjadi bisnis mikro yang berkelanjutan yang menguntungkan ekonomi lokal[15].

Langkah selanjutnya adalah membuat dan menerapkan strategi promosi dan pemasaran bersama untuk Gunung Berkembang dan Kerupuk Samiler [16]. Untuk memaksimalkan daya tarik keduanya, tim pemasaran akan membuat kampanye yang menggabungkan kelezatan Kerupuk Samiler dan keunikan wisata Gunung Berkembang [17].

Untuk proyek "Ungkap Wisata Gunung Berkembang dan Kerupuk Samiler sebagai Usaha Mikro Berkelanjutan Pemberdayaan Kedungudi", akan ada sistem pemantauan dan evaluasi berkelanjutan yang dirancang. Dampak dari upaya ekonomi, sosial, dan lingkungan akan membantu menilai keberlanjutan serta memberikan dasar untuk perbaikan dan perubahan strategi yang diperlukan seiring berjalannya waktu [18].

Hasil dan Pembahasan

Dalam upaya pemberdayaan masyarakat di Kedungudi, Gunung Berkembang menjadi destinasi wisata alam yang menakjubkan, menjadi fokus utama. Kegiatan wisata Gunung Berkembang dan produksi Kerupuk Samiler menjadi landasan bagi usaha mikro berkelanjutan yang mengembangkan potensi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat [19].

Untuk mengeksplorasi potensi keindahan alam Kedungudi, pembangunan wisata Gunung Berkembang menjadi dorongan utama. Destinasi wisata ini menciptakan lapangan kerja lokal dan peluang bisnis baru melalui pelestarian alam dan pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan.

Salah satu inovasi yang dilakukan untuk mendorong ekonomi Kedungudi adalah pembentukan bisnis mikro Kerupuk Samiler. Kerupuk Samiler, produk lokal yang dibuat dengan bahan-bahan tradisional, menjadi ikon kuliner yang dapat meningkatkan daya tarik wisata Gunung Berkembang [20]. Produksi kerupuk ini menciptakan peluang bisnis bagi masyarakat lokal dan memberi wisatawan cita rasa asli [21].

Figure 1. Pembuatan Samiler

Usaha mikro ini mendukung masyarakat Kedungudi dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan lokal serta peningkatan ekonomi [22]. Untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan, program pelatihan pembuatan kerupuk, manajemen usaha kecil, dan pemasaran produk lokal adalah langkah penting [23].

Pemasaran dan promosi produk lokal sangat penting untuk meningkatkan daya saing dan daya tarik Kerupuk Samiler [24]. Kolaborasi dengan pihak pariwisata Gunung Berkembang, pameran produk lokal, dan penggunaan media sosial adalah beberapa pendekatan yang digunakan untuk mengenalkan produk ini kepada konsumen lebih luas, termasuk wisatawan lokal dan asing [25].

Sangat penting bagi pemerintah dan lembaga pendukung untuk memastikan keberlanjutan usaha mikro di Kedungudi. Ini dapat dicapai melalui kebijakan yang mendukung usaha kecil dan pariwisata, bantuan modal, dan pelatihan keterampilan [26].

Figure 2.Penjemuran Samiler

Keberhasilan bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam manajemen dan pengembangan bisnis mikro ini [27]. Usaha mikro yang berkelanjutan dapat dibangun melalui keterlibatan masyarakat setempat dalam berbagai aspek, termasuk pengelolaan sumber daya lokal, pengambilan keputusan, dan perencanaan strategis [28].

pemantauan dan evaluasi terus-menerus dilakukan untuk mengevaluasi dampak positif dan perbaikan yang diperlukan dalam pengelolaan wisata Gunung Berkembang dan usaha mikro Kerupuk Samiler. Proses ini melibatkan partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, komunitas lokal, dan pelaku usaha mikro, untuk memastikan bahwa keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat tetap menjadi fokus utama [29].

Wisata Gunung Berkembang dan usaha mikro Kerupuk Samiler adalah contoh pemberdayaan masyarakat Kedungudi yang menunjukkan bahwa keberlanjutan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat bekerja sama dengan baik. Masyarakat dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengungkap potensi lokal, membangun keberlanjutan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat [30].

Simpulan

Hasil dari proyek "Ungkap Wisata Gunung Berkembang dan Kerupuk Samiler sebagai Usaha Mikro Berkelanjutan Pemberdayaan Kedungudi" adalah bahwa kombinasi potensi wisata Gunung Berkembang dan inovasi dalam pembuatan Kerupuk Samiler dapat menjadi pendorong utama untuk pemberdayaan ekonomi dan sosial di Kedungudi. Upaya ini menunjukkan bahwa usaha mikro yang berkelanjutan meningkatkan potensi alam lokal dan mendorong keberlanjutan usaha kecil di tingkat desa. Singkatnya, upaya ini menunjukkan bahwa pengembangan usaha mikro dan diversifikasi sumber daya dapat mendorong pemberdayaan ekonomi Kedungudi. Produksi kerupuk Samiler dan wisata Gunung Berkembang adalah contoh bagaimana praktik berkelanjutan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, menjaga warisan alam dan budaya lokal, dan menghasilkan dampak positif yang berkelanjutan.

References

  1. I. K. Arnawa and N. P. Pandawani, "Pemberdayaan Masyarakat Desa Baha Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung dalam Bidang Pengelolaan Sampah." 2019. [Online]. Available: https://lens.org/055-357-287-945-818
  2. P. D. Rahma, "Pengembangan Desa Wisata Ngadas Berbasis Masyarakat." 2013. [Online]. Available: https://lens.org/090-265-603-072-299
  3. S. Aryanto, S. Sudaryanto, and S. Setyadi, "Perancangan Aplikasi Pengenalan Desa Wisata Gunung Kidul Berbasis Augmented Reality," Format J. Ilm. Tek. Inform., vol. 12, no. 1, p. 43, 2023, doi: 10.22441/format.2023.v12.i1.006.
  4. R. Zulkarnain, "Strategi Pemasaran Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Batik Corak Asli Banten," J. Manaj. dan Retail, vol. 2, no. 2, pp. 202–214, Sep. 2022, doi: 10.47080/jumerita.v2i02.2254.
  5. F. A. Lestari, E. Sasanti, and A. B. Suryantara, "Implementasi Akuntansi pada Unit Usaha Mikro Kecil Menengah Berbasis SAK EMKM (Studi pada UMKM Kota Mataram)," J. Ris. Mhs. Akunt., vol. 2, no. 1, pp. 155–165, 2022, doi: 10.29303/risma.v2i1.192.
  6. D. Hermawan, A. Hardianto, and A. R. Fadhillah, "Perbaikan Kemasan Kerupuk Singkong (Samiler) di UKM Karya Lestari Jaya Tulungagung," JAST J. Apl. Sains dan Teknol., vol. 4, no. 1, pp. 9–17, 2020, doi: 10.33366/jast.v4i1.1473.
  7. R. R. Resya, "Perspektif Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah dalam Penggunaan Financial Technology di Kota Padang." 2018. [Online]. Available: https://lens.org/111-980-915-289-131
  8. A. Andy, "Motivasi Berkunjung pada Dark Tourism: Kawasan Wisata Gunung Merapi Yogyakarta." Sep. 2019. [Online]. Available: https://lens.org/067-837-046-877-445
  9. A. Jufri, S. Qomariah, and null Ashlihah, "Pengaruh Motivasi, Kompensasi dan Lingkungan Kerja terhadap Kepuasan Kerja Pegawai pada Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Jombang," JPEKBM (Jurnal Pendidik. Ekon. Kewirausahaan, Bisnis dan Manajemen), vol. 2, no. 2, pp. 1–16, 2019, doi: 10.32682/jpekbm.v2i2.949.
  10. Z. Latifatul, N. Khairany, E. Rohmawati, I. Fakhra, and N. Damar, "Pendampingan Desa Wisata Gunung Wangi Bangkel melalui Pengembangan Psikoedukasi Berupa Pelatihan dan Penyuluhan." 2019. [Online]. Available: https://lens.org/105-124-582-126-414
  11. A. A. Pratama, "Valuasi Ekonomi Pariwisata dengan Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost Method) di Pantai Ngliambor Gunung Kidul." 2016. [Online]. Available: https://lens.org/036-825-428-399-845
  12. E. Siswati and R. Alfiansyah, "Keunggulan Bersaing UMKM Kuliner Berbasis Inovasi (Studi pada UMKM Keripik Samiler Kasper di Sidoarjo)," IDEI J. Ekon. Bisnis, vol. 1, no. 2, pp. 84–90, 2020, doi: 10.38076/ideijeb.v1i2.18.
  13. S. S. Pratiwi, P. P. Anzari, and D. S. Rozakiyah, "Strategi Penjualan Kerupuk Samiler Milernial dengan Aplikasi E-commerce," Berdikari J. Inov. dan Penerapan Ipteks, vol. 10, no. 1, pp. 17–27, 2022, doi: 10.18196/berdikari.v10i1.12552.
  14. E. Setyariningsih and B. Utami, "Strategi Pemasaran Melalui Media Sosilal pada UKM Samiler Maju Jaya Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto." 2020. [Online]. Available: https://lens.org/155-468-493-304-402
  15. F. E. Aprilla, R. Yuniarti, and W. Azlia, "Analisis Risiko pada UKM Lina Samiler dengan Pendekatan Sustainability menggunakan Metode House of Risk." 2021. [Online]. Available: https://lens.org/106-531-855-778-106
  16. S. D. Hermawan, N. R. Ismail, and A. R. Fadhillah, "Inovasi Proses Steamer Kerupuk Singkong (Samiler) dalam Peningkatan Produktivitas di UKM Karya Lestari Jaya." 2018. [Online]. Available: https://lens.org/082-630-311-289-86X
  17. S. B. Sartika, A. D. Kenda, R. M. S. Huda, A. M. Rohmi, and I. D. Aprillia, "Edukasi dan Pendampingan Kegiatan Produksi Samiler dalam Upaya Meningkatkan Mutu Produksi dan Pemasaran Digital," Abdimas Galuh, vol. 5, no. 1, p. 680, 2023, doi: 10.25157/ag.v5i1.10005.
  18. S. P. Hadi, "Valuasi Ekonomi Objek Wisata Gunung Banyak di Kota Batu dengan Pendekatan Individual Travel Cost." 2015. [Online]. Available: https://lens.org/081-437-104-793-712
  19. A. D. Mustari, "Analisis Usaha Mikro Kecil Menengah dalam Permintaan Tenaga Kerja di Kota Makassar." 2017. [Online]. Available: https://lens.org/132-439-197-985-824
  20. K. B. Hastono and R. A. E. Jusnita, "Penerapan Manajemen Produktif pada Usaha Krupuk Samiler." 2018. [Online]. Available: https://lens.org/140-405-348-658-244
  21. A. Rijanto and S. Rahayuningsih, "Pelatihan dan Pendampingan Pengusaha Mikro Krupuk Samiler dalam Upaya Meningkatkan Pengetahuan Pengelolaan Usaha Mikro." Sep. 2019. [Online]. Available: https://lens.org/112-154-710-489-983
  22. H. Kustanto and R. Pratiwi, "Efektivitas Peningkatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) melalui Izin Usaha Berbasis Online di Kota Semarang." 2019. [Online]. Available: https://lens.org/038-228-516-922-55X
  23. I. Pradana and R. Watiasih, "Pelatihan Pemasaran Keripik Samiler menggunakan Media Online." Nov. 2020. [Online]. Available: https://lens.org/196-911-011-052-590
  24. I. Pradana and R. Watiasih, "Pelatihan Pemasaran Keripik Samiler menggunakan Media Online," Bantenese J. Pengabdi. Masy., vol. 2, no. 2, pp. 130–139, 2020, doi: 10.30656/ps2pm.v2i2.2220.
  25. M. S. Dewi, "Profil dan Kajian Nilai Ekonomi Wisatawan Asing di Obyek Wisata Alam Bukitlawang, Taman Nasional Gunung Leuser, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat." 2011. [Online]. Available: https://lens.org/139-185-440-940-261
  26. H. Rofiudin, "Pengaruh Investasi dan Jumlah Unit Usaha terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Kota Batu." 2015. [Online]. Available: https://lens.org/174-840-523-546-144
  27. A. S. N. Savitri, A. U. A. Al Umar, A. Fitriani, M. T. L. Mustofa, and Y. N. Arinta, "Dampak dan Strategi Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Masa Pandemi dan Era New Normal." Nov. 2020. [Online]. Available: https://lens.org/005-524-889-397-531
  28. N. H. Alfi, "Penerapan Pencatatan Keuangan dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Studi Kasus pada UD Keyza Collection di Surabaya)." 2013. [Online]. Available: https://lens.org/145-247-879-234-652
  29. I. Gustina, "Strategi Pengembangan Wisata Berbasis Masyarakat di Kawasan Gunung Bunder Taman Nasional." 2016. [Online]. Available: https://lens.org/194-398-844-012-342
  30. Z. Khairani, F. Kamilah, and E. Soviyanti, "Potensi Kewirausahaan pada Pelaku Usaha Mikro Kecil di Kota Pekanbaru." 2021. [Online]. Available: https://lens.org/117-156-349-888-668