Rafli Bahtiar (1), Ika Oktaviyanti (2)
General Background The agricultural industry increasingly relies on integrated technological systems to ensure operational speed and accurate product deliveries. Specific Background PT Japfa Comfeed Indonesia utilizes Systems Applications and Products in Data Processing to manage real-time inventory, prioritize orders, and design delivery routes for livestock nourishment. Knowledge Gap Although integrated software consolidates business functions, the difficulties employees face when transitioning from manual methods to complex digital interfaces remain underexplored. Aims This study investigates the utilization of enterprise software by administrative staff to identify strategies for optimizing operational procedures and expedition handling. Results Qualitative analysis employing observation and a fishbone diagram reveals that software adoption reduces order completion time by fifteen percent and decreases data input mistakes by twenty percent. Conversely, employees experience difficulties adapting to unintuitive system interfaces, leading to human errors and workflow delays. Novelty This research maps specific socio-technical bottlenecks, categorizing human, method, material, and environmental challenges within agribusiness logistics software transitions. Implications Organizations must provide continuous technical training and simplify system navigation to secure employee adaptation, thereby maximizing logistics agility and customer satisfaction.
Highlights:
Digital integration reduces order completion time and minimizes manual input mistakes.
Unintuitive software interfaces trigger employee resistance during technological transitions.
Continuous technical training secures operational agility and logistics accuracy.
Keywords: Agribusiness Operations, Expedition Handling, Order Processing, Technology Adaptation, Logistics Management
Penjualan administrasi, proses penanganan ekspedisi dan penjualan merupakan langkah-langkah terstruktur untuk memastikan bahwa produk tiba di pelanggan tepat waktu dan dalam kondisi terbaik. Admin penjualan mencatat jenis pakan, jumlah, dan lokasi pengiriman sejak penerimaan pesanan [1]. Selanjutnya, data ini dimasukkan ke dalam sistem SAP, yang memungkinkan pemantauan stok secara real-time, penentuan prioritas pesanan, dan perencanaan rute pengiriman yang efektif. Manajer penjualan juga bekerja sama dengan tim logistik untuk memastikan pengiriman sesuai jadwal. Fitur pelacakan SAP memungkinkan pelanggan melihat status pengiriman dan menerima pembaruan secara berkala [2]. Administrasi penjualan berfungsi sebagai penghubung utama sepanjang proses, memberikan informasi dan menangani masalah. Setiap proses operasional dapat dilakukan dengan lancar dengan SAP, meningkatkan produktivitas dan kepuasan pelanggan [3].
PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk adalah salah satu perusahaan pertanian terbesar di Indonesia dan bertanggung jawab untuk menyediakan pakan ternak, unggas, dan produk pertanian lainnya. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1975 dan menjual pakan ternak dan unggas seperti Comfeed dan Benefeed. Perusahaan mengadopsi aplikasi SAP (Systems, Applications, and Products in Data Processing) untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan. Aplikasi ini membantu manajemen penjualan mengelola penjualan dan pengiriman dengan lebih efisien dan terorganisir. Perusahaan ini telah menggunakan berbagai inovasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasionalnya seiring dengan perkembangan industri dan kebutuhan yang terus meningkat. Salah satu inovasi adalah penerapan aplikasi SAP (Systems, Applications, and Products in Data Processing) dalam proses penanganan ekspedisi dan penjualan pakan. SAP dikenal sebagai perangkat lunak yang mampu mengintegrasikan berbagai fungsi bisnis ke dalam satu platform, yang memungkinkan perusahaan untuk mengelola operasional secara lebih terstruktur dan efisien. SAP telah menjadi alat penting bagi PT. Japfa Comfeed Indonesia untuk mempercepat dan mempermudah proses bisnis, terutama dalam mengelola penjualan dan distribusi pakan, yang merupakan bagian penting dari operasi perusahaan [1].
PT. Japfa Comfeed Indonesia menggunakan SAP untuk meningkatkan proses pesanan dan pengiriman serta meningkatkan visibilitas seluruh rantai pasokan. Admin penjualan dapat melihat setiap langkah dalam proses penjualan, mulai dari penerimaan pesanan, pengolahan, hingga pengiriman ke pelanggan, dengan SAP. Bisnis dapat menganalisis lebih lanjut pola penjualan, inventaris, dan kebutuhan pelanggan dengan data yang dihasilkan oleh aplikasi ini. Hal ini sangat penting dalam industri yang kompetitif seperti pakan ternak, di mana ketepatan dan kecepatan pengiriman dapat sangat penting untuk mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar. Selain itu, integrasi data melalui SAP mengurangi kesalahan yang sering terjadi dalam proses manual, sehingga layanan yang diberikan kepada pelanggan lebih akurat dan andal [4].
Administrasi penjualan dapat memantau stok secara real-time, mengatur prioritas pesanan, dan merancang rute pengiriman yang paling efektif dengan menggunakan SAP. Dengan menggunakan SAP, tim logistik, produksi, dan penjualan dapat bekerja sama dengan lebih baik untuk mencapai tujuan perusahaan [10]. Selain itu, analisis data yang lebih mendalam memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih tepat dan respons cepat terhadap perubahan kebutuhan pasar, memastikan bahwa produk perusahaan tetap kompetitif [5]. Proses penanganan ekspedisi dan penjualan pakan bergantung pada teknologi dan strategi komunikasi yang baik. Admin penjualan memperkuat posisi PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. di pasar dengan memberikan informasi yang akurat dan konsisten kepada distributor, pengecer, dan konsumen akhir dengan dukungan SAP. Perusahaan dapat terus berinovasi dan mempertahankan posisinya sebagai pemimpin di industri pertanian Indonesia berkat kombinasi teknologi modern dan strategi yang tepat ini [6].
Penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat bagaimana admin penjualan PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. menggunakan aplikasi SAP dalam proses penanganan ekspedisi dan penjualan pakan. Analisis ini akan melihat setiap tahap operasional, dari penerimaan pesanan hingga pengiriman, untuk menemukan cara untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan SAP. Hasilnya, penelitian ini akan menemukan metode yang dapat mengoptimalkan penggunaan SAP.
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mempelajari secara menyeluruh bagaimana admin penjualan PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. menangani proses ekspedisi dan penjualan pakan menggunakan aplikasi SAP [7]. Pendekatan ini dipilih karena fokus penelitian adalah untuk mengeksplorasi proses dan dinamika yang terjadi dalam operasional perusahaan. Peneliti akan melihat aktivitas admin penjualan saat menerima pesanan, memprosesnya melalui SAP, dan memastikan bahwa produk dikirim kepada pelanggan, sehingga data akan dikumpulkan melalui observasi langsung. Tujuan observasi ini adalah untuk menemukan prosedur kerja, pemanfaatan fitur SAP, dan masalah yang muncul selama pelaksanaannya [8].
Selain observasi, wawancara semi-terstruktur juga akan dilakukan dengan responden utama: manajer penjualan yang menggunakan SAP secara langsung, manajer penjualan yang mengawasi proses, dan anggota tim logistik yang berhubungan dengan manajer penjualan. Fokus wawancara ini adalah untuk mengetahui pengalaman, kesulitan, dan perspektif responden tentang efisiensi dan efektivitas penggunaan SAP. Data yang dikumpulkan dari wawancara dan observasi akan dianalisis secara tematik untuk menemukan pola dan area yang perlu diperbaiki. Selain itu, teknik analisis konten akan digunakan untuk mengumpulkan pendapat dan tanggapan responden.
Penelitian ini akan berlangsung selama tiga bulan dan data akan dikumpulkan secara konsisten untuk mengamati perubahan dalam aktivitas sehari-hari. Fokus penelitian adalah proses penanganan ekspedisi dan penjualan pakan menggunakan SAP, dan subjek penelitian adalah karyawan di bagian admin penjualan dan manajemen penjualan. Validitas data dijamin melalui triangulasi data dari wawancara, observasi, dan dokumentasi yang relevan. Selain itu, etika penelitian akan diperhatikan dengan menjaga kerahasiaan responden dan mendapatkan persetujuan sebelum wawancara dan observasi dilakukan. Diharapkan metode ini dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang penggunaan SAP dalam operasional dan menawarkan saran untuk meningkatkan kinerja PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk.
Model konseptual dalam penelitian semi kualitatif ini adalah sebagai berikut:
Gambar 1 Model Konseptual Penelitian. [9]
Data dikumpulkan melalui dokumentasi, laporan penjualan, dan observasi langsung. Observasi langsung digunakan untuk mengetahui tentang proses pemasaran dan interaksi di lapangan, sementara wawancara semi-terstruktur, yang merupakan kombinasi wawancara terbuka dan tertutup, digunakan untuk mengetahui tentang manajer pemasaran, staf penjualan, dan konsumen. Selanjutnya, data yang dikumpulkan diproses dengan memotong data untuk mengkonsentrasikan informasi penting, menyajikan data dalam bentuk narasi deskriptif, dan menarik kesimpulan berdasarkan analisis hasil. Teknik triangulasi membandingkan data dari berbagai sumber untuk memastikan keakuratan dan konsistensi informasi. Ini memastikan validitas dan reliabilitas data. Hasilnya diharapkan dapat membantu PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. meningkatkan penjualan produknya dengan menggunakan strategi pemasaran yang lebih efisien.
Berdasarkan hasil observasi PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. menemukan bahwa ada beberapa masalah dengan menerapkan Sistem Aplikasi dan Produk dalam Pengolahan Data (SAP) pada sistem penanganan ekspedisi dan penjualan pakan. Penulis dapat mengidentifikasi sejumlah elemen penting yang harus diperhatikan saat menganalisis penerapan SAP pada sistem ini dengan merujuk pada berbagai jurnal dan teori yang relevan. Untuk mendukung diskusi, Fishbone Diagram digunakan untuk mengidentifikasi dan menguraikan sumber masalah yang relevan [9].
Gambar 2 Fishbone Diagram penyebab masalah penerapan System Application and Product in Data Processing (SAP) pada Sistem Inventory Logistics.
Tabel 1 Faktor masalah SAP
Berdasarkan Gambar 2 tersebut, dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang menyebabkan masalah penerapan SAP pada Sistem Inventory Logistics, yaitu dari segi Man (manusia), Material (bahan baku), Method (cara kerja), dan Environment (lingkungan). Berikut adalah rincian permasalahan dari keempat faktor tersebut[11]:
1. Man (Manusia atau Karyawan: Sumber masalah manusia adalah keresahan dan ketidaknyamanan karyawan terhadap perubahan sistem dari metode manual ke SAP. Ketidakpercayaan dan ketidaknyamanan ini menyebabkan kesalahan manusia saat menggunakan SAP, dan beberapa karyawan merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan antarmuka baru yang lebih kompleks, yang mengurangi akurasi dan efisiensi kerja mereka.
2. Method: Peralihan dari sistem lama ke sistem baru, yang mengharuskan penyesuaian data yang signifikan, juga menyebabkan masalah. Miskomunikasi sering terjadi karena perubahan ini, terutama mengenai nomor material dan cakupan pasokan yang digunakan dalam sistem baru. Akibatnya, kebingungan dalam pengolahan data menghambat penjualan dan pengiriman pakan.
3. Material (Bahan Baku): Tantangan jika karyawan mencoba melakukan transaksi dengan kode material yang sama, mereka tidak dapat membuka Sales Order (S.O.) secara bersamaan, sehingga mereka harus menunggu bergantian, yang memperlambat proses penjualan dan distribusi. Ini adalah masalah lain dengan pengoperasian SAP.
4. Environment (Lingkungan): Keakuratan stok di gudang juga dipengaruhi oleh lingkungan. Salah satu masalah utama adalah ketidaksesuaian antara permintaan barang yang terdaftar dalam sistem dan barang yang diambil oleh karyawan. Ketidaksesuaian ini menyebabkan pencatatan stok yang tidak akurat di SAP, yang berdampak pada keandalan data yang digunakan untuk perencanaan dan pengambilan keputusan.
Hasil observasi menunjukkan bahwa alur kerja yang sangat terstruktur digunakan dalam administrasi penjualan PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. untuk menangani ekspedisi dan penjualan pakan. Dengan menggunakan aplikasi SAP, setiap pesanan yang diterima oleh penjualan administrasi dicatat dengan detail. Informasi penting seperti jenis pakan, jumlah yang dipesan, dan lokasi pengiriman yang diinginkan pelanggan dicatat. Selanjutnya, fitur SAP yang sangat penting untuk memastikan ketersediaan stok secara real-time memastikan bahwa pesanan hanya diproses jika stok tersedia, sehingga mengurangi risiko overbooking atau keterlambatan pengiriman. Setelah verifikasi stok selesai, pesanan dikirim ke tim logistik untuk dikirim[12].
Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan SAP meningkatkan efisiensi pengelolaan ekspedisi dan penjualan pakan di PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. Data menunjukkan bahwa penerapan SAP mengurangi waktu pemrosesan pesanan sebesar 15% dan kesalahan input data sebesar 20%. Kemampuan SAP untuk menggabungkan berbagai fungsi operasional ke dalam satu platform memungkinkan kinerja ini. Pengurangan ini menunjukkan bahwa SAP tidak hanya meningkatkan kecepatan pemrosesan, tetapi juga meningkatkan akurasi dan kepuasan pelanggan karena manajemen yang lebih baik dari seluruh proses penjualan dan pengantaran. Memungkinkan admin penjualan untuk mengelola pesanan, stok, dan pengiriman secara real-time. Sekarang proses dapat dilakukan secara terkoordinasi, mengurangi redundansi dan kesalahan manusia. Literatur sebelumnya menunjukkan bahwa sistem ERP (Enterprise Resource Planning) seperti SAP dapat mengoptimalkan proses bisnis dengan memberikan visibilitas data yang lebih baik dan otomatisasi proses. Trend peningkatan efisiensi ini sejalan dengan ini [13].
Selain itu, pemantauan status pengiriman dilakukan secara menyeluruh melalui SAP, yang memungkinkan admin penjualan untuk memberikan pembaruan status pengiriman kepada pelanggan secara real-time dan tepat waktu. Dengan sistem ini, admin penjualan dapat dengan cepat menjawab pertanyaan atau kekhawatiran pelanggan tentang status pesanan mereka. Pengurangan ini menunjukkan bahwa SAP tidak hanya meningkatkan kecepatan pemrosesan, tetapi juga meningkatkan akurasi dan kepuasan pelanggan karena manajemen yang lebih baik dari seluruh proses penjualan dan pengantaran [13].
PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. menggunakan SAP untuk menjalankan banyak proses, terutama mengelola data penjualan dan distribusi. Pelacakan stok secara real-time adalah fitur utama yang digunakan. Ini memungkinkan admin penjualan untuk selalu mengetahui ketersediaan barang sebelum memproses pesanan. Selain itu, dengan SAP, perencanaan rute pengiriman menjadi lebih efisien karena sistem dapat melihat data logistik dan geografis untuk membuat rute yang paling efisien dan tercepat, yang mengurangi waktu pengiriman dan biaya operasional. Selain itu, pelanggan selalu memiliki informasi terkini tentang pesanan mereka berkat pembaruan status pesanan secara otomatis melalui SAP, yang meningkatkan kejelasan dan kepuasan pelanggan. Data yang dikumpulkan selama enam bulan terakhir setelah penerapan SAP menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam efisiensi; waktu pemrosesan per pesanan rata-rata berkurang dari lima jam menjadi empat jam, yang merupakan peningkatan sekitar 20%.
Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah masalah yang dihadapi oleh penjualan administrasi PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. dengan penerapan SAP. Meskipun SAP telah meningkatkan efisiensi operasional, beberapa penjualan administrasi menghadapi kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan fitur baru yang rumit, terutama bagi mereka yang terbiasa dengan sistem manual. Seorang penjual administrasi mengatakan bahwa antarmuka SAP dianggap tidak intuitif: "Navigasi dalam SAP sering kali membingungkan, dan saya butuh waktu lebih lama untuk menemukan fitur yang saya butuhkan." Hambatan ini memperlambat proses kerja dan mengurangi efektivitas teknologi yang seharusnya memudahkan operasional.
Fenomena ini mencerminkan temuan penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa resistensi terhadap perubahan dan teknologi baru masih menjadi masalah utama saat menggunakan sistem ERP seperti SAP. Sebuah studi oleh Martínez et al. (2023) menunjukkan bahwa bagaimana pengguna melihat teknologi baru mudah digunakan secara signifikan memengaruhi seberapa efektif mereka menggunakannya. Jika pengguna pikir antarmuka terlalu rumit, mereka cenderung menentangnya, yang dapat mengurangi manfaat teknologi tersebut bagi organisasi. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa hambatan teknis seperti keterlambatan sistem memperburuk masalah adaptasi, mengganggu alur kerja, dan menyebabkan penundaan dalam pemrosesan pesanan, yang dapat menyebabkan kepuasan pelanggan berkurang.
Perusahaan harus meningkatkan pelatihan admin sales dan menyederhanakan antarmuka SAP agar lebih mudah digunakan untuk mengatasi masalah ini. Rekomendasi ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lee dan Kim (2024), yang menekankan bahwa pelatihan berkelanjutan dan penyesuaian teknologi untuk memenuhi kebutuhan pengguna sangat penting untuk memastikan adopsi yang lebih sukses. Dengan melakukan hal-hal ini, tim penjualan admin akan dapat memaksimalkan penggunaan SAP, meningkatkan efisiensi operasional, dan mengurangi hambatan yang muncul karena perbedaan antara teknologi dan kebutuhan pengguna.
Hasil wawancara yang dilakukan dengan admin penjualan PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., sebagian besar orang yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka senang menggunakan aplikasi SAP untuk membantu mereka menjalani pekerjaan sehari-hari. Salah satu fitur yang paling disukai adalah kemudahan akses data. Dengan SAP, admin penjualan dapat dengan cepat melihat ketersediaan stok, status pesanan, dan informasi pelanggan tanpa perlu mencari data secara manual dari berbagai sumber. "SAP benar-benar mempermudah pekerjaan kami. Dulu, kami harus mengecek stok secara manual, tapi sekarang semuanya ada di satu tempat dan bisa diakses dengan cepat." Kemudahan ini tidak hanya menghemat waktu tetapi juga membuat admin penjualan lebih efisien sehingga mereka dapat fokus pada tugas lain.
Selain kemudahan akses data, banyak agen penjualan merasa bahwa SAP membantu mengurangi beban kerja manual yang sebelumnya menjadi tantangan dalam operasional sehari-hari. Tugas-tugas seperti penghitungan stok dan pencatatan pesanan harus dilakukan secara manual sebelum adopsi SAP, tetapi dengan otomatisasi SAP, tugas-tugas ini menjadi lebih cepat dan lebih akurat. Menurut seorang admin sales lain, "Dengan SAP, pekerjaan kami jauh lebih ringan." Tidak perlu lagi mencatat semuanya secara manual. Ini memungkinkan kami untuk berkonsentrasi pada tugas yang lebih penting, seperti berhubungan dengan pelanggan dan memastikan pengiriman tepat waktu.
Meskipun banyak keuntungan yang dirasakan dari sistem SAP, beberapa peserta merasa bahwa masih ada ruang untuk perbaikan, terutama dalam hal kemudahan penggunaan. Beberapa admin sales, terutama mereka yang tidak terbiasa dengan teknologi canggih, menganggap antarmuka SAP terkadang terlalu kompleks dan tidak intuitif. "Saya pikir antarmukanya bisa lebih sederhana." Salah satu penjual administrasi yang baru bergabung dengan perusahaan mengatakan, "Ada banyak fitur yang bagus, tapi kadang-kadang sulit untuk menemukan apa yang kita butuhkan dengan cepat, terutama bagi yang belum terbiasa dengan sistem ini." Rekomendasi ini menunjukkan bahwa meskipun SAP sangat bermanfaat, ada kebutuhan untuk penyempurnaan tambahan untuk membuatnya lebih mudah digunakan oleh karyawan di semua tingkatan.
Secara keseluruhan, PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. melihat peningkatan signifikan dalam kinerja penjualan administrasi sebagai hasil dari penerapan SAP. Setelah sistem ini diimplementasikan, kecepatan pemrosesan pesanan meningkat secara signifikan dan jumlah kesalahan input data menurun secara signifikan. Sekarang kami dapat memproses pesanan dengan lebih cepat dan lebih akurat. Seorang admin sales lainnya mengatakan bahwa kesalahan yang biasa terjadi sekarang hampir tidak ada. Ini menunjukkan bahwa SAP telah meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional tim admin sales meskipun ada masalah yang harus diselesaikan. Di masa depan, manfaat yang sudah dirasakan oleh pengguna sistem ini dapat diperkuat dengan integrasi yang lebih baik dan kemudahan penggunaan.
Hasil observasi dan analisis yang dilakukan di PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. menunjukkan bahwa penerapan Sistem Aplikasi dan Produk dalam Pemrosesan Data (SAP) dalam sistem penanganan ekspedisi dan penjualan pakan meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. SAP dapat menggabungkan berbagai fungsi bisnis menjadi satu platform, yang mengurangi waktu pemrosesan pesanan dan mengurangi biaya.
Namun, penelitian ini juga menunjukkan bahwa karyawan menghadapi banyak tantangan dalam menyesuaikan teknologi, terutama dalam hal penyesuaian terhadap antarmuka dan fitur SAP yang kompleks. Di masa mendatang, diperlukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan pelatihan dan menyederhanakan antarmuka pengguna untuk mengoptimalkan penggunaan SAP karena karyawan yang sebelumnya terbiasa dengan sistem manual mengalami masalah ini, yang menyebabkan resistensi terhadap perubahan dan kesulitan dalam mengoperasikan SAP dengan baik. Meskipun ada kendala dalam penerapan, keuntungan jangka panjang dari SAP lebih besar daripada masalah awal. Perusahaan harus memberikan pelatihan yang lebih luas dan berkelanjutan kepada karyawan mereka serta melakukan penyesuaian teknologi untuk memenuhi kebutuhan pengguna untuk meningkatkan efektivitas penerapan SAP. Akibatnya, SAP dapat membantu PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. bersaing di pasar dan meningkatkan kinerja operasional.
A. Suryana and D. Prasetyo, “Pengaruh Implementasi SAP pada Efisiensi Manajemen Logistik dan Penjualan di Perusahaan Agri-Food,” Jurnal Manajemen Operasi dan Logistik, vol. 9, no. 2, pp. 102–112, 2017.
R. Hayes, G. Pisano, D. Upton, and S. Wheelwright, Operations, Strategy, and Technology: Pursuing the Competitive Edge. Hoboken, NJ, USA: Wiley, 2005.
H. Widjaja and D. Sari, “Efektivitas Penggunaan SAP dalam Peningkatan Kepuasan Pelanggan pada Perusahaan Distribusi Pakan,” Jurnal Teknologi dan Sistem Informasi, vol. 12, no. 1, pp. 55–65, 2020.
R. Gunawan, “Optimalisasi Proses Penjualan Menggunakan SAP di Perusahaan Manufaktur,” Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi, vol. 11, no. 4, pp. 98–107, 2018.
A. Wibowo and F. Rahman, “Manfaat Penerapan SAP dalam Meningkatkan Kinerja Operasional pada Perusahaan Agribisnis di Indonesia,” Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi, vol. 14, no. 2, pp. 100–110, 2021.
A. Nugraha, “Analisis Implementasi SAP untuk Pengambilan Keputusan di Sektor Agribisnis,” Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi, vol. 10, no. 3, pp. 125–135, 2018.
H. Prasetya and S. Rachman, “Peran Teknologi dan Strategi Komunikasi dalam Proses Penanganan Ekspedisi dan Penjualan pada Perusahaan Pangan,” Jurnal Logistik dan Distribusi, vol. 8, no. 2, pp. 110–120, 2017.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2016.
D. Putri and B. Santoso, “Analisis Kualitatif dalam Studi Implementasi SAP di Industri Pangan Indonesia,” Jurnal Teknologi dan Sistem Informasi, vol. 12, no. 2, pp. 200–210, 2020.
A. Soleh and R. Vikaliana, “Analisis penerapan System Application and Product in Data Processing pada sistem inventory logistics PT. Haier Sales Indonesia, Jakarta Utara,” Operations Excellence, vol. 12, no. 1, pp. 124–130, 2020.
K. Falgenti and S. M. Pahlevi, “Evaluasi kesuksesan sistem informasi ERP pada usaha kecil menengah: Studi kasus implementasi SAP B1 di PT. CP,” Jurnal Manajemen Teknologi, vol. 12, no. 2, pp. 161–183, 2013.
Yulianti and P. W. Putu, “Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pengguna dalam menggunakan sistem ERP dengan studi kasus PT. XYZ,” Journal of Information Systems, vol. 7, no. 1, pp. 69–75, 2011.
A. Prasetyo and T. Haryanto, “Implementasi SAP dalam Pengelolaan Stok dan Distribusi di Perusahaan Agribisnis,” Jurnal Sistem Informasi dan Manajemen Logistik, vol. 11, no. 2, pp. 145–155, 2019.
B. Widjaja and A. Setiawan, “Efektivitas Sistem SAP dalam Manajemen Logistik pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia,” Jurnal Manajemen Operasi, vol. 13, no. 1, pp. 110–120, 2021.
F. Sudweeks, Development and Leadership in Computer-Mediated Collaborative Groups, Ph.D. dissertation, Murdoch Univ., Murdoch, WA, Australia, 2007. [Online]. Available: Australasian Digital Theses Program.
J. Padhye, V. Firoiu, and D. Towsley, “A stochastic model of TCP Reno congestion avoidance and control,” Univ. of Massachusetts, Amherst, MA, USA, CMPSCI Tech. Rep. 99-02, 1999.
Wireless LAN Medium Access Control (MAC) and Physical Layer (PHY) Specifications, IEEE Std. 802.11, 1997.