Muhammad Iqbal Rusdi (1), Mas Oetarjo (2)
General Background Technological innovation serves as a primary pillar for corporate transformation, automating routine tasks and providing accurate data for organizational decisions. Specific Background PT Mustika Tembakau Indonesia experiences operational inefficiencies and productivity declines because personnel often lack clear understanding of their daily responsibilities. Knowledge Gap The recent adoption of digital systems lacks supporting operational guidelines, causing input errors and systemic confusion among users. Aims This study explores targeted administrative strategies and technological adaptations to maximize personnel output within the tobacco manufacturing sector. Results Strategic interventions involve implementing ISO 9001:2015 frameworks by formulating comprehensive operating procedures, work instructions, and customized data collection forms. Furthermore, management conducted competency mapping and delayed training programs encompassing product knowledge, 5R workspace organization, and precise system module operations. Novelty This research integrates international certification frameworks directly with localized technological software adaptation to resolve specific role ambiguities. Implications Aligning technological software with structured competency training and clear administrative guidelines ensures long-term operational efficiency and sustainable business growth.
Highlights:
Formulating detailed operating procedures clarifies daily responsibilities and resolves operational confusion.
Software implementation requires aligned administrative guidelines to prevent data input errors.
Competency mapping and targeted training align worker skills with international certification criteria.
Keywords: Enterprise Resource Planning, Standard Operating Procedures, Human Resource Management, Quality Management Standards, Personnel Competency Mapping
Di tengah dinamika pasar yang semakin kompleks dan persaingan yang kian ketat, perusahaan-perusahaan di berbagai sektor dituntut untuk terus beradaptasi dan berinovasi guna mempertahankan daya saing mereka. PT Mustika Tembakau Indonesia, sebagai salah satu entitas terkemuka dalam industri tembakau nasional, tidak terkecuali dari tantangan ini. Perusahaan ini tidak hanya harus berfokus pada kualitas produk yang dihasilkan, tetapi juga pada bagaimana meningkatkan kinerja dan produktivitas karyawan yang menjadi tulang punggung operasional sehari-hari.Inovasi teknologi telah menjadi salah satu pilar utama dalam transformasi perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penerapan teknologi yang tepat memungkinkan perusahaan untuk mengoptimalkan berbagai proses bisnis, termasuk manajemen sumber daya manusia[1]. Teknologi dapat membantu dalam mengotomatisasi tugas-tugas rutin, meningkatkan komunikasi dan kolaborasi antar tim, serta menyediakan data yang akurat untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Dalam konteks ini, PT Mustika Tembakau Indonesia menyadari bahwa inovasi teknologi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja karyawannya.
Namun, inovasi teknologi saja tidak cukup. Perusahaan perlu mengembangkan strategi yang komprehensif untuk memastikan bahwa teknologi yang diterapkan dapat memberikan manfaat maksimal. Strategi tersebut harus mencakup pelatihan dan pengembangan karyawan agar mereka dapat memanfaatkan teknologi dengan efektif, serta menciptakan budaya kerja yang mendukung kolaborasi dan inovasi. Tanpa pendekatan yang strategis, teknologi yang canggih sekalipun tidak akan mampu memberikan hasil yang diharapkan[2].
Oleh karena itu, penelitian ini akan mengeksplorasi berbagai strategi dan inovasi teknologi yang dapat diterapkan oleh PT Mustika Tembakau Indonesia untuk meningkatkan kinerja karyawan. Melalui analisis mendalam, diharapkan dapat diidentifikasi pendekatan-pendekatan yang paling efektif dalam mengoptimalkan potensi sumber daya manusia di perusahaan ini, sehingga mampu berkontribusi pada pertumbuhan dan keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang.
Budaya organisasi adalah kepribadian perusahaan yang tumbuh oleh sistem nilai yang menimbulkan norma yang mengenai perilaku yang tercermin dalam persepsi, sikap dan perilaku orang-orang yang ada dalam organisasi ataupun perusahaan[3]. Dalam perusahaan ada permasalahan yang dimana para karyawan tidak mengetahui mengenai tugas dan tanggung jawab seringkali menyebabkan kebingungan, penurunan produktivitas, dan inefisiensi dalam operasional sehari-hari. Ketika karyawan tidak memahami peran mereka dengan baik, mereka cenderung mengalami kesulitan dalam menentukan prioritas kerja, mengambil keputusan yang tepat, dan berkolaborasi secara efektif dengan rekan kerja dari departemen lain. Hal ini juga dapat mempengaruhi motivasi dan keterlibatan karyawan, karena mereka merasa kurang dihargai atau tidak memiliki arah yang jelas dalam pekerjaan mereka.
Jadi, ada strategi peningkatan kinerja yang diperlukan untuk menjaga dan merawat kinerja karyawan. Pegawai yang kinerjanya baik memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk bekerja lebih keras dan memberikan layanan yang lebih baik, sehingga mereka cenderung lebih terlibat dengan perusahaan yang mempekerjakan mereka dan lebih berkomitmen untuk memberikan layanan berkualitas tinggi.Melihat betapa pentingnya karyawan bagi organisasi, mereka harus memperhatikan lebih banyak tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan motivasi kerja yang tinggi, karyawan akan bekerja lebih keras dan hasilnya akan lebih baik.
Strategi yang baik mencakup pembagian tim kerja berdasarkan topik, pengenalan faktor pendukung yang sesuai dengan standar pelaksanaan ide secara rasional, efisiensi pendanaan, dan strategi untuk mencapai tujuan.
Dengan mempertimbangkan hal-hal ini dan dengan mengikuti himbauan dari Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, kami selaku pelaksana dan mahasiswa tertarik untuk memilih dan mengikuti praktek kerja magang di PT Mustika Tembakau Indonesia. Kami percaya bahwa dengan memilih dan mengikuti praktek kerja magang di PT Mustika Tembakau Indonesia kami akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi dan sistem kerja dilingkungan perusahaan tersebut.
Oleh karena itu, saya memiliki kemampuan untuk menjadi sumber daya manusia yang dapat diandalkan dan profesional. saya memilih tema " Strategi Dan Inovasi Teknologi Untuk Mengoptimalkan Kinerja Karyawaan di PT Mustika Tembakau Indonesia " karena saya ingin mengetahui apa yang menjadi strategi dan bagaimana inovasi teknologi yang diterapkan untuk meningkatkan kinerja karyawan di di PT Mustika Tembakau Indonesia. Saya juga berharap dapat membantu menjalankan pekerjaan pada di PT Mustika Tembakau Indonesia tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa tujuan magang sebagai berikut:
Tujuan umum magang
Tujuan umum magang adalah untuk memperoleh pengalaman praktis dalam bidang yang minat, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan di dalam bidang tersebut. Magang juga berfungsi untuk memperjelas visi karir, mengembangkan kemampuan soft skill seperti komunikasi, kerjasama, dan pengembangan diri, serta memperluas jaringan kontak. Magang juga dapat menjadi bagian dari proses pengembangan diri, yang akan membantu menjadi lebih berkembang dan mencapai tujuan karier.
Tujuan Khusus Magang
Secara spesifik, tujuan magang di PT Mustika Tembakau Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Menambah kesempatan bagi mahasiswa untuk memantapkan potensi dan rasa percaya diri.
2. Dapat memahami konsep-konsep non akadmeis didunia kerja. Magang akan memberikan pendidikan berupa etika kerja, disiplis, kerja keras professionalitas nantinya
3. Memperoleh wawasan tentang dunia kerja yang diperoleh di lapangan. Mahasiswa akan merasakan secara langsung perbedaan teori yang diperikan saat di bangku kuliah dan saat berada langsung di dunia kerja.
4. Melatih mahasiswa untuk berpikir kritis untuk menuju tujuan yang sama saat melakukan diskusi dan siap menerima arahan yang baik.
Dalam praktek kerja lapangan saya di PT Mustika Tembakau Indonesia saya menemukan beberapa permasalahan para karyawan. Untuk melakukan penelitian ini saya melakukan wawancara dengan HRD perusahaan tersebut
Gambar 1. Kegiatan wawancara dengan HRD PT Mustika Tembakau Indonesia
Beberapa studi kasus akan dibahas dalam bab ini untuk menunjukkan metode untuk meningkatkan kualitas kerja karyawan dalam perusahaan. Saya akan melihat bagai mana masalah diatasi, masalah diidentifikasi dan solusi diberikan untuk mencapai kualitas kerja karyawan, setiap kasus memberikan wawasan mendalam yang dapat digunakan sebagai inspirasi dan panduan bagi perusahaan yang ingin meningkatkan kinerja karyawan mereka. Saya menemukan masalah di PT Mustika Tembakau Indonesia. Seiring dengan dinamika saat ini, ada banyak masalah yang dapat menghambat kinerja karyawan. Diantaranya yaitu;
SOP merupakan suatu pedoman atau acuan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja insansi pemerintahan berdasarkan indikator-indikator teknis, administrative dan procedural sesuai dengan tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan[4].
PT Mustika Tembakau Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di industri tembakau dengan sejarah panjang dan reputasi yang cukup baik di pasar lokal. Seiring dengan perkembangan perusahaan dan meningkatnya permintaan produk, operasional di berbagai divisi semakin kompleks. Namun, di tengah kemajuan ini, perusahaan masih menghadapi tantangan serius terkait dengan belum tersedianya pedoman atau standar kerja yang jelas untuk karyawan di berbagai level. Hal ini menjadi perhatian utama karena standar kerja adalah fondasi penting yang menjamin konsistensi dan efisiensi dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Ketiadaan standar kerja juga berdampak signifikan terhadap kepuasan dan motivasi karyawan di PT Mustika Tembakau Indonesia. Karyawan yang tidak diberikan pedoman yang jelas merasa kurang didukung dalam pekerjaan mereka, yang dapat menyebabkan stres dan ketidakpuasan. Ketidakpastian dalam cara kerja juga membuat karyawan merasa kurang dihargai dan bingung, yang pada akhirnya dapat mengurangi tingkat loyalitas mereka terhadap perusahaan. Masalah ini menjadi lebih serius jika tidak segera ditangani, karena dapat berkontribusi pada tingkat turnover yang tinggi.
Kompetensi adalah karakteristik mendasar dari seseorang yang mengarah pada kinerja yang efektif di tempat kerja. Kompetensi didefinisikan sebagai kemampuan karyawan yang tidak hanya mampu menyelesaikan tugas, tetapi juga melebihi beban tugas untuk mencapai hasil yang unggul. Kompetensi berkaitan dengan kemampuan menambah nilai dengan melakukan pekerjaan dan tugas sebaik mungkin[5].
PT Mustika Tembakau Indonesia, sebagai salah satu pemain utama dalam industri tembakau nasional, telah mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan ini memerlukan restrukturisasi organisasi dan penambahan sumber daya manusia di berbagai divisi. Namun, dengan meningkatnya kompleksitas perusahaan, muncul masalah di mana kompetensi karyawan yang ditempatkan di berbagai jabatan tidak selalu sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Hal ini menjadi isu kritis yang harus segera diatasi untuk memastikan efektivitas operasional dan kelangsungan bisnis perusahaan. Ketidaksesuaian antara kompetensi karyawan dan jabatan yang dipikul dapat menyebabkan penurunan produktivitas perusahaan[6]. Karyawan yang tidak memiliki keterampilan atau pengetahuan yang memadai untuk melaksanakan tugasnya dengan baik akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang diharapkan. Karyawan yang merasa kompetensinya tidak sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan cenderung mengalami ketidakpuasan dalam bekerja. Mereka mungkin merasa terbebani oleh tugas-tugas yang tidak mereka kuasai.
Budaya kerja pada umumnya merupakan pernyataan filosofis, dapat difungsikan sebagai tuntutan yang mengikat para karyawan karena dapat diformulasikan secara formal dalam berbagai peraturan dan ketentuan perusahaan. Dengan membekukan budaya kerja sebagai suatu ajuan bagi ketentuan atau peraturan yang berlaku, maka para pemimpin dan karyawan secaar tidak langsung akan terikat sehingga dapat membentuk sikap dan perilaku sesuai dengan visi dan misi serta strategi perusahaan. Proses pembentukan tersebut pada akhirnya akan menghasilkan pemimpin dan karyawan professional yang mempunyai integritas yang tinggi[7].
PT Mustika Tembakau Indonesia telah mengimplementasikan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) sebagai bagian dari upaya modernisasi dan efisiensi operasional. ERP adalah alat penting yang mengintegrasikan berbagai fungsi bisnis ke dalam satu sistem yang terkoordinasi, memungkinkan perusahaan untuk mengelola sumber daya dengan lebih efektif. Namun, meskipun sistem ini sudah diadopsi, perusahaan masih menghadapi tantangan besar karena belum adanya pedoman atau standar kerja yang mendukung penggunaan ERP tersebut. Akibatnya, karyawan sering kali mengalami kesulitan dalam memanfaatkan ERP secara optimal, yang dapat menghambat efisiensi dan efektivitas operasional perusahaan[8].
Tidak adanya pedoman kerja yang mendukung penggunaan ERP menyebabkan berbagai masalah dalam operasional sehari-har. Karyawan yang tidak memiliki panduan jelas tentang cara menggunakan sistem ERP cenderung mengalami kebingungan dan melakukan kesalahan dalam proses input data atau eksekusi tugas yang seharusnya dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat. Hal ini tidak hanya memperlambat alur kerja tetapi juga meningkatkan risiko kesalahan dalam pengelolaan informasi yang krusial bagi pengambilan keputusan strategis perusahaan.
Training adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh setiap organisasi atau perusahaan dalam meningkatkan keterampilan setiap anggotanya. Tercapainya tujuan suatu perusahaan apabila diimbangi dengan sumber daya manusia yang kompeten dan bertanggungjawab serta sikap yang sesuai harapan perusahaan[9].
PT Mustika Tembakau Indonesia memiliki komitmen untuk terus meningkatkan kompetensi karyawan melalui program pelatihan yang terstruktur dan berkelanjutan. Namun, pada awal tahun 2024, beberapa pelatihan penting yang telah direncanakan belum sempat dilaksanakan karena berbagai kendala, seperti perubahan prioritas bisnis, keterbatasan sumber daya, dan kesibukan operasional yang tinggi. Keterlambatan ini mengakibatkan adanya kesenjangan dalam pengembangan keterampilan karyawan, yang dapat mempengaruhi kinerja individu maupun tim secara keseluruhan.
Ketiadaan pelatihan pada awal tahun 2024 menyebabkan beberapa karyawan tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan terbaru yang diperlukan untuk menjalankan tugas mereka dengan efisien. Akibatnya, produktivitas menurun, dan terjadi ketidakseimbangan dalam performa antar karyawan. Beberapa divisi mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi dan proses kerja yang baru diperkenalkan, yang seharusnya menjadi fokus utama dalam pelatihan tersebut. Hal ini mengakibatkan perlambatan dalam pencapaian target perusahaan dan penurunan kualitas output.
Tantangan yang telah diidentifikasi sebelumnya dapat diatasi dengan berbagai solusi strategis yang disajikan dalam bab ini. Setiap solusi disertakan dengan metode yang relevan dan praktis, dan langkah-langkah implementasi yang jelas dan dapat diukur untuk dilaksanakan. Dengan menggunakan solusi ini, PT Mustika Tembakau Indonesia berharap dapat meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Implementasi standar internasional ISO 9001:2015 merupakan langkah pertama bagi PT Mustika Tembakau Indonesia dalam meningkatkan sistem manajemen mutu. Standar ini bertujuan untuk memastikan bahwa perusahaan mampu menyediakan produk dan layanan yang konsisten memenuhi kebutuhan pelanggan dan regulasi yang berlaku. Namun, untuk mencapai manfaat penuh dari ISO 9001:2015, perusahaan fokus pada pembuatan dan konsistensi penerapan SOP (Standard Operating Procedures), instruksi kerja, form, dan jobdesk yang terstruktur dan terdokumentasi dengan baik. Langkah pertama dalam implementasi ISO 9001:2015 adalah pembuatan SOP yang komprehensif dan relevan dengan proses bisnis yang ada. SOP harus mencakup semua tahapan operasional yang krusial, dari produksi hingga distribusi, dengan rincian yang cukup untuk memastikan bahwa setiap karyawan memahami tugas dan tanggung jawab mereka. SOP yang baik harus ditinjau dan diperbarui secara berkala untuk menyesuaikan dengan perubahan proses atau teknologi baru, serta didistribusikan secara efektif kepada seluruh staf terkait. Pelatihan karyawan mengenai penggunaan dan pentingnya SOP[10].
Gambar 2. Presentasi mengenai SOP(Standart Operasioan Perusahaan
Perusahaan melakukan penyusunan instruksi kerja yang sesuai dengan ISO 9001:2015 dengan melakukan pemetaan proses bisnis yang ada di dalam perusahaan. Proses ini melibatkan identifikasi semua aktivitas yang dilakukan di setiap departemen dan mengembangkan instruksi kerja yang mendetail untuk setiap tahap proses. Instruksi kerja harus jelas, mudah dipahami, dan mencakup semua langkah yang perlu diikuti oleh karyawan, termasuk penggunaan teknologi dan peralatan yang relevan, prosedur keselamatan kerja, serta standar kualitas yang harus dipenuhi.
Selain itu pembuatan form yang sesuai dengan ISO 9001:2015 juga merupakan bagian krusial dari sistem manajemen mutu. Formulir harus dirancang untuk mencatat semua data yang diperlukan dalam proses operasional dan pengawasan kualitas. Formulir ini harus memungkinkan pencatatan yang akurat dan efisien, serta dapat diakses dan diisi oleh karyawan di berbagai departemen. Selain itu, formulir ini harus memuat semua informasi yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan instruksi kerja dan memastikan bahwa setiap langkah dalam proses telah dilakukan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Setelah instruksi kerja dan formulir disusun, penting bagi perusahaan untuk melakukan pelatihan bagi semua karyawan tentang cara menggunakan dokumen-dokumen ini. Karyawan harus memahami pentingnya mematuhi instruksi kerja dan mengisi formulir dengan tepat, serta bagaimana hal ini berkontribusi terhadap kualitas produk dan kepatuhan terhadap standar ISO 9001:2015. Pelatihan ini juga harus mencakup penjelasan tentang bagaimana data yang tercatat dalam formulir digunakan untuk pengambilan keputusan dan perbaikan berkelanjutan.
Kompetensi merupakan karakter dasar seseorang yang memiliki indikasi cara berperilaku atau berpikir pada cakupan situasi yang luas dan bertahan untuk waktu yang lama. Kompetensi dapat dikatakan sebagai perilaku dasar yang menggambarkan motif, karakteristik pribadi, dan pengetahuan atau keahlian yang dimiliki seseorang dengan kinerja yang tinggi pada tempat kerjanya[11].
Gambar 3. Memimpin tes kompetensi karyawan
Langkah selanjutnya adalah perusahaan melakukan pemetaan kebutuhan kompetensi karyawan yang relevan dengan standar ISO 9001:2015. Perusahaan perlu mengidentifikasi keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan pada setiap level pekerjaan, terutama yang berhubungan langsung dengan produksi dan pengendalian mutu. Pemetaan ini akan membantu perusahaan untuk menentukan area pelatihan yang harus diprioritaskan untuk memastikan bahwa karyawan memiliki kompetensi yang memadai untuk menjaga kualitas produk. Peningkatan kualitas produk kerja tidak hanya menyangkut produk (barang atau jasa) yang diproduksi dan dijual, tetapi juga dari semua jenis kegiatan organisasi yang ada, terutama bagaimana tim kerja bekerja sama, upaya terkoordinasi dan ada hubungannya dengan penciptaan positif. sinergi melalui komunikasi[12]. Berdasarkan hasil pemetaan, perusahaan dapat mengembangkan program pelatihan yang komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan spesifik perusahaan. Program ini harus mencakup aspek teori dan praktik, seperti pemahaman tentang persyaratan ISO 9001:2015, teknik pengendalian kualitas, serta prosedur operasional standar (SOP) yang relevan dengan proses produksi. Pelatihan ini harus dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa karyawan terus memperbarui keterampilan mereka sesuai dengan perkembangan industri.
Training adalah suatu kegiatan dengan tujuan untuk memperbaiki kemampuan karyawan dengan meningkatkan pengetahuan dan skill dalam melakukan pekerjaan. Pelatihan berkaitan dengan keahlian dan kemampuan karyawan untuk mencapai keahlian atau kemampuan tertentu agar berhasil dalam melaksanakan tugasnya[13].
Gambar 4. Meeting Bersama HRD membahas budaya kerja perusahaan
PT Mustika Tembakau Indonesia, pengembangan kompetensi karyawan merupakan salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kerja dan menjaga standar operasional yang tinggi. Training yang dirancang secara holistik dan berkelanjutan dapat dimulai dengan program yang mencakup product knowledge, implementasi 5R, dan pemahaman mendalam mengenai ISO 9001:2015, yang semuanya terkait erat dengan teknologi penggunaan mesin dan keselamatan kerja. Selanjutnya perusahaan memastikan bahwa setiap karyawan memiliki pemahaman yang kuat tentang product knowledge. Ini penting agar karyawan dapat bekerja dengan lebih efisien dan memberikan kontribusi yang maksimal dalam proses produksi. Training ini harus mencakup detail tentang produk yang dihasilkan oleh perusahaan, proses produksinya, serta bagaimana setiap karyawan dapat berperan dalam menjaga kualitas produk. Pemahaman ini akan membantu karyawan untuk lebih memahami pentingnya setiap tahapan dalam proses produksi dan bagaimana teknologi mesin berperan dalam memastikan kualitas produk. Setelah itu, perusahaan menerapkan konsep 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) yang dapat meningkatkan efisiensi dan keselamatan di tempat kerja. Training ini bertujuan untuk membangun budaya kerja yang terorganisir dan efisien, yang sangat penting dalam operasional sehari-hari. Karyawan akan dilatih untuk mengatur lingkungan kerja mereka dengan lebih baik, menjaga kebersihan, dan memelihara mesin dengan baik, yang pada akhirnya akan meningkatkan keselamatan kerja dan efisiensi operasional. Pemahaman mendalam mengenai ISO 9001:2015 juga harus menjadi bagian dari program pelatihan. Standar ini merupakan panduan penting dalam manajemen mutu yang bertujuan untuk memastikan bahwa setiap proses dalam perusahaan berjalan sesuai dengan standar internasional. Training ini akan membantu karyawan memahami peran mereka dalam menjaga kepatuhan terhadap standar ISO 9001:2015, serta bagaimana teknologi mesin dan prosedur keselamatan harus diintegrasikan ke dalam setiap aspek pekerjaan mereka.
ERP (Enterprise Resource Planning) merupakan langkah strategis dalam mengintegrasikan informasi penting dari berbagai departemen, sehingga dapat meningkatkan efisiensi operasional dan pengambilan keputusan. ERP berperan sebagai sistem yang menggabungkan data dari departemen seperti produksi, keuangan, sumber daya manusia, logistik, dan pemasaran, ke dalam satu platform terpadu, yang memungkinkan akses data secara real-time dan transparan[14].
Gambar 5. Penataan sertifikat training karyawan
Perusahaan melakukan pemetaan kebutuhan perusahaan dan penyesuaian modul ERP yang relevan dengan proses bisnis di PT Mustika Tembakau Indonesia. Setiap departemen harus dilibatkan dalam proses ini untuk memastikan bahwa sistem yang diadopsi dapat memenuhi kebutuhan spesifik dan mengatasi tantangan operasional yang ada. Misalnya, modul produksi harus terintegrasi dengan data inventaris dan logistik, sehingga pemantauan bahan baku dan jadwal produksi dapat dilakukan secara efisien. Pelatihan karyawan di semua level menjadi sangat penting agar mereka dapat menggunakan sistem ERP dengan efektif. Karyawan perlu memahami bagaimana sistem ini bekerja dan bagaimana mereka dapat memanfaatkan data yang tersedia untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja mereka. Training merupakan proses untuk membentuk dan membekali karyawan dengan menambah keahlian, kemampuan, pengetahuan dan perilakunya artinya pelatihan akan membentuk perilaku karyawan sesuai dengan yang diharapkan perusahaan. Training ini juga harus mencakup bagaimana menginput dan mengakses informasi dengan benar, serta bagaimana menginterpretasikan data untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Integrasi ERP harus didukung oleh komitmen manajemen dan budaya perusahaan yang adaptif terhadap perubahan teknologi. Manajemen harus memimpin dalam mendukung dan mempromosikan penggunaan ERP di seluruh organisasi, serta memberikan dukungan yang diperlukan bagi karyawan untuk beradaptasi dengan sistem baru. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat memastikan bahwa ERP tidak hanya menjadi alat teknis, tetapi juga bagian integral dari strategi bisnis perusahaan yang berkelanjutan[15].
Kegiatan magang yang dilakukan di PT Mustika Tembakau Indonesia selama satu bulan memungkinkan mahasiswa untuk membangun bisnis mereka sendiri dan menuangkan ide-ide yang beragam. Kegiatan magang ini memberi mereka banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah mereka pelajari di kelas. Selain itu, kegiatan magang membantu siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang sangat bermanfaat sebagai pedoman dan pengalaman sebelum memasuki dunia kerja. Di antara keterampilan dan kreativitas yang diperoleh termasuk pengalaman pembuatan form-form pendataan, mengikuti proses training karyawan untuk tes pemetaan posisi karyawan, membantu penyiapan data-data untuk proses ISO 9001:2015, dan belajar langsung di tempat produksi untuk memimpin sebuah forum dengan karyawan. Sehingga nanti ketika saya menghadapi dunia kerja secara langsung , saya tidak akan merasa kaget dengan system yang ada di sebuah perusahaan.
Penulis menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Ibu Dea Afifah Cynthia, yang terhormat sebagai HR Specialist PT Mustika Tembakau Indonesia. Pimpinan PT Mustika Tembakau Indonesia, serta kepada para pengawas dan pelaksana di PT Mustika Tembakau Indonesia. Penulis menyadari bahwa magang di PT Mustika Tembakau Indonesia masih memiliki banyak kekurangan dan perlu dipelajari lebih lanjut. Semua ini karena keterbatasan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis sekali lagi mengucapkan terima kasih karena telah diterima dengan baik dan diberi kesempatan dan dukungan untuk maju di PT Mustika Tembakau Indonesia.
E. Meidiyanty, A. H. Ramli, and S. Mariam, “Peran Mediasi Dari Inovasi Karyawan Pada Hubungan Antara Internet Banking Dan Kinerja Karyawaan,” J. Bisnisman: Ris. Bisnis dan Manaj., vol. 5, no. 2, pp. 106–117, 2023, doi: 10.52005/bisnisman.v5i2.162.
F. Febriani, “Strategi Peningkatan Kinerja Karyawan,” Pros. FRIMA (Festival Ris. Ilm. Manaj. dan Akuntansi), vol. 2, no. 1, pp. 138–145, 2018, doi: 10.55916/frima.v0i1.186.
N. A. Firmansyah and V. Maria, “Pengaruh Kepemimpinan, Budaya Organisasi Dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Pt. The Univenus Serang,” J. Inov. Penelit., vol. 2, no. 12, pp. 3841–3848, 2022.
P. Penerapan, S. Operasional, P. Dan, S. Artha, and R. Intan, “Pengaruh Penerapan Standar Operasional Prosedur Dan Kompetensi Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Divisi Ekspor Pt. Dua Kuda Indonesia,” J. Ilm. M-Progress, vol. 11, no. 1, pp. 38–47, 2021, doi: 10.35968/m-pu.v11i1.600.
A. Wahyuni and Budiono, “Pengaruh Lingkungan Kerja Dan Kompetensi Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Motivasi Kerja,” J. Ilmu Manaj., vol. 10, no. 3, p. 769, 2022.
A. Budi, “Pengaruh Displin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Yang Dimediasi Oleh Produktivitas Kerja Karyawan,” Dyn. Manag. J., vol. 6, no. 2, p. 83, 2022, doi: 10.31000/dmj.v6i2.6732.
Lidwina Mulinbota Moron, Henrikus Herdi, and Yoseph Darius Purnama Rangga, “Pengaruh Budaya Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Koperasi Simpan Pinjam Ikamala,” J. Kompetitif, vol. 12, no. 1, pp. 1–14, 2023, doi: 10.52333/kompetitif.v12i1.56.
L. Meilani, F. Adinda, V. Vallencia, V. L. Kevin, and H. Helen, “Pengaruh Penerapan Sistem Manajemen Sumber Daya Perusahaan (ERP) dalam Meningkatkan Kinerja PT. Belfoods,” J. Mirai Manag., vol. 8, no. 2, pp. 53–57, 2023, [Online]. Available: https://www.journal.stieamkop.ac.id/index.php/mirai/article/view/4519
S. Mulyeni, A. Lestari, N. Azizah, and Herlina, “Gaya Kepemimpinan Lingkungan Kerja Dan Pelatihan Terhadap Kinerja Karyawan PT. Champ Resto Indonesia Tbk,” J. Kaji. Ilm., vol. 23, no. 2, pp. 185–194, 2023, [Online]. Available: https://www.academia.edu/104949132/Pengaruh_Gaya_Kepemimpinan_Lingkungan_Kerja_Pelatihan_Terhadap_Kinerja_Karyawan
R. Arief and Sunaryo, “Pengaruh Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP), Gaya Kepemimpinan, Dan Audit Internal Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Kasus Pada Pt. Mega Pesanggrahan Indah),” J. Ekon. dan Manaj., vol. 9, no. 2, pp. 125–143, 2020.
D. Setyo Widodo and A. Yandi, “Model Kinerja Karyawan: Kompetensi, Kompensasi dan Motivasi (Literature Review MSDM),” J. Ilmu Multidisplin, vol. 1, no. 1, pp. 1–14, 2022, doi: 10.38035/jim.v1i1.1.
R. N. Pangestu, D. S. Rani, T. S. N. Tyas, and Z. Farhah, “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan: Perencanaan, Kualitas dan Kepemimpinan (Literature Review Manajemen Kinerja),” J. Ilmu Manaj. Terap., vol. 4, no. 2, pp. 215–228, 2022.
A. M. Silaban and O. M. Siregar, “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Pelatihan Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Horti Jaya Lestari Cabang Dokan,” J. Ekon. Akuntansi, dan Manaj. Indones. - JEAMI, vol. 2, no. 01, pp. 16–26, 2023, [Online]. Available: https://jurnal.seaninstitute.or.id/index.php/juemi
M. N. H. Alvianto, N. P. Adam, I. A. Sodik, E. Sediyono, and A. P. Widodo, “Dampak Dan Faktor Kesuksesan Penerapan Enterprise Resource Planning Terhadap Kinerja Organisasi: Sistematic Literature Review,” J. Nas. Teknol. dan Sist. Inf., vol. 7, no. 3, pp. 172–180, 2022, doi: 10.25077/teknosi.v7i3.2021.172-180.
F. Humaira, S. Agung, and E. Kuraesin, “Pengaruh Integritas Dan Pengembangan Karir Terhadap Kinerja Karyawan,” Manag.: J. Ilmu Manaj., vol. 2, no. 3, p. 329, 2020, doi: 10.32832/manager.v2i3.3706.