M. Rizal Habibi (1), Ilmi Usrotin Choiriyah (2), Nabila Salma (3), Dewi Fatimah (4), Silvia Islami (5)
General Background Information technology constitutes an integral component of modern life, requiring robust digital insights as a crucial competency for young generations. Specific Background Although structured information technology training programs aim to equip students with essential skills, widespread digital divides and resource limitations continue to constrain educational institutions in Indonesia. Knowledge Gap While ideal frameworks suggest that information technology training yields high digital proficiencies, empirical realities indicate that numerous students lack adequate competencies due to variable training quality and equipment shortages. Aims This qualitative case study analyzes the outcomes of Microsoft Word and Canva training among grade ten students at SMA Negeri 1 Krian. Results Findings demonstrate that the training substantially increases students' capabilities in generating automated tables of contents and designing simple posters, supported by the diffusion of innovation framework, while generating positive self-confidence despite equipment limitations. Novelty This research specifically applies the diffusion of innovation theory to evaluate relative advantage, compatibility, complexity, trialability, and observability within a secondary school digital training context. Implications Educational stakeholders must develop sustainable information technology training programs integrated directly into core school curricula.
Highlights:
structured sessions successfully elevate student competencies in creating automated document tables of contents and graphic design posters
participants exhibit increased self-confidence and creative application of digital tools despite institutional equipment constraints
establishing sustainable instructional programs integrated into standard school curricula remains essential for long-term digital progress
Keywords: Information Technology Training, Digital Insight, Diffusion Of Innovations, Software Competency, Student Creativity
Di tengah pesatnya kemajuan era digital, Teknologi Informasi (TI) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern [1][2]. Wawasan digital, yang merangkum pemahaman mendalam, keterampilan praktis, serta kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara efektif dan bertanggung jawab, menjadi kompetensi krusial bagi setiap individu. Terutama generasi muda yang akan menghadapi dinamika tantangan dan peluang di masa depan [3]. Dalam konteks ini, pelatihan TI didefinisikan sebagai sebuah proses terstruktur yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi individu dalam penggunaan perangkat keras, perangkat lunak, dan berbagai aplikasi digital, serta memahami implikasi sosial, ekonomi, dan etika yang melekat pada teknologi [4][5][6]. Tujuan utama dari implementasi pelatihan TI dalam rangka meningkatkan wawasan digital adalah untuk membekali para siswa dengan keterampilan esensial yang memungkinkan partisipasi aktif dalam ekonomi digital, memajukan kemampuan belajar mandiri, serta mengembangkan pola pikir kritis dan kreatif. Manfaat yang ditawarkan oleh pelatihan ini sangatlah beragam, mencakup peningkatan produktivitas, perluasan akses terhadap informasi, peningkatan kemampuan kolaborasi, dan peluang karir yang lebih menjanjikan [7][8][9]. Lebih jauh lagi, pelatihan TI yang komprehensif memberdayakan siswa untuk menjadi warga digital yang bertanggung jawab, mampu membedakan informasi yang akurat dari disinformasi, melindungi privasi online, dan berkontribusi secara positif dalam komunitas digital. Kurangnya wawasan digital yang memadai dapat membawa dampak negatif bagi siswa, termasuk kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik, kerentanan terhadap berbagai bentuk penipuan online, serta kurangnya kesiapan untuk menghadapi dunia kerja yang semakin terdigitalisasi [10][11][12][13][14][15]. Oleh karena itu, investasi dalam pelatihan TI merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa siswa memiliki keterampilan dan pengetahuan yang relevan untuk meraih kesuksesan di era digital ini.
Kesenjangan digital masih menjadi isu krusial di Indonesia. Distribusi akses teknologi dan internet yang belum merata, khususnya di wilayah pedesaan dan daerah terpencil [16]. Hal tersebut mengakibatkan ketertinggalan wawasan digital di kalangan siswa. Lebih lanjut, mutu pelatihan TI yang tersedia masih beragam, dengan banyak institusi pendidikan menghadapi keterbatasan sumber daya dan tenaga pengajar yang kompeten untuk menyelenggarakan pelatihan yang berkualitas. Kondisi ini diperburuk oleh kurangnya pemahaman mengenai urgensi wawasan digital di antara masyarakat luas dan para pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Kendati demikian, berbagai upaya telah diinisiasi untuk menanggulangi permasalahan ini. Pemerintah telah meluncurkan berbagai program untuk memperluas jangkauan akses internet dan menyelenggarakan pelatihan TI bagi guru dan siswa. Sektor swasta juga memainkan peran penting dengan menyediakan platform pembelajaran daring dan program beasiswa bagi siswa berprestasi. Namun, peran serta aktif dari masyarakat sangatlah vital dalam menjamin keberhasilan upaya-upaya ini. Orang tua, komunitas, dan organisasi non-pemerintah dapat memberikan kontribusi melalui dukungan moral dan finansial kepada siswa, menyelenggarakan pelatihan TI di tingkat lokal, serta mendorong lahirnya kebijakan yang mendukung peningkatan wawasan digital.
Seiring dengan masifnya implementasi pelatihan TI dan peningkatan wawasan digital di kalangan siswa, muncul beberapa fenomena menarik yang perlu dicermati. Pertama, ketergantungan siswa pada teknologi semakin meningkat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari belajar hingga bersosialisasi. Namun, hal ini juga memunculkan kekhawatiran terkait potensi kecanduan internet, berkurangnya interaksi sosial secara langsung, dan penurunan kemampuan berpikir kritis. Kedua, kemudahan akses informasi melalui internet membuka celah bagi penyebaran berita palsu (hoax) dan disinformasi, di mana siswa dengan wawasan digital yang terbatas rentan menjadi korban atau bahkan turut menyebarkannya. Ketiga, peningkatan penggunaan media sosial juga meningkatkan risiko terjadinya cyberbullying, sehingga siswa perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari perilaku intimidasi di dunia maya. Keempat, isu privasi menjadi perhatian penting karena siswa seringkali kurang menyadari pentingnya melindungi informasi pribadi mereka secara online. Oleh karena itu, edukasi mengenai pengelolaan data pribadi yang aman dan bertanggung jawab sangat diperlukan. Terakhir, meskipun akses terhadap teknologi semakin meluas, kesenjangan keterampilan masih menjadi tantangan. Pelatihan TI yang komprehensif berperan penting dalam menjembatani kesenjangan ini, memastikan bahwa siswa memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk memanfaatkan teknologi secara efektif.
Dalam konteks pelatihan TI untuk meningkatkan wawasan digital siswa, Teori Difusi Inovasi sangat relevan untuk memahami bagaimana inovasi teknologi, seperti aplikasi perkantoran, platform desain grafis, atau metode pembelajaran daring, diadopsi dan disebarluaskan di kalangan siswa. Teori ini menjelaskan bahwa adopsi teknologi bukanlah proses instan, melainkan tahapan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk persepsi siswa terhadap manfaat yang ditawarkan, kemudahan penggunaan, dan dukungan sosial dari teman sebaya, guru, serta lingkungan sekitar. Melalui hal tersebut dapat dipahami faktor-faktor ini, program pelatihan TI dapat dirancang dan diimplementasikan lebih efektif, sehingga wawasan digital siswa dapat ditingkatkan secara optimal. Idealnya, dengan adanya pelatihan TI yang memadai, siswa akan memiliki wawasan digital yang tinggi dan mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan prestasi akademik dan mempersiapkan diri untuk dunia kerja. Namun, faktanya, masih banyak siswa yang kurang memiliki wawasan digital yang memadai karena berbagai faktor seperti keterbatasan akses, kualitas pelatihan yang kurang memadai, dan kurangnya kesadaran.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pelatihan aplikasi Microsoft Office dan Canva dalam meningkatkan wawasan digital siswa di SMA Negeri 1 Krian, dengan memanfaatkan kerangka Teori Difusi Inovasi. Secara khusus, penelitian ini berupaya mengidentifikasi tingkat wawasan digital siswa sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan, menganalisis peningkatan wawasan digital yang terjadi sebagai hasil dari pelatihan, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas pelatihan tersebut. Dalam konteks ini, wawasan digital didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif, efisien, dan bertanggung jawab. Pelatihan TI dipandang sebagai proses sistematis untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap terkait dengan penggunaan teknologi informasi. Microsoft Office, dengan aplikasi perkantoran seperti Word, Excel, dan PowerPoint, serta Canva, sebagai platform desain grafis untuk membuat berbagai desain visual, merupakan inovasi yang diadopsi dalam proses pembelajaran. Penelitian ini akan mengkaji bagaimana karakteristik inovasi (seperti kemudahan penggunaan, keuntungan relatif, dan kompatibilitas) serta saluran komunikasi dan sistem sosial di sekolah memengaruhi adopsi dan difusi keterampilan digital di kalangan siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk memahami secara mendalam efektivitas pelatihan teknologi informasi (TI) dalam meningkatkan wawasan digital siswa SMA Negeri 1 Krian melalui pemanfaatan Microsoft Word dan Canva [17]. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman, persepsi, dan perubahan yang dialami siswa setelah mengikuti pelatihan, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kendala dalam implementasi pelatihan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan fokus pada pengalaman siswa kelas 10 SMA Negeri 1 Krian yang mengikuti pelatihan Microsoft Word dan Canva. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus di SMA Negeri 1 Krian. Subjek penelitian melibatkan siswa kelas 10 yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan minat dan kebutuhan mereka dalam pengembangan keterampilan TI. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan pengumpulan dokumen seperti materi pelatihan dan tugas siswa, dengan tujuan menggali pengalaman, persepsi, dan perubahan yang dialami siswa selama pelatihan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis mereduksi data, menyajikan data hingga menarik kesimpulan [18][19].
Pelatihan Teknologi Informasi yang berfokus pada peningkatan wawasan digital siswa SMA Negeri 1 Krian melalui pemanfaatan Microsoft Word dan Canva menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pelatihan yang dilaksanakan ini menargetkan siswa kelas 10 dengan tujuan meningkatkan kemampuan mereka dalam menggunakan fitur-fitur canggih dari kedua aplikasi tersebut. Observasi awal mengindikasikan bahwa meskipun siswa familiar dengan kedua aplikasi ini, pemahaman mendalam mengenai fitur-fitur yang dapat meningkatkan efisiensi dan kreativitas masih terbatas. Secara umum, pelatihan berjalan dengan cukup baik. Antusiasme siswa terlihat jelas selama sesi pelatihan, yang ditunjukkan dengan keaktifan mereka dalam bertanya dan mencoba fitur-fitur baru yang diajarkan. Pemahaman siswa terhadap materi pelatihan juga cukup baik, meskipun terdapat beberapa kendala teknis yang akan dibahas lebih lanjut.
Yang pertama adalah pelatihan microsoft word. Pelatihan ini difokuskan pada pembuatan daftar isi otomatis, yang merupakan keterampilan penting untuk menyusun laporan dan karya tulis ilmiah. Berdasarkan evaluasi sederhana (pre-test dan post-test) yang dilakukan, terdapat peningkatan signifikan dalam kemampuan siswa dalam membuat daftar isi otomatis. Sebelum pelatihan, hanya sekitar 20 persen siswa yang mampu membuat daftar isi otomatis dengan benar. Setelah pelatihan, angka ini meningkat menjadi sekitar 75 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan ini efektif dalam meningkatkan keterampilan siswa dalam menggunakan fitur daftar isi otomatis di Microsoft Word.
Pelatihan kedua adalah pelatihan menggunakan Canva. Pelatihan Canva difokuskan pada pengenalan toolbar dan pembuatan desain poster sederhana. Canva dipilih karena antarmukanya yang intuitif dan kemudahan penggunaannya, sehingga cocok untuk siswa SMA yang baru mulai belajar desain grafis. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa siswa mampu memahami toolbar Canva dengan baik dan menghasilkan desain poster sederhana dengan kreativitas yang cukup tinggi. Berdasarkan survei kepuasan yang dilakukan setelah pelatihan, sebagian besar siswa menyatakan bahwa mereka merasa lebih percaya diri dalam membuat desain grafis setelah mengikuti pelatihan Canva.
Berdasarkan Teori Difusi Inovasi yang menjelaskan bagaimana suatu inovasi (dalam hal ini, keterampilan menggunakan Microsoft Word dan Canva) diadopsi dan disebarluaskan dalam suatu sistem sosial (dalam hal ini, lingkungan sekolah SMA Negeri 1 Krian). Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi suatu inovasi, yaitu:
Keuntungan Relatif (Relative Advantage) yaitu keuntungan yang diperhatikan melalui inovasi yang dianggap lebih baik daripada ide atau praktik yang sudah ada. Dalam penelitian ini, siswa melihat keuntungan relatif yang jelas dari penggunaan daftar isi otomatis di Microsoft Word dan Canva, yaitu kemudahan dan efisiensi dalam mengerjakan tugas. Hal ini tercermin dari peningkatan signifikan dalam kemampuan membuat daftar isi otomatis dan kepuasan siswa terhadap pelatihan Canva.
Kompatibilitas (Compatibility) memperhatikan bagaimana inovasi tersebut sesuai dengan nilai-nilai, pengalaman, dan kebutuhan pengguna. Microsoft Word dan Canva relatif kompatibel dengan kebutuhan siswa dalam mengerjakan tugas sekolah dan mengembangkan kreativitas. Kedua aplikasi ini juga mudah diakses dan digunakan, sehingga meminimalkan hambatan dalam proses adopsi. Kompleksitas (Complexity) yaitu keuntungan dimana inovasi tersebut sulit dipahami dan digunakan. Microsoft Word, dengan fitur daftar isi otomatisnya, awalnya dianggap kompleks oleh sebagian siswa. Namun, melalui pelatihan yang terstruktur dan mudah dipahami, kompleksitas ini dapat diatasi. Canva, dengan antarmukanya yang intuitif, dianggap relatif mudah digunakan, sehingga mempercepat proses adopsi.
Triabilitas (Trialability) yaitu melihat sejauh mana inovasi tersebut dapat dicoba sebelum diadopsi secara penuh. Pelatihan ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mencoba langsung fitur-fitur Microsoft Word dan Canva, sehingga mereka dapat merasakan manfaatnya secara langsung sebelum memutuskan untuk mengadopsinya dalam kegiatan sehari-hari. Observabilitas (Observability) yaitu keuntungan sejauh mana hasil dari penggunaan inovasi tersebut dapat dilihat dan dikomunikasikan kepada orang lain. Dalam kasus ini, siswa dapat dengan mudah melihat hasil dari penggunaan daftar isi otomatis dan desain poster Canva, serta membagikannya kepada teman-teman mereka. Hal ini dapat mendorong adopsi inovasi yang lebih luas di lingkungan sekolah.
Kendala dari penelitian ini adalah keterbatasan peralatan. SMA Negeri 1 Krian memiliki beberapa komputer di laboratorium komputer yang tidak dapat digunakan. Kedua, permasalahan pada adanya perbedaan tingkat kemampuan siswa dalam menguasai materi pelatihan. Beberapa siswa cepat memahami materi, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama. Ketiga adanya keterbatasan waktu pelatihan. Adapun solusi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah siswa dapat berkelompok untuk praktik. Selain itu, proyektor yang error juga sempat menghambat kelancaran pelatihan. Selanjutnya ntuk mengatasi perbedaan pemahaman siswa ialah perlu disediakan pendampingan yang lebih intensif bagi siswa yang kesulitan. Selain itu, materi pelatihan dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa, misalnya dengan memberikan materi tambahan atau latihan yang lebih sederhana. Solusi dalam pemecahan masalah terbatasnya waktu ialah untuk pelatihan selanjutnya, perlu dipertimbangkan untuk menambah jumlah pertemuan atau durasi pelatihan. Selain itu, materi pelatihan dapat difokuskan pada fitur-fitur yang paling penting dan relevan bagi siswa.
Berdasarkan hasil dan analisis yang telah dilakukan, program pelatihan TI seperti ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan wawasan digital siswa dan mempersiapkan mereka menghadapi tantangan di era digital. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan program pelatihan TI yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan kurikulum sekolah.
Berdasarkan hasil pelaksanaan dan analisis program magang mengenai pelatihan Microsoft Word dan Canva di SMA Negeri 1 Krian, dapat disimpulkan bahwa pelatihan ini efektif dalam meningkatkan keterampilan siswa, terutama dalam pembuatan daftar isi otomatis (Microsoft Word) dan desain poster sederhana (Canva). Hal ini didukung oleh peningkatan signifikan pada hasil pre-test dan post-test. Teori Difusi Inovasi membantu menjelaskan keberhasilan ini, di mana siswa merasakan keuntungan relatif, kompatibilitas dengan kebutuhan belajar, kemudahan penggunaan (terutama Canva), kesempatan mencoba langsung (trialability), serta melihat hasil nyata yang dapat dikomunikasikan (observability). Meskipun terdapat kendala seperti keterbatasan peralatan dan perbedaan tingkat kemampuan siswa, solusi yang diupayakan telah membantu kelancaran pelatihan. Oleh karena itu, direkomendasikan pengembangan program pelatihan TI berkelanjutan yang terintegrasi dengan kurikulum, berbasis proyek, melibatkan pelatihan peer-to-peer, serta didukung oleh penyediaan sumber daya yang memadai dan penguatan kurikulum TIK untuk menciptakan generasi muda yang berwawasan digital dan kompetitif. Sebagai tambahan, pelatihan serupa tentang Canva dan Microsoft Word juga terbukti efektif untuk siswa sekolah dasar1 dan siswa SMA lainnya. Pelatihan literasi digital dan Canva memberikan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta, serta meningkatkan kreativitas siswa dalam membuat materi pembelajaran.
Ariana, S. Andini, B. R. Dwi Putra, and T. Darmansah, “Implementasi Teknologi Informasi dalam Manajemen Administrasi Perkantoran di Sekolah MAS Al-Wasliyah Tembung,” Transform. J. Econ. Bus. Manag., vol. 3, no. 2, pp. 92–99, 2024, doi: 10.56444/transformasi.v3i2.1635.
Nuriani and R. Firdaus, “Pengaruh Sistem Informasi Akuntansi dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Kinerja Karyawan di Indonesia,” J. Ris. Akunt., vol. 2, no. 4, pp. 105–116, Nov. 2024, doi: 10.54066/jura-itb.v2i4.2615.
H. A. Prabowo, “Kecakapan Digital di Kalangan Mahasiswa: Tinjauan Aspek Literasi Digital,” J. Dharmawangsa, vol. 19, no. 2022, pp. 593–603, 2025.
M. D. Ria and A. Budiman, “Perancangan Sistem Informasi Tata Kelola Teknologi Informasi Perpustakaan,” J. Inform. dan Rekayasa Perangkat Lunak, vol. 2, no. 1, pp. 122–133, 2021, [Online]. Available: http://jim.teknokrat.ac.id/index.php/informatika
Asmawi, Syafei, and M. Yamin, “Pendidikan Berbasis Teknologi Informasi Dan Komunikasi,” Pros. Semin. Nas. Pendidik., vol. 3, pp. 50–55, 2019.
A. J. A. Huraerah, A. W. Abdullah, and A. Rivai, “Pengaruh Teknologi Informasi Dan Komunikasi Terhadap Pendidikan Indonesia,” JIEP J. Islam. Educ. Policy, vol. 8, no. 2, 2023, doi: 10.30984/jiep.v8i2.2715.
C. S. Octiva, P. E. Haes, T. I. Fajri, H. Eldo, and M. L. Hakim, “Implementasi Teknologi Informasi pada UMKM: Tantangan dan Peluang,” J. Minfo Polgan, vol. 13, no. 1, pp. 815–821, Jul. 2024, doi: 10.33395/jmp.v13i1.13823.
C. A. Effendy, V. Paramarta, and E. Purwanda, “Peran Teknologi Informasi, Pengelolaan Sumber Daya Manusia, Dan Sistem Informasi Rumah Sakit Dalam Meningkatkan Kinerja Rumah Sakit (Kajian Literatur),” J. Rev. Pendidik. dan Pengajaran, vol. 7, no. 4, pp. 13479–13489, 2024, doi: 10.31004/jrpp.v7i4.34703.
G. A. Susanto, “Tinjauan Kritis atas Berkembangnya Media Sosial dan Ancaman Terhadap Media Mainstream Menurut Manuel Castells,” Dekonstruksi, vol. 11, no. 01, pp. 6–16, Dec. 2024, doi: 10.54154/dekonstruksi.v11i01.288.
M. A. A. Pangestu and M. Christin, “Analisis Strategi Komunikasi Program Indonesia Makin Cakap Digital Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam Meningkatkan Literasi Digital,” JIIP - J. Ilm. Ilmu Pendidik., vol. 5, no. 9, pp. 3272–3280, Sep. 2022, doi: 10.54371/jiip.v5i9.885.
M. Estiningsih, “Indonesia Cakap Digital Melalui Kegiatan Literasi Digital Bagi Seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN),” J-MAS J. Pengabdi. Masy., vol. 1, no. 5, pp. 695–704, 2023, doi: 10.59004/jmas.v1i5.277.
A. Azhimi Qalban, G. F. Jauza, and I. A. Mukaromah, “Literasi Digital Dan Gen-Z: Prototipe Konsep Literasi Moderat Sebagai Media Smart Dakwah,” Hujjah J. Ilm. Komun. dan Penyiaran Islam, vol. 6, no. 1, pp. 22–29, Jun. 2022, doi: 10.52802/hjh.v6i1.381.
F. Gunawan and T. Dyatmika, “Peningkatan Pemahaman Literasi Digital Pada Remaja Milenial Di Desa Tirto,” J. Abdimas BSI J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 5, no. 2, pp. 187–194, Aug. 2022, doi: 10.31294/jabdimas.v5i2.10957.
B. Budiman, Whydiantoro, E. Koswara, and A. Kholiq, “Cakap Bermedia Sosial Sebagai Upaya Peningkatan Literasi Digital di Lingkungan Masyarakat Desa Prupuk Selatan,” BERNAS J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 5, no. 1, pp. 866–870, Jan. 2024, doi: 10.31949/jb.v5i1.7192.
Ruhimat et al., “Program Peningkatan Literasi Masyarakat Tentang Pengelolaan Administrasi Melalui Sistem Desa Cakap Digital (DECADE),” Karimah Tauhid, vol. 3, no. 1, pp. 1168–1179, Jan. 2024, doi: 10.30997/karimahtauhid.v3i1.11036.
Adya R. Putri, N. Priyani, and J. Parhusip, “Analisis Distribusi Proporsi Pengguna TI Berdasarkan Data Penggunaan Internet Di Indonesia,” J. Tek. Inform. Dan Multimed., vol. 4, no. 2, pp. 1–7, 2024, doi: 10.51903/informatika.v4i2.823.
S. Romlah, S. Tinggi, A. Islam, and P. Bangil, “Perbandingan Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif dalam Melakukan Penilaian Operasional,” J. Stud. Islam, vol. 16, no. 1, pp. 1–13, 2021.
A. Sirojuddin, K. Amirullah, M. H. Rofiq, and A. Kartiko, “Peran Sistem Informasi Manajemen dalam Pengambilan Keputusan di Madrasah Ibtidaiyah Darussalam Pacet Mojokerto,” ZAHRA Res. Tought Elem. Sch. Islam J., vol. 3, no. 1, pp. 19–33, 2022, doi: 10.37812/zahra.v3i1.395.
O. H. Prabowo, A. Merthayasa, and N. Saebah, “Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Manajemen Perubahan Pada Kegiatan Bisnis Di Era Globalisasi,” J. Syntax Idea, vol. 5, no. 7, pp. 883–892, 2023, doi: 10.46799/syntax-idea.v5i7.2416.