Reza Dwi Syaputra (1), Idbaaron Nujuum (2), Rafly Satya Firdaus (3), Noval Sendi Immanuel (4), Katarina Sarabiti (5), Aliya Farah Dilara (6), Alisa Amanda Putri (7), Briliana Tata Arsila (8), Vidya Mandarani (9)
General Background Contemporary education requires students to master 21st-century skills, including oral communication and critical thinking within student-centered environments. Specific Background This qualitative descriptive research analyzes the implementation of Problem-Based Learning to improve junior high school students' speaking skills through the topic of additive substances in English and science classes. Knowledge Gap Although Problem-Based Learning is widely recognized for improving speaking performance, research specifically integrating additive substance materials within a problem-based learning framework for junior high school students remains limited. Aims This study aims to analyze the implementation of Problem-Based Learning in improving junior high school students' speaking skills through additive substance topics and to identify challenges during the process. Results The findings indicate that the application of Problem-Based Learning successfully fosters contextual, creative, and student-centered learning, enabling students to show significant improvements in speaking fluency, vocabulary mastery, and self-confidence while cultivating preventive awareness against additive substances. Novelty This study demonstrates a dual-impact educational model that simultaneously integrates language competency acquisition and preventive character education through meaningful real-world problem investigation. Implications These insights suggest that educators should adopt Problem-Based Learning methodologies to foster critical thinking, collaboration, and meaningful communication aligned with independent curriculum principles.
Highlights:
Problem-Based Learning creates contextual, creative, and student-centered learning environments that actively engage learners.
Students achieve noticeable gains in oral fluency, vocabulary retention, and self-assurance during presentations.
Integrating health topics into language lessons builds social awareness and preventive attitudes regarding harmful substances.
Keywords: Problem-Based Learning, Speaking Skills, English Language, Contextual Learning, Additive Substances
Pendidikan nasional menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab[1]. Dalam konteks pendidikan abad 21, kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu keterampilan esensial yang harus dikuasai peserta didik, terutama kemampuan berbicara atau speaking dalam bahasa Inggris sebagai bahasa internasional[2].
Kemampuan speaking merupakan keterampilan produktif yang memungkinkan peserta didik untuk mengekspresikan ide, pikiran, dan perasaan secara lisan. Namun, berdasarkan hasil observasi awal di beberapa SMP, kemampuan speaking peserta didik masih tergolong rendah[3]. Hal ini ditandai dengan kurangnya kepercayaan diri siswa dalam berbicara menggunakan bahasa Inggris, terbatasnya kosakata yang dikuasai, serta minimnya kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan berbicara dalam konteks pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran bahasa Inggris yang masih bersifat teacher-centered dan fokus pada aspek gramatika menyebabkan peserta didik kurang termotivasi untuk aktif berbicara[4].
Di sisi lain, permasalahan kesehatan remaja terkait zat adiktif menjadi isu yang semakin mengkhawatirkan. Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa prevalensi penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar terus meningkat setiap tahunnya[5]. Zat adiktif seperti narkotika, psikotropika, rokok, dan alkohol dapat memberikan dampak negatif yang serius terhadap kesehatan fisik dan mental remaja, serta menghambat prestasi akademik mereka. Oleh karena itu, pendidikan preventif mengenai bahaya zat adiktif perlu diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah, tidak hanya melalui mata pelajaran tertentu tetapi juga dapat dikemas dalam pembelajaran bahasa Inggris yang kontekstual dan bermakna[6].
Pembelajaran inovatif berbasis Problem Based Learning (PBL) menawarkan solusi untuk mengatasi kedua permasalahan tersebut[7]. PBL adalah model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan menggunakan masalah nyata sebagai konteks pembelajaran. Menurut Arends (2012), PBL dirancang untuk membantu peserta didik mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kemampuan pemecahan masalah, serta keterampilan kolaboratif melalui investigasi terhadap masalah autentik[8]. Dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris, PBL dapat menjadi wahana efektif untuk meningkatkan kemampuan speaking karena peserta didik dituntut untuk aktif berdiskusi, berargumentasi, dan mempresentasikan solusi atas permasalahan yang dihadapi[9].
Integrasi materi zat adiktif dalam pembelajaran bahasa Inggris berbasis PBL memiliki beberapa keunggulan. Pertama, materi ini relevan dengan kehidupan remaja sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar. Kedua, topik zat adiktif kaya akan kosakata teknis dan kesehatan yang dapat memperkaya vocabulary peserta didik. Ketiga, diskusi mengenai bahaya zat adiktif memerlukan kemampuan berargumentasi dan berbicara persuasif yang dapat mengasah kemampuan speaking. Keempat, pembelajaran ini memberikan dampak ganda yaitu meningkatkan kompetensi berbahasa sekaligus memberikan edukasi preventif mengenai bahaya zat adiktif[10].
Beberapa penelitian telah menunjukkan efektivitas PBL dalam meningkatkan kemampuan speaking[11]. Penelitian oleh Santoso dan Pratiwi (2022) menemukan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan kemampuan speaking siswa SMP dengan peningkatan skor rata-rata sebesar 23,5%. Sementara itu, penelitian Rahman (2023) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah autentik membuat peserta didik lebih percaya diri dan aktif dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris[12]. Penelitian terbaru oleh Putri et al. (2024) juga mengonfirmasi bahwa PBL efektif meningkatkan fluency dan accuracy dalam speaking skill siswa SMP. Namun, penelitian yang secara spesifik mengintegrasikan materi zat adiktif dalam pembelajaran speaking berbasis PBL masih terbatas, sehingga penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan[13].
Kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan di Indonesia memberikan fleksibilitas bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang inovatif dan kontekstual. Salah satu prinsip Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan memberikan keleluasaan untuk mengeksplorasi minat dan kebutuhan mereka[14]. Model PBL sejalan dengan prinsip tersebut karena menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam pembelajaran. Selain itu, Kurikulum Merdeka juga menekankan pentingnya pengembangan karakter dan kompetensi abad 21, termasuk kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi yang semua dapat dikembangkan melalui PBL[13].
Dalam implementasi PBL untuk pembelajaran speaking dengan materi zat adiktif, terdapat beberapa tahapan yang perlu dilakukan[13]. Pertama, orientasi masalah dimana guru menyajikan kasus atau situasi nyata terkait permasalahan zat adiktif di kalangan remaja. Kedua, mengorganisasi peserta didik untuk belajar dengan membentuk kelompok dan mendistribusikan peran. Ketiga, membimbing investigasi kelompok dimana peserta didik mencari informasi, melakukan wawancara, atau studi literatur mengenai zat adiktif. Keempat, mengembangkan dan menyajikan hasil karya dalam bentuk presentasi, role play, atau diskusi panel menggunakan bahasa Inggris. Kelima, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah serta kemampuan speaking yang telah ditunjukkan[15].
Pembelajaran berbasis PBL juga dapat mengakomodasi pembelajaran berdiferensiasi yang menjadi salah satu karakteristik Kurikulum Merdeka[16]. Guru dapat menyesuaikan tingkat kompleksitas masalah, jenis tugas, dan bentuk presentasi sesuai dengan kemampuan dan gaya belajar peserta didik. Peserta didik dengan kemampuan speaking yang lebih tinggi dapat diberikan tantangan untuk melakukan debat atau presentasi formal, sementara peserta didik yang masih memerlukan dukungan dapat memulai dengan dialog sederhana atau role play terstruktur[17].
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pembelajaran inovatif berbasis Problem Based Learning dalam meningkatkan kemampuan speaking siswa SMP melalui materi zat adiktif. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis mengenai efektivitas PBL untuk pembelajaran bahasa Inggris serta kontribusi praktis berupa model pembelajaran yang dapat diimplementasikan oleh guru bahasa Inggris di SMP.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana implementasi pembelajaran berbasis Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan speaking siswa SMP melalui materi zat adiktif? (2) Apa saja kendala yang dihadapi dalam penerapan pembelajaran berbasis Problem Based Learning untuk kemampuan speaking dengan materi zat adiktif? Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Bagi guru, penelitian ini dapat menjadi referensi untuk mengembangkan pembelajaran bahasa Inggris yang lebih inovatif dan bermakna. Bagi peserta didik, pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan speaking sekaligus memberikan kesadaran tentang bahaya zat adiktif.
Penelitian ini menggunakan desain pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menjelaskan secara mendalam penerapan pembelajaran kreatif berbasis pembelajaran berbasis masalah pada siswa sekolah menengah pertama[18]. Pendekatan ini dipilih karena peneliti mendapatkan data berupa kata – kata, perilaku, dan penjelasan proses pembelajaran secara alami dan kontekstual tanpa mengubah kondisi yang ada. Pendekatan ini juga menekankan pemahaman fenomena dari sudut pandang siswa secara menyeluruh dan mendalam. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMP yang mengikuti pembelajaran pada dua mata pelajaran berbeda, yaitu kelas Bahasa Inggris dan kelas IPA. Pemilihan subjek penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling, dengan mempertimbangkan karakteristik dan dinamika pembelajaran pada kedua mata pelajaran tersebut dalam konteks implementasi PBL.
Sebagai langkah pertama, peneliti melakukan teknik observasi. Observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur untuk mengamati proses pembelajaran berbasis PBL, meliputi aktivitas siswa selama pemecahan masalah, interaksi antar siswa dalam kelompok, peran guru sebagai fasilitator, serta dinamika pembelajaran di kelas Bahasa Inggris dan kelas IPA. Observasi dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi yang telah disiapkan untuk memastikan data yang terkumpul sesuai dengan fokus penelitian.
Teknik analisis data yang di gunakan model Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahapan: (1) reduksi data, yaitu proses pemilihan, penyederhanaan, dan transformasi data mentah menjadi data yang lebih fokus, (2) penyajian data, yaitu menyusun informasi secara sistematis untuk memudahkan penarikan kesimpulan, dan (3) penarikan kesimpulan dan verifikasi, yaitu menginterpretasi temuan untuk memperoleh gambaran komprehensif tentang implementasi pembelajaran inovatif berbasis PBL untuk siswa SMP pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan IPA[19].
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara peneliti, sekolah menengah pertama telah mulai menerapkan pemebelajaran yang kreatif berbasis Problem-Based Learning (PBL) dalam upaya meningkatkan kemampuan berbicara siswa,khususnya pada topik zat adiktif. Pendekatan ini sejalan degan fokus pada penggunaan teknik pengajaran berbasis pembelajaran mendalam (deep learning), yang diterapkan untuk membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam dan kritis, sehingga mereka tidak hanya menguasai materi tersebut tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan berinovasi.
Penerapan (PBL) bertujuan memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berbicara secara efektif dalam bahasa inggris melalui berbagai aktivitas seperti percakapan, presentasi, dan refleksi. Melalui tantangan ini, siswa juga didorong untuk belajar degan menerapkan contoh-contoh nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Secara umum, peroses pembelajaran berbasis masalah ini mencakup tiga tahapan utama, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Gambar 1. Sumber: Dokumentasi Mahasiswa PLP 2 menjelaskan alur pembelajaran
Pada tahap persiapan, guru bahasa inggris berfokus pada masalah nyata di dunia nyata, yaitu dampak negatif zat adiktif terhadap aspek sosial dan kesehatan. Pada tahap ini, guru juga menjelaskan tujuan pembelajaran, indikator kemampuan berbicara, dan aktivitas pembelajaran yang dirancang untuk membantu siswa mengekspresikan ide dan pengetahuan mereka dengan jelas dan ringkas. Selain itu guru menyediakan berbagai bahan ajar dan media pendidikan, seperti gambar kerja interaktif, artikel berita, poster tentang narkoba dan alkhol serta video pembelajaran terkait topik zat adiktif. Guru juga menyediakan rubrik penilaian kemampuan berbicara yang mencakup aspek kosakata, kelancaran, dan ketepatan mereka saat menjelaskan suatu topik.
Untuk memperkuat kemampuan mereka dalam menerapkan pendekatan (PBL) dan memberikan makna yang lebih besar pada peroses pembelajaran. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar guru siap untuk memasukan (PBL) ke dalam pengajaran mata pelajaran tentang zat adiktif, meskipun siswa masih mnghadapi tantangan, termasuk kurangnya waktu dan sumber daya pembelajaran.
Gambar 2. Sumber: Dokumentasi Siswa mengerjakan LKP pada materi Zat Adiktif di kelas IX
Ditahap pelaksanaan, guru menerapkan model pembelajaran terpadu selama fase implementasi, di mana kegiatan (PBL) dilakukan sekali seminggu, misalnya pada hari selasa. Siswa dibagi menjadi kelompok- kelompok kecil beranggotakan empat hingga lima orang untuk tugas bahan Adiktif. Tugas yang diberikan kepada setiap kelompok adalah mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan bahan adiktif di lingkungan sekitar siswa, seperti penyalahgunaan obat-obatan terlarang oleh remaja atau merokok.
Kegiatan pembelajaran terdiri dari beberapa tahap. pertama , siswa diminta untuk mengidentifikasi masalah dengan cara mendiskusikan berbagai fenomena yang berkaitan dengan zat adiktif. kedua, siswa mengumpulkan informasi dengan mencari data dari artikel, sumber daring, atau melalui wawancara sederhana. Selanjutnya, hasil diskusi dan solusi yang telah dirumuskan disampaikan melalui presentasi lisan atau berbahasa Inggris sebagai bentuk penyajian solusi. Terakhir, siswa melakukan refleksi dengan menyampaikan pendapat pribadi mengenai pentingnya menjaga diri dari pengaruh zat adiktif.
Misalnya, para siswa mempresentasikan presentasi singkat berjudul “Katakan Tidak pada Zat Adiktif.” menggunakan Bahasa Inggris. Melalui latihan ini, siswa berlatih berbicara dalam bahasa Inggris dengan lebih percaya diri sambil menjelaskan dampak negatif penggunaan zat adiktif serta menyampaikan pesan dan ajakan kepada teman sebaya untuk menjauhi perilaku tersebut.
Pada tahap evaluasi,berfokus pada penilaian terhadap pengalaman belajar dan hasil belajar siswa, terutama terkait kemampuan berbicara bahasa Inggris mereka. Guru menggunakan dua metode penilaian, salah satunya melalui pedoman penilaian kemampuan berbicara. Dalam pedoman ini, guru menilai performa siswa berdasarkan empat aspek utama, yaitu sebagai berikut:
• pelafalan: menilai ketepatan dalam pengucapan dan penggunaan intonasi saat berbicara.
• kelancaran: mengukur kemampuan siswa berbicara tanpa terlalu banyak jeda atau keraguan.
• kosakata: menilai ketepatan serta variasi kata yang digunakan, terutama yang berkaitan dengan topik zat adiktif.
• ketepatan isi: mengevaluasi sejauh mana siswa mampu menyampaikan ide dan informasi dengan jelas serta sesuai konteks pembelajaran.
Dalam pelaksanaannya, guru menerapkan penilaian, formatif dan sumatif. Penilaian formatif dilakukan selama proses pembelajaran melalui berbagai latihan, seperti bermain peran, diskusi kelompok, dan penilaian antarteman. Sementara itu, penilaian sumatif dilaksanakan di akhir pembelajaran dengan menggunakan media seperti cuplikan film kampanye anti-narkoba serta presentasi hasil proyek siswa.
Selain itu, guru juga memberikan umpan balik yang bersifat membangun agar siswa dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam berbicara di depan umum, memperkaya kosakata, dan memperbaiki pengucapan mereka. Melalui proses ini, siswa tidak hanya diharapkan memahami risiko penggunaan zat adiktif, tetapi juga mampu berkomunikasi secara efektif.
Salah satu metode yang terbukti efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan bekerja sama pada tiga keterampilan penting abad ke-2 merupakan penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning/PBL) dalam mata pelajaran sains dan bahasa Inggris di tingkat sekolah menengah pertama (Hidayat & Nuraeni, 2021; Wibowo dkk., 2024).
Tujuan utama dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah mengembangkan kemampuan berbicara, yaitu kemampuan siswa untuk menyampaikan ide, pendapat, dan informasi secara jelas, logis, serta relevan dengan konteks (Nugroho & Mutiaraningrum, 2020). Namun demikian, banyak siswa masih mengalami kendala dalam berbicara bahasa Inggris karena kurangnya rasa percaya diri dan keterbatasan kosakata (Arifin, 2023).
Pendekatan PBL dengan topik zat adiktif memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Melalui metode ini, siswa tidak hanya belajar struktur bahasa, tetapi juga memahami isu sosial dan kesehatan yang berkaitan dengan materi. Topik tersebut dinilai relevan karena penyalahgunaan narkoba masih menjadi permasalahan serius di Indonesia (BNN, 2024) dan berdampak luas terhadap kehidupan remaja, baik dari sisi fisik, psikologis, maupun sosial (Wahyuni & Setiawan, 2023). Dengan demikian, pembelajaran bertema zat adiktif juga berfungsi sebagai bentuk pendidikan pencegahan (Dewi dkk., 2022).
Metode PBL sejalan dengan karakteristik pembelajaran abad ke-21, yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa dan berfokus pada pemecahan masalah nyata. Sebaliknya, pendekatan konvensional yang masih berpusat pada guru cenderung membuat siswa pasif (Syahrial & Kurniawan, 2022). Melalui PBL, siswa didorong untuk meneliti, berdiskusi, dan merancang solusi, sehingga kemampuan berpikir kritis serta kemampuan berargumentasi mereka berkembang (Hasanah, 2024).
Menurut Sari dan Widodo (2021), PBL merupakan pendekatan yang membantu siswa membangun pengetahuan baru berdasarkan situasi kehidupan nyata. Fadhilah dan Andriani (2022) menambahkan bahwa penerapan PBL dalam pembelajaran bahasa Inggris memungkinkan siswa menggunakan bahasa secara autentik, bukan sekadar mengulang pola yang diajarkan. Pendekatan ini juga terbukti meningkatkan rasa percaya diri (Rahman, 2023) dan motivasi belajar siswa (Kusuma & Hakim, 2023), dua aspek penting dalam keterampilan berbicara yang efektif.
Dalam pelaksanaannya, siswa dibagi ke dalam kelompok kecil untuk menganalisis permasalahan nyata di lingkungan siswa, seperti penyalahgunaan narkoba atau kebiasaan merokok. Konsep pembelajaran berdiferensiasi (Anggraini dkk., 2023) tercermin dalam kegiatan ini karena setiap siswa dapat menyesuaikan peran dan tanggung jawab sesuai dengan kemampuannya (Salsabila & Pratama, 2024). Tahapan kegiatan yang dilakukan mulai dari orientasi masalah, pengumpulan informasi, penyusunan solusi, presentasi hasil, hingga refleksi yang mengacu pada langkah-langkah PBL yang dikemukakan oleh Maharani dan Saputra (2022).
Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kemampuan kognitif, tetapi juga mendorong perkembangan aspek afektif siswa, seperti empati dan kesadaran sosial (Nurbaiti dkk., 2023). Selain itu, penerapan PBL terbukti dapat meningkatkan kelancaran serta ketepatan berbicara siswa (Putri dkk., 2024). Berdasarkan prinsip Kurikulum Merdeka, yang menekankan pembelajaran kontekstual dan berpusat pada siswa, metode ini membantu siswa untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan mengembangkan kepekaan sosial (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022; Rahmawati & Putri, 2023).
Dengan penerapan pendekatan ini, siswa menjadi lebih percaya diri dalam belajar, serta menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berbicara, kesadaran sosial, dan sikap preventif terhadap bahaya narkoba (Santoso & Pratiwi, 2022). Pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna, karena menggabungkan situasi kehidupan nyata dengan penggunaan bahasa Inggris secara komunikatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning/PBL) dalam pembelajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah menengah pertama, khususnya pada topik zat adiktif, terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, guru mampu menciptakan proses pembelajaran yang kreatif, bermakna, serta kontekstual. Siswa tidak hanya berlatih berbicara dalam bahasa Inggris dengan rasa percaya diri yang lebih tinggi, tetapi juga memahami isu sosial dan kesehatan yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Pendekatan PBL memberikan dampak positif dalam beberapa aspek penting pembelajaran, antara lain yaitu (1)Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan berkolaborasi, sesuai dengan tuntutan keterampilan abad ke-21. (2)Meningkatkan kelancaran, ketepatan, serta penguasaan kosakata bahasa Inggris melalui berbagai aktivitas seperti diskusi kelompok, presentasi, dan refleksi terhadap masalah nyata. (3)Menumbuhkan kesadaran sosial dan sikap preventif terhadap bahaya zat adiktif, sehingga pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan akademik, tetapi juga sebagai pendidikan karakter dan moral bagi siswa.
Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki kesiapan dan komitmen tinggi dalam menerapkan model PBL, meskipun masih terdapat beberapa kendala, seperti keterbatasan waktu, sarana, dan sumber belajar. Kendala tersebut tidak mengurangi efektivitas penerapan PBL dalam mencapai tujuan pembelajaran. Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran berbasis masalah menjadikan proses belajar lebih berpusat pada siswa (student-centered), relevan dengan konteks kehidupan nyata, serta menginspirasi siswa untuk berpikir dan bertindak secara mandiri. Pendekatan ini juga selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka, yang menekankan pentingnya pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi holistik siswa.
Kami tim PLP II (Pengenalan Lapangan Persekolahan) mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak SMP Negeri 1 Wonoayu yang memberikan izin dan kesempatan bagi kami untuk melakukan penelitian di lingkungan sekolah ini. Kami juga berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh para warga sekolah yang terlibat dalam penelitian ini. Tanpa partisipasi aktif dan dukungan dari semua pihak, penelitian ini tidak akan dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan data yang kami perlukan.
H. Wibowo, I. Prasetya, and R. Nugrahani, “Penguatan Kompetensi Abad 21 melalui Model Pembelajaran Kolaboratif,” J. Pendidik. dan Teknol., vol. 13, no. 1, pp. 22–33, 2024.
A. Hidayat and L. Nuraeni, “Penguatan Keterampilan Komunikasi Abad 21 dalam Pembelajaran,” J. Pendidik. dan Pembelajaran, vol. 12, no. 3, pp. 145–156, 2021.
R. Salsabila and K. Pratama, “Penyesuaian Tugas dan Diferensiasi dalam Pembelajaran Abad 21,” J. Inov. Belajar, vol. 7, no. 1, pp. 45–55, 2024.
Y. Rahman, “Peningkatan Kepercayaan Diri Siswa Melalui Pembelajaran Kolaboratif,” J. Psikopedagogi, vol. 11, no. 4, pp. 190–199, 2023.
R. Dewi, Y. Putra, and A. Lestari, “Pendidikan Preventif dalam Mencegah Penyalahgunaan Zat Adiktif di Sekolah,” J. Pendidik. Karakter, vol. 10, no. 4, pp. 211–222, 2022.
S. Wahyuni and T. Setiawan, “Dampak Zat Adiktif terhadap Kesehatan dan Lingkungan Sosial,” J. Kesehat. dan Masy., vol. 11, no. 1, pp. 54–63, 2023.
D. Sari and A. Widodo, “Problem-Based Learning: Konsep dan Implementasi dalam Pendidikan,” J. Pendidik. Inov., vol. 13, no. 2, pp. 89–98, 2021.
R. Fadhilah and M. Andriani, “Penerapan Model Problem-Based Learning dalam Pembelajaran Bahasa Inggris,” J. Edukasi Bhs., vol. 14, no. 3, pp. 120–130, 2022.
R. Santoso and E. Pratiwi, “The effectiveness of PBL on students’ speaking performance,” J. Bhs. dan Pembelajaran, vol. 15, no. 4, pp. 401–412, 2022.
B. N. N. (BNN), “Laporan Statistik Nasional Penyalahgunaan Narkoba Tahun 2024,” BNN Republik Indonesia, 2024.
B. Nugroho and I. Mutiaraningrum, “Defining Speaking Skill in English Language Learning Context,” J. English Lang. Teach. Res., vol. 8, no. 2, pp. 67–75, 2020.
R. Kusuma and S. Hakim, “Pengaruh Problem-Based Learning terhadap Motivasi Belajar Siswa,” J. Psikol. dan Pendidik., vol. 7, no. 1, pp. 44–53, 2023.
A. Maharani and D. Saputra, “Tahapan Implementasi Model Problem-Based Learning di Sekolah Menengah,” J. Pendidik. Dasar dan Menengah, vol. 8, no. 3, pp. 112–122, 2022.
D. Rahmawati and S. Putri, “Prinsip Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka,” J. Kurikulum dan Inov., vol. 6, no. 2, pp. 77–88, 2023.
F. Anggraini, P. Yuliana, and M. Ningsih, “Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka: Konsep dan Praktik,” J. Pendidik. Adapt., vol. 4, no. 2, pp. 99–108, 2023.
Kemendikbudristek, “Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka,” Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, 2022.
D. Nurbaiti, A. Fajar, and L. Hadi, “Dampak Ganda Pembelajaran Kolaboratif terhadap Kognitif dan Afektif Siswa,” J. Eval. Pendidik., vol. 9, no. 1 SP, 2023.
L. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017.
M. B. Miles, A. M. Huberman, and J. Saldaña, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, 3rd ed. Thousand Oaks, CA: Sage Publications, 2014.