Ahmad Nurefendi Fradana (1), Deva Amirotul Khusnah (2), Haidar Amalia (3), Galuh Nela Ananta (4), Nur Fikah Afi Aulia (5)
General Background Character education serves as a fundamental foundation for developing adaptive, tolerant, and holistic personalities among young generations in national education systems. Specific Background This descriptive qualitative study investigates the application of multicultural character education among teachers and students at Muhammadiyah elementary schools in Sidoarjo Regency. Knowledge Gap Although multicultural character education is crucial for fostering inclusivity, its practical integration often faces challenges regarding teacher readiness, student literacy limitations, and managing diverse social dynamics. Aims This study aims to analyze how multicultural character education is applied through daily school initiatives to promote moral and social development. Results Utilizing interviews, observations, and document analysis, the findings demonstrate that programs such as congregational prayers, Quran literacy initiatives, extracurricular activities, polite greeting traditions, and inclusive education effectively foster empathy, integrity, and tolerance among students. Novelty This study highlights that synergy among schools, families, and communities creates a practical social laboratory that translates theoretical multicultural concepts into everyday student behaviors. Implications These insights suggest that enhancing teacher competency and stakeholder collaboration are critical for the sustainable operation of character education aligned with Pancasila values.
Highlights:
Congregational prayers and Qur'an literacy programs effectively build student discipline, spiritual awareness, and mutual respect within a diverse environment.
Inclusive school policies, flexible learning groups, and greeting traditions successfully cultivate social manners, unity, and tolerance.
Collaborative synergy among schools, families, and communities is essential for the sustainable operational success of multicultural character development.
Keywords: Multicultural, Character Education, Elementary School, Tolerances, Values
Pendidikan merupakan suatu bagian aspek penting dalam pembangunan suatu bangsa melalui generasi-generasi muda. Pendidikan menjadi dasar utama dalam membangun masyarakat dan generasi yang cerdas serta berkelanjutan [1]. Pada Pendidikan di Sekolah Dasar yang mengorientasikan pendidikan sebagai lembaga yang memegang peranan penting dalam membentuk karakter, perilaku, dan keterampilan siswa. Menurut taksonomi Bloom, sekolah dasar adalah tempat siswa mempelajari dasar-dasar sains dan memperoleh perkembangan dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tergantung pada tahap perkembangan siswa di sekolah dasar, fondasi yang diperoleh saling berkesinambungan. Di sekolah dasar, siswa bukan sekedar tumbuh secara fisik, akan tetapi siswa juga tumbuh secara personal, akademik, sosial, serta karir [2]. Karakter peserta didik dapat dibentuk mulai dari pendidikan secara dasar melalui integrasi pendidikan karakter dan mtikultural. Pendidikan karakter merupakan salah satu fondasi penting untuk membentuk integrasi pada generasi muda yang adaptif dan toleran terhadap multikultural. Peserta didik yang sejak dini diintegrasikan mengenal pendidikan karakter menjadi alasan penting dalam pengembangan karakter mereka. Pendidikan karakter ialah pembelajaran yang mengarah pada pengembangan dan penguatan terhadap perilaku siswa secara utuh dengan landasan nilai-nilai tertentu. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan karakter di sekolah dasar (SD) bertujuan untuk membentuk kepribadian siswa yang holistik, mencakup aspek etika, moral, serta sosial [3]. Sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami berbagai penyesuaian untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang baik, termasuk integrasi nilai-nilai multikultural [4] .
Pendidikan karakter berbasis multikultural merupakan pendekatan pendidikan yang secara alami mengorientasikan pembentukan nilai karakter seperti toleransi, empati, integritas dan tanggung jawab. Multikultural ialah konsep keberagaman yang menghargai perbedaan baik itu gender, ras, budaya ataupun etnis [5]. Di jenjang sekolah dasar, pendidikan karakter berbasis multikultural diharapkan dapat mengintegrasikan kurikulum formal dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang diperkenalkan untuk pemahaman siswa terhadap lintas budaya. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan nasional yang menekankan pada pembangunan karakter bangsa melalui pendekatan yang inklusif [6]. Namun, pengimplementasian pendidikan karakter berbasis multikultural sering kali menghadapi tantangan terutama di lingkungan sekolah yang beragam. Sehingga, muncul permasalahan seperti konflik kecil akibat perbedaan, rendahnya tingkat toleransi antar siswa, dan minimnya pemahaman siswa terhadap isu multikultural di luar lingkungan sekolah. Selain itu, guru-guru di sekolah sering kali menghadapi kendala dalam merancang pembelajaran yang lintas budaya dan kurikulum yang belum sepenuhnya selaras dengan pendekatan multikultural. Permasalahan ini tidak hanya menghambat pembetukan karakter siswa khususnya tolenrasi dan empati lintas budaya tetapi juga menjadi kendala terhadap berjalannya pendidikan karakter berbasis multukultural.
Pada tingkat sekolah dasar, Pendidikan multikultural tidak hanya mengajarkan pengetahuan faktual tentang keragaman budaya, tetapi juga menanamkan sikap terbuka dan inklusif sehingga peserta didik mampu menghormati perbedaan tanpa adanya prasangka atau diskriminasi. Intergrasi pendidikan karakter multikultural sangat mendesak karena masa kanak-kanak merupakan fase krusial dalam pembentukan sikap sosial dan identitas terhadap perbedaan, Pendidikan multikultural secara signifikan dapat membentuk toleransi siswa melalui kegiatan belajar yang inklusif dan reflektif [7]. Menginternalisasi nilai-nilai multikultural di sekolah dasar dapat meningkatkan kemampuan multikultural siswa dan mendorong keterbukaan terhadap perbedaan budaya, agama, ras, dan bahasa [8]. Selain itu, manajemen kelas multikultural di sekolah dasar menunjukkan bagaimana pendekatan guru terhadap keragaman memengaruhi keberhasilan pendidikan multikultural, termasuk cara mereka menangani perselisihan antar siswa dan stereotip [9]. Mengingat kurikulum nasional seperti Profil Pelajar Pancasila dan Kurikulum Merdeka yang menekankan nilai kebhinekaan, penelitian ini diperlukan untuk mengembangkan model pendidikan karakter multikultural yang operasional, efektif, dan kontekstual di sekolah dasar.
Pendidikan multikultural memegang peranan yang sangat krusial dalam upaya meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap pentingnya kerukunan dan penghargaan terhadap keberagaman budaya yang ada di masyarakat. Melalui pendidikan ini, peserta didik dibekali dengan pemahaman yang mendalam dan menyeluruh mengenai berbagai macam budaya, nilai, norma, serta tradisi yang berbeda-beda, baik yang berasal dari lingkungan lokal, nasional, maupun global. Pendidikan multicultural memiliki dampak positif terhadap pembentukan sikap toleransi pada siswa sekolah dasar dalam konteks lokal, sehingga intervensi berbasis multikultural merupakan imperatif esensial dalam pengembangan pendidikan karakter [10]. Pendidikan karakter dari sudut pandang multikultural tidak hanya memperkaya dimensi kognitif siswa, tetapi juga dimensi afektif dan sosial, sehingga membentuk individu yang memiliki kesadaran dan sensitivitas tinggi terhadap perbedaan budaya[11]. Selain itu, pendidikan ini juga berfungsi sebagai sarana untuk membentuk sikap toleransi yang kuat, yaitu sikap saling menghargai keberadaan dan perbedaan antara satu dengan yang lain. Dengan landasan sikap tersebut, peserta didik diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dialog yang efektif dan setara antarbudaya, sehingga tercipta komunikasi yang konstruktif dan harmonis di antara berbagai kelompok masyarakat. Proses dialog antarbudaya ini sangat penting untuk membangun pemahaman bersama, mencegah konflik sosial, dan mempererat persatuan dalam bingkai keberagaman [12].
Pendidikan multikultural bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, menghormati keragaman, dan membentuk karakter siswa agar terbuka, inklusif, dan berorientasi pada harmoni sosial dalam masyarakat yang pluralistik[13]. Dengan keberagaman etnis, agama, bahasa, dan adat istiadat di Indonesia, pendidikan multikultural merupakan komponen penting dalam pendidikan kewarganegaraan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap keberagaman, toleransi, dan inklusivitas pada siswa[14]. Pendidikan multikultural kini menjadi bagian yang penting dalam membentuk sumber daya manusia, terutama di lingkungan sekolah. Selain mengajarkan ilmu pengetahuan, pendidikan ini juga berfokus pada pembentukan kepribadian siswa melalui budaya, objek, serta berbagai hal yang lainnya. Dalam konteks membentuk karakter, seluruh bagian populasi yang dimaksud bukan hanya kegiatan pembelajaran dan fasilitas saja akan tetapi juga mencakup partisipasi guru, siswa ataupun orang tua yang berperan penting dalam pembentukan karakter siswa[15]. Menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang menghormati perbedaan menjadi salah bagian dari adanya pendidikan multikultural sehingga dalam implementasinya tidak hanya mencakup pengetahuan saja. Seluruh bagian populasi tidak dilihat dari segi angka, melainkan mencakup semua bagian aspek-aspek penting yang dapat membentuk identitas sosial [16]. Guru memiliki peran penting dalam menanamkan sikap toleransi dengan menerapkan strategi pembelajaran yang inklusif dan relevan dengan kondisi sosial siswa. Selain itu, keterlibatan orang tua dan masyarakat juga sangat mendukung dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sejalan dengan nilai-nilai multikultural [17]. Dengan demikian, pendidikan multikultural di sekolah dasar berperan sebagai pondasi dalam membentuk generasi muda yang memiliki karakter, adaptif, dan mampu menjaga harmoni dalam keberagaman. Melalui penerapan yang konsisten, diharapkan terbentuk individu yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial yang tinggi.
Berdasarkan hal tersebut, tujuan dari implementasi pendidikan karakter berbasis multikultural ini terutama pada jenjang sekolah dasar diharapkan dapat memberikan manfaat dan kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan generasi yang toleran serta meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Dalam implementasi ini menjadi cara yang efisien terhadap bagaimana implementasi pendidikan karakter disekolah dasar berbasis multikultural dan faktor-faktor apa yang mempengaruhinya. Dengan menunjukkan hasil keterlibatan dan pemahaman yang lebih baik, siswa diharapkan dapat mencapai penguatan moral dan perilaku yang lebih baik. Dengan menganalisis pelaksanaan pendidikan karakter multikultural serta mengidentifikasi kebutuhan, tantangan, dan strategi yang efektif dalam pelaksanaannya. Selain itu, implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar berbasis multikultural ini juga bertujuan untuk memberikan kontribusi praktis bagi guru dan mengambil kebijakan dalam mengembangkan pendidikan karakter yang responsid terhadap keberagaman budaya serta inklusif.
Secara normatif, pendidikan karakter multikultural telah ditekankan dalam berbagai kebijakan pendidikan, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa integrasinya belum sepenuhnya operasional [18]. Dalam kurikulum secara konsep telah menekarıkan pendidikan karakater melalui kebhinekaan, akan tetapi banyak guru merasa kesulitan dalam pengimplementasiannya ke dalam pembelajaran. Penelitian sebelumnya lebih terfokus pada pendidikan multikultural secara konsep saja, namun dalam penelitiannya cenderung sedikit dalam menghasilkan model pembelajaran yang efektif untuk siswa dalam jenjang sekolah dasar. Peran sentral guru dalam pendidikan karakter di sekolah dasar sangatlah penting. Namun, keterbatasan literasi siswa akan karakter serta pedagogis masih menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Banyak guru cenderung hanya menyisipkan isu keberagaman tanpa mengembangkan strategi pembelajaran yang sistematis dan terintegrasi. Kondisi ini menegaskan perlunya kajian lebih mendalam mengenai sejauh mana kesiapan guru dalam merancang serta melaksanakan pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai karakter berbasis multikultural. Selain itu, praktik pendidikan multikultural di sekolah dasar seringkali menghadapi kendala berupa munculnya konflik kecil antar siswa, prasangka, maupun stereotip yang menghambat terbentuknya iklim kelas yang inklusif. Minimnya strategi manajemen kelas berbasis multikultural membuat guru kesulitan menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghargai antar siswa [19] .
Penelitian terdahulu memang banyak menekankan manfaat teoretis pendidikan multikultural, tetapi masih jarang meneliti secara rinci dinamika sosial nyata dalam kelas dan strategi penyelesaian konflik berbasis multikultural. Sebagai contoh, studi oleh peneliti mengenai kelas multikultural di SMA Muhammadiyah Kupang menemukan tantangan nyata seperti perbedaan gaya belajar, hambatan bahasa, dan stereotip sosial, dan guru menggunakan strategi seperti metode pembelajaran inklusif, pendekatan komunikasi adaptif, dan karakter pendidikan berbasis toleransi serta kerjasama sebagai upaya menyelesaikan konflik sosial dalam kelas. Selanjutnya, peneliti menganalisis bagaimana sekolah dasar di MI Muhammadiyah 02 Mariyai mengelola konflik multikultural melalui pendekatan: mendekati siswa untuk menemukan akar masalah konflik, komunikasi yang memberikan penjelasan dan pemahaman, serta integrasi pendidikan multikultural ke dalam mata pelajaran [20]. Selain itu, peneliti dalam studi kasus sekolah dasar menemukan bahwa strategi diferensiasi termasuk penggunaan kelompok belajar fleksibel, penggunaan bahasa lokal, serta adaptasi materi sesuai kebutuhan siswa terbukti membantu meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam kelas multikultural. Oleh karena itu, masih diperlukan penelitian yang menelusuri lebih dalam bagaimana nilai-nilai multikultural diimplementasikan dalam praktik, khususnya strategi konkret yang digunakan guru dalam menangani konflik antar siswa dari latar belakang berbeda serta menciptakan lingkungan belajar yang inklusif yang mereduksi ketegangan sosial dalam interaksi kelas [21].
Pendidikan multikultural tidak hanya harus dibangun di sekolah, tetapi juga diperkuat melalui peran aktif keluarga dan masyarakat. Di Indonesia dan konteks internasional terkini, sinergi antara sekolah, orang tua, dan komunitas dalam mendukung pendidikan karakter berbasis multikultural masih relatif rendah, meskipun keterlibatan ketiga aktor ini krusial untuk membentuk lingkungan sosial yang menghormati keberagaman. Misalnya, peneliti menemukan bahwa lingkungan keluarga memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk kesadaran multikultural dan cara sikap anak terhadap keragaman budaya di Kabupaten Jember, namun sekolah formal masih lebih fokus pada aspek akademik dibanding internalisasi nilai-nilai multikultural yang nyata. Di sisi lain, peneliti lain menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua imigran dalam pendidikan anak dipengaruhi oleh sensitivitas budaya dan iklim keberagaman di sekolah, sehingga partisipasi keluarga akan rendah bila sekolah tidak menyediakan ruang kolaboratif yang inklusif. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa meskipun peran keluarga dan komunitas telah diakui, penelitian masih jarang menelaah secara spesifik bagaimana sinergi antara sekolah, orang tua, dan komunitas dapat diorganisasi secara sistematis dalam konteks Indonesia. Dengan demikian, masih terdapat kesenjangan penelitian mengenai strategi konkret kolaborasi aktor eksternal khususnya keluarga dan komunitas dalam mendukung pendidikan multikultural di sekolah, termasuk bagaimana kolaborasi tersebut dapat memperkuat pendidikan karakter berbasis keberagaman dan toleransi [22].
Banyak studi terdahulu tentang pendidikan multikultural di Indonesia memang masih menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang lebih menekankan eksplorasi nilai-nilai seperti pemahaman budaya, toleransi, dan inklusivitas, namun belum banyak yang menguji intervensi sistematis untuk melihat efeknya terhadap pendidikan karakter di sekolah dasar. Misalnya, penelitian menganalisis bagaimana nilai-nilai multikultural diintegrasikan dalam pembelajaran PPKn dan Pendidikan Agama Islam serta kegiatan ekstrakurikuler, tetapi cakupannya masih deskriptif dan belum memasukkan desain eksperimen yang mengukur perubahan karakter siswa secara kuantitatif [23]. Penelitian Implementasi Nilai Pendidikan Multikultural terhadap Pembentukan Karakter di SDN Wanasari I juga menggunakan studi kasus kualitatif untuk memetakan bagaimana karakter toleransi terbentuk melalui integrasi nilai multikultural dalam berbagai mata pelajaran dan kultur sekolah, namun belum ada kontrol atau pembanding untuk mengetahui efektivitas relatif model atau strategi tertentu. Sementara itu, studi Pengembangan Model Pembelajaran Multikultural Terintegrasi Mata Pelajaran IPS di Sekolah Dasar menunjukkan bahwa model modul pembelajaran multikultural terintegrasi dan model manajemen sekolah bisa diterima guru dan kepala sekolah, tetapi belum diuji dampaknya terhadap karakter siswa dalam desain eksperimen dengan kelompok control [24].
Penelitian ini memfokuskan dalam analisis yang memperlihatkan penerapan yang nyata pendidikan karakter berbasis multikultural di tingkat sekolah dasar. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih fokus dalam pembahasan mengenai pentingnya pendidikan multikultural secara teori dan normatif, penelitian ini melihat secara langsung bagaimana para guru mengintegrasikan nilai-nilai multikultural ke dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari. oleh karena itu penelitian ini memberikan contoh nyata mengenai cara guru menggunakan pendekatan multikultural dalam membentuk karakter siswa, termasuk bagaimana nilai-nilai seperti toleransi, empati, dan sikap inklusif dapat ditanamkan sejak awal di dalam kelas. Selain itu, penelitian ini juga menekankan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mendukung pendidikan karakter yang berlandaskan nilai multikultural. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih fokus pada peran sekolah sendiri, penelitian ini memperhatikan pentingnya kerja sama yang terstruktur antara guru, orang tua, dan masyarakat sebagai pihak yang penting dalam meningkatkan keberhasilan pendidikan multikultural. Pendekatan ini masih jarang diteliti secara mendalam dalam konteks pendidikan dasar di Indonesia, sehingga diharapkan penelitian ini dapat menemukan informasi baru yang lebih lengkap terkait strategi kolaboratif dalam membentuk siswa yang memiliki karakter toleran, inklusif, dan mampu beradaptasi dengan keragaman budaya [25].
Walaupun Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila secara eksplisit menekankan pentingnya nilai kebhinekaan global, toleransi, dan gotong royong sebagai bagian dari dimensi karakter yang harus dikembangkan pada peserta didik, implementasi kebijakan tersebut di tingkat sekolah dasar sering kali belum konsisten. Banyak sekolah masih menerapkan pendekatan konvensional yang berfokus pada aspek kognitif dan akademik semata, sementara pembentukan karakter dan sikap multikultural belum menjadi prioritas utama [26]. Dari peneliti mencatat bahwa meskipun wacana pendidikan multikultural semakin berkembang dalam kebijakan pendidikan nasional, transformasi pada praktik pembelajaran di kelas masih menghadapi berbagai hambatan, seperti kurangnya pelatihan guru, keterbatasan sumber daya, dan tekanan capaian akademik. Kemudian peneliti menambahkan bahwa ketidaksesuaian antara kebijakan dan pelaksanaan di lapangan menciptakan kesenjangan yang menghambat pencapaian tujuan pendidikan karakter [27].
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Tujuan penelitian deskriptif kualitatif adalah memperoleh gambaran faktual dan mendalam mengenai implementasi pendidikan karakter berbasis multikultural di sekolah dasar. Pendekatan ini dipilih karena mampu menjelaskan secara detail proses, strategi, serta dinamika guru dalam menanamkan nilai-nilai multikultural, toleransi, empati, dan sikap inklusif kepada siswa. Dalam pendekatan kualitatif berfungsi untuk menggambarkan atau menjelaskan fakta, data, serta objek penelitian secara mendetail dan sistematis yang sulit di ukur menggunakan angka yang disesuaikan dengan kondisi dan konteks lingkungan alaminya yang menekankan proses dari pada hasil [28].
Penelitian dilaksanakan di SD Muhammadiyah yang berada diwilayah Kabupaten Sidoarjo. Subjek penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu dengan menentukan sampel sesuai dengan kriteria yang berdasarkan tujuan penelitian [29]. Pada teknik purposive sampling dilakukan dengan memilih guru-guru kelas yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran, serta siswa siswi sekolah dasar yang mengalami proses pendidikan karakter multikultural di dalam kelas. Data penelitian diperoleh melalui teknik wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi dengan memperoleh data pendukung dari dokumen kegiatan pembelajaran yang relevan dengan pendidikan multikultural.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis interaktif model Miles dan Huberman yang meliputi beberapa tahapan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penerikan kesimpulan, sehingga menjadi sebuah data yang dapat menjawab rumusan masalah penelitian [28]. Untuk menjamin keabsahan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik, yaitu membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi [28], [29]. Hal ini dilakukan agar data yang diperoleh lebih kredibel dan objektif.
Studi ini melihat bagaimana pendidikan karakter multikultural diterapkan di sekolah dasar, terutama di SD Muhammadiyah Kabupaten Sidoarjo. Hasil penelitian kualitatif yang melibatkan wawancara, observasi, dan dokumentasi memberikan gambaran tentang bagaimana guru menerapkan prinsip multikultural dalam pembelajaran sehari-hari [30]. Dengan menerapkan pendidikan karakter multikultural, siswa belajar untuk menerima dan menghargai orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Strategi manajemen kelas yang inklusif, seperti pendekatan dialog dan pengelolaan kelompok belajar yang fleksibel, membantu guru mengatasi masalah seperti stereotip dan konflik kecil [31]. Dalam kegiatan belajar mereka di SD Muhammadiyah, guru menerapkan prinsip toleransi, empati, dan sikap inklusif. Mereka melakukan ini melalui diskusi tentang keberagaman budaya dan penghormatan terhadap perbedaan. Siswa juga belajar lebih banyak tentang multikulturalisme melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti seni dan kearifan lokal [32]. Hasil penelitian mengenai Pendidikan karaktet di sekolah dasar yang berbasis multikultural dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut:
Kegiatan rutin seperti shalat Dhuha dan Dhuhur secara berjamaah efektif dalam membentuk karakter keagamaan siswa sekolah dasar. Hal ini dibuktikan melalui penerapan pendidikan karakter keagamaan melalui shalat berjamaah. Selain mengajarkan ibadah ritual, kegiatan ini menumbuhkan disiplin diri, tanggung jawab, persatuan, dan kesadaran sosial yang lebih tinggi. Shalat berjamaah memperkuat nilai-nilai solidaritas dan saling menghormati dengan mengajarkan siswa cara hidup berdampingan secara damai dan menghargai keragaman dalam lingkungan sekolah multikultural. Teori pembentukan karakter, yang menekankan pembiasaan perilaku positif melalui pengulangan, sejalan dengan strategi ini [33].
Shalat berjamaah di sekolah merupakan praktik rutin yang berfungsi sebagai alat yang efektif dalam mendidik dan membentuk karakter keagamaan siswa, termasuk aspek sosial dan spiritualnya. Melalui shalat berjamaah, siswa belajar untuk disiplin dalam menunaikan shalat tepat waktu, yang secara halus menanamkan rasa tanggung jawab sosial dan pribadi. Mengembangkan karakter yang dapat diandalkan dan konsisten membutuhkan manajemen waktu yang baik. Selain itu, karena ibadah dilakukan secara kolektif, nilai-nilai solidaritas dan persatuan ditanamkan. Saat belajar hidup berdampingan dengan keragaman, terlepas dari latar belakang sosial, budaya, atau agama mereka, siswa belajar menghormati dan menghargai perbedaan. Ibadah jamaah memberikan kesempatan untuk meningkatkan kohesi sosial dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah dari perspektif pendidikan multikultural.
Siswa belajar nilai toleransi dan menjaga hubungan sosial yang positif dengan teman sekelas dari latar belakang yang berbeda melalui ibadah bersama. Shalat berjamaah bukan hanya kewajiban, tetapi juga pengalaman yang signifikan dan berkelanjutan dalam pembentukan karakter, karena peran penting yang dimainkan oleh guru dalam mendorong, mencontohkan, dan memfasilitasi kebiasaan ini. Efektivitas pembentukan karakter ini didukung lebih lanjut oleh kerja sama dengan orang tua, fasilitas yang mendukung, dan lingkungan sekolah.
Selain menekankan keahlian teknis dalam membaca dan menulis Al-Qur'an, program BTQ sangat berhasil dalam membantu siswa mengembangkan sifat-sifat karakter yang penting seperti disiplin, kesabaran, dan ketekunan. Siswa belajar untuk bersabar ketika dihadapkan pada hambatan belajar dan mengembangkan ketekunan agar dapat terus meningkatkan kualitas membaca dan menulis mereka melalui proses belajar yang berkelanjutan dan terstruktur. Untuk membentuk kepribadian religius siswa, prinsip-prinsip ini memberikan dasar moral yang kokoh. Ketekunan juga ditanamkan, dan siswa didorong untuk tetap teguh dan tidak menyerah saat menghadapi tantangan belajar. Siswa memperoleh disiplin melalui keterampilan manajemen waktu dan tanggung jawab yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas akademik mereka melalui partisipasi teratur dalam kegiatan BTQ yang direncanakan [34].
Program BTQ sangat penting untuk membantu siswa mengembangkan prinsip-prinsip moral mereka, selain memberikan keterampilan teknis dalam membaca dan menulis Al-Qur'an. Proses pembelajaran BTQ mengajarkan siswa nilai kesabaran, yang sangat penting untuk membantu mereka menjadi pembaca dan penulis yang mahir, karena belajar membaca dan menulis Al-Qur'an memerlukan ketekunan dan latihan berulang. Program BTQ juga membantu membangun karakter multikultural siswa dengan mengajarkan mereka untuk menghormati perbedaan kemampuan teman sebaya mereka. Pada kenyataannya, siswa yang lebih terampil didorong untuk membantu teman sebayanya yang kurang berpengalaman, yang mempromosikan toleransi, empati, dan persatuan. Siswa yang menggunakan pendekatan pembelajaran kolaboratif ini belajar bahwa setiap orang berbeda dan memiliki kecepatan belajar yang bervariasi. Mereka juga belajar bahwa sangat penting untuk saling mendukung tanpa membuat mereka merasa superior atau inferior.
Program BTQ menumbukan sikap toleransi dan pemahaman terhadap perbedaan kemampuan siswa dari perspektif multikultural. Siswa yang sudah mahir diberi kesempatan dan dibimbing secara aktif untuk membantu teman sekelasnya yang masih belajar saat program BTQ diterapkan. Selain meningkatkan prestasi akademik siswa yang belajar lebih lambat, proses saling membantu ini membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai empati, kebersamaan, dan kerja sama yang erat. Siswa memperoleh pengalaman praktis dalam menghargai keragaman dan bekerja sama dalam lingkungan yang ramah dan damai.
Lingkungan belajar yang mendukung dan berkolaborasi ini adalah contoh sempurna dari pendidikan karakter multikultural, di mana setiap orang dihargai atas keunikan mereka dan didorong untuk memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi kelompok. Oleh karena itu, selain membentuk karakter moral keagamaan, program BTQ menumbuhkan rasa hormat dan keseimbangan antara siswa dari latar belakang yang berbeda. Guru PAI membantu program ini dengan bertindak sebagai mentor, fasilitator, dan motivator untuk memastikan nilai-nilai karakter ini dikembangkan dan ditanamkan dengan baik di sekolah. Kesuksesan program BTQ sebagai program pengembangan karakter yang komprehensif juga didukung oleh dukungan orang tua dan fasilitas sekolah yang memadai.
Siswa dapat menjelajahi minat dan bakat unik mereka tanpa merasa terpinggirkan berkat beragam kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia. Mereka memperoleh kemampuan untuk menerima perbedaan dalam preferensi pribadi serta latar belakang budaya atau sosial melalui cara ini. Perkembangan kepribadian yang toleran dan ramah sangat bergantung pada pola pikir inklusif dan kemampuan beradaptasi dengan keragaman ini. Untuk mendorong, mendukung, dan membimbing siswa agar aktif berpartisipasi dan menghargai keragaman dalam semua kegiatan, guru dan penasihat ekstrakurikuler memainkan peran yang sangat penting. Cara cerdas untuk mempromosikan pengembangan karakter multikultural yang menyenangkan dan bermanfaat di luar kelas adalah melalui kegiatan ekstrakurikuler [35].
Kegiatan ekstrakulikuler seperti mewarnai, Hizbul Wathan (HW), Tapak Suci, dan kegiatan seni budaya hanyalah beberapa contoh kegiatan ekstrakurikuler yang secara strategis mendukung pendidikan karakter multikultural di sekolah dasar. Misalnya, mewarnai adalah alat pendidikan non-formal yang ampuh untuk membantu siswa mengembangkan kreativitas mereka dan memahami berbagai cara ekspresi artistik. Ini memungkinkan siswa untuk menerima gagasan bahwa setiap orang memiliki gaya ekspresi diri yang berbeda dan sama pentingnya. Aktivitas mewarnai meningkatkan kreativitas siswa dan meningkatkan apresiasi mereka terhadap berbagai bentuk ekspresi seni. Proses ini mengajarkan siswa bahwa setiap orang mengekspresikan diri dengan cara yang berbeda; ini membentuk fondasi untuk menerima dan menghargai perbedaan individu.
Melalui berbagai kegiatan pramuka setelah sekolah, Hizbul Wathan mengajarkan nilai-nilai disiplin, kepemimpinan, dan kerja sama tim kepada siswa. Mereka belajar cara bekerja sama, menghargai pekerjaan semua orang dalam tim, dan mendorong solidaritas sosial dalam keberagaman. Hizbul Wathan, sebuah kelompok pramuka di bawah naungan Muhammadiyah, berfungsi sebagai tempat pelatihan disiplin, kepemimpinan, dan kebersamaan. Siswa memperoleh keterampilan kerja sama, apresiasi terhadap peran orang lain, dan rasa solidaritas dalam menghadapi keragaman sosial dan budaya melalui kegiatan kelompok dan pramuka.
Seni bela diri Tapak Suci mengajarkan nilai-nilai seperti sportivitas, rasa hormat, dan toleransi terhadap perbedaan kemampuan setiap orang selain menjadi latihan fisik. Para siswa belajar untuk menghormati lawan mereka dan bersikap adil dalam kompetisi sebagai bagian dari pengalaman sosial yang membangun karakter inklusif dan kemampuan beradaptasi terhadap keragaman sosial dan budaya. Pencak silat tradisional, juga dikenal sebagai seni bela diri kaki suci, menanamkan rasa sportivitas dan rasa hormat pada peserta dan meningkatkan apresiasi terhadap perbedaan fisik. Menunjukkan persaingan yang adil dan menghormati lawan mengajarkan kita tentang cara menerima perbedaan dengan cara yang optimis dan inklusif. Para siswa diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka sambil belajar menerima perbedaan dalam minat dan latar belakang sosial berkat berbagai pilihan kegiatan ekstrakurikuler yang beragam. Proses ini menumbuhkan pola pikir inklusif dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perbedaan, keduanya merupakan komponen penting dalam pendidikan karakter multikultural.
Dari sudut pandang multikultural, salam bukan hanya sekadar adat istiadat budaya, ia memiliki makna universal yang dapat meningkatkan toleransi terhadap berbagai norma sosial dalam lingkungan kelas multikultural. Terlepas dari latar belakang budaya, sosial, atau ekonomi, praktik ini mengajarkan siswa untuk menghormati perbedaan dan berinteraksi dengan orang lain dengan sikap inklusif yang penuh hormat. Akibatnya, kebiasaan salam memelihara nilai-nilai kesopanan sosial dan solidaritas, yang berguna dalam menjaga perdamaian di lingkungan pendidikan yang pluralistik. Guru memainkan peran penting dalam mempromosikan kebiasaan salim sebagai sarana memperkuat nilai-nilai karakter. Mereka tidak hanya memberikan contoh dengan melakukan salim satu sama lain, tetapi juga secara aktif mendorong dan mengingatkan siswa untuk melanjutkan tradisi ini. Siswa lebih termotivasi untuk mempraktikkan nilai kesopanan ini ketika mereka menerima penguatan positif berupa senyuman dan ucapan terima kasih [36]
Kebiasaan bertemu guru di gerbang sekolah setiap pagi merupakan latihan pembentukan kebiasaan yang sangat disengaja, yang membantu siswa mengembangkan nilai-nilai seperti kerendahan hati, sopan santun, dan rasa hormat sejak usia dini. Selain sebagai tanda penghormatan fisik, kegiatan ini mengajarkan bahwa interaksi yang sopan dan empati dengan orang lain terutama mereka yang berada dalam posisi otoritas seperti guru, merupakan komponen penting dari interaksi sosial yang sehat. Salam membantu siswa belajar mengendalikan sikap dan perilaku mereka saat berinteraksi dengan orang yang sopan. Pada akhirnya, ini akan membantu mereka mengembangkan karakter sosial yang positif. Pandangan multikultural berpendapat bahwa tradisi salim sangat penting untuk membangun toleransi terhadap berbagai norma sosial. Dalam lingkungan pendidikan yang pluralistik, keberagaman dari berbagai latar belakang sosial, agama, etnis, dan budaya membutuhkan pola pikir yang menerima dan menghargai perbedaan.
Menghormati orang lain bukan hanya kewajiban pribadi tetapi juga bagian dari etika sosial universal yang memperkuat solidaritas sosial dan hubungan emosional antara berbagai kelompok. Siswa yang mengikuti tradisi salim belajar hal ini. Hal ini menghasilkan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan fleksibel di sekolah yang menghargai keragaman sosial. Ketika guru dan siswa saling menyapa secara teratur, mereka memiliki ikatan emosional yang lebih kuat. Ketika guru berinteraksi langsung dengan siswa melalui jabat tangan dan gestur hangat, seperti senyuman dan sapaan, siswa merasa diperhatikan dan dihargai. Hal ini meningkatkan motivasi mereka dan membuatnya lebih mudah untuk belajar. Ikatan emosional yang kuat ini berfungsi sebagai dasar psikologis untuk perkembangan karakter siswa secara keseluruhan.
Guru yang secara teratur menyapa siswa, karyawan, dan guru lainnya memberikan contoh yang baik untuk kebiasaan ramah. Penguatan positif seperti pujian dan apresiasi diberikan kepada siswa yang rajin mengikuti kebiasaan ini, mendorong mereka untuk berpartisipasi aktif dan mempertahankan keteraturan dalam kebiasaan. Menurut penelitian, tradisi seperti salam memengaruhi interaksi sosial siswa dengan cara memengaruhi rasa percaya diri mereka, empati mereka, dan disiplin mereka, serta cara mereka berperilaku sopan dan menghormati orang lain. Perilaku seperti ini memperkuat nilai-nilai sosial yang berasal dari keragaman budaya dan norma sosial umum. Ini juga memengaruhi cara siswa berperilaku di masyarakat dan di rumah.
Di sekolah inklusif, di mana siswa tidak hanya diajarkan teori toleransi tetapi juga cara hidup harmonis dengan keragaman, penerapan nilai-nilai toleransi menjadi praktik nyata dalam pendidikan karakter multikultural. Saling membantu dan sikap menghormati keragaman menjadi bagian integral dari proses pendidikan, yang memupuk hubungan sosial yang inklusif dan fleksibel. Dengan menggunakan berbagai teknik seperti habituasi, diskusi kelompok, dan penguatan positif, guru dapat secara efektif mengintegrasikan nilai toleransi ke dalam aktivitas pengajaran dan pembelajaran. Siswa menjadi lebih mudah memahami dan menerima keragaman sebagai kekuatan rather than sebagai hambatan sebagai hasilnya. Selain sebagai lokasi fisik untuk belajar bersama, sekolah inklusif juga berfungsi sebagai alat pengajaran multikultural yang efektif yang menumbuhkan toleransi, empati, dan solidaritas sebagai pilar integrasi sosial dan pendidikan yang harmonis di kelas tradisional [37].
Sebagai sekolah inklusif yang menerima siswa dengan berbagai kebutuhan dan kondisi, proses belajar-mengajar berlangsung dalam lingkungan yang sangat mendukung pengembangan nilai-nilai seperti empati, solidaritas, dan toleransi. Siswa di sekolah inklusif biasanya berteman dengan teman sebaya yang memiliki berbagai keterampilan sosial, kognitif, dan fisik. Melalui pengalaman ini, siswa memiliki kesempatan langsung untuk benar-benar menghargai dan menghormati perbedaan, yang mendorong mereka untuk bekerja sama dan saling menghormati. Praktik toleransi diterapkan di sekolah inklusif, melampaui sekadar teori, melalui interaksi sehari-hari dan kegiatan belajar yang inklusif. Siswa dengan kebutuhan khusus menerima bantuan tambahan di kelas reguler untuk membuat lingkungan belajar yang ramah dan mendukung. Anak-anak belajar hidup berdampingan dengan damai dalam situasi ini meskipun mereka memiliki perbedaan.
Selain itu, guru dan karyawan sekolah dapat membantu siswa mengembangkan sikap toleran dengan menggunakan pendekatan pengajaran responsif dan memperkuat nilai-nilai sosialUntuk mendorong empati dan persatuan, proyek kolaboratif, percakapan, dan aktivitas kelompok sering digunakan. Rasa hormat siswa satu sama lain diperkuat melalui penguatan positif secara teratur, yang juga meningkatkan lingkungan kelas yang terbuka dan ramah. Selain itu, menanamkan nilai-nilai toleransi di kelas bermanfaat bagi perkembangan sosial dan emosional siswa secara umum dengan membantu mereka menerima perbedaan latar belakang sosial, agama, dan budaya dalam lingkungan yang menerima dan tidak diskriminatif. Ini adalah contoh praktis pendidikan karakter multikultural yang menekankan nilai keragaman dan hidup berdampingan secara damai.
Agama, disiplin, toleransi, empati, sportivitas, dan sopan santun hanyalah beberapa dari banyak nilai inti yang ditanamkan oleh sinergi program ini. Dalam konteks agama, disiplin dan spiritualitas siswa diperkuat melalui rutinitas ibadah mereka. Melalui pembelajaran berkelompok, program BTQ menumbuhkan kesabaran dan kebersamaan selain mengajarkan keterampilan agama. Kreativitas, kepemimpinan, sportivitas, dan apresiasi terhadap keragaman dapat dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Dalam interaksi sosial, tradisi salam menanamkan rasa hormat dan sopan santun. Sementara itu, pengalaman bersama dalam berinteraksi dengan perbedaan dalam lingkungan inklusif secara langsung menanamkan nilai-nilai empati dan toleransi. Sinergi ini juga menunjukkan bahwa pendidikan karakter multikultural meresap ke setiap aspek kehidupan sekolah dan tidak terbatas pada materi pembelajaran formal. Selain mempersiapkan siswa menjadi warga global yang menghargai keragaman dan dapat berpartisipasi aktif dalam masyarakat pluralistik, pendekatan terintegrasi ini memfasilitasi transformasi karakter yang lebih efektif dan berkelanjutan [38].
Integrasi upaya untuk membentuk karakter siswa secara holistik ditunjukkan oleh sinergi yang kuat antara berbagai program sekolah, termasuk praktik keagamaan, program Baca dan Tulis Al-Qur'an (BTQ), kegiatan ekstrakurikuler, pengajaran etika seperti tradisi salam, dan praktik inklusif di sekolah inklusif. Program-program ini bekerja sama untuk membuat lingkungan pendidikan yang mendorong toleransi, empati, disiplin, sportivitas, etika yang baik, dan tema keagamaan. Siswa menjadi lebih disiplin dan lebih sadar secara spiritual jika mereka beribadah secara teratur. Program BTQ meningkatkan solidaritas sosial dan ketekunan melalui pengajaran gotong royong. Kegiatan ekstrakurikuler menanamkan sportivitas, kreativitas, dan kepemimpinan selain memberikan apresiasi terhadap berbagai minat dan keterampilan.
Dalam tradisi salim, nilai-nilai kesopanan dan rasa hormat ditanamkan dalam hubungan antar individu. Secara khusus, siswa belajar menerima perbedaan latar belakang dan keterampilan dalam lingkungan yang inklusif, yang meningkatkan kemampuan mereka untuk memahami dan menerima orang lain. Program ini berfungsi sebagai laboratorium sosial di mana siswa mempelajari karakter multikultural secara dinamis, nyata, dan berkelanjutan. Ini tidak hanya termasuk dalam kegiatan ekstrakurikuler atau kurikulum resmi. Melalui pengalaman berinteraksi dan bekerja sama dalam berbagai konteks sosial di sekolah, siswa dididik untuk menjadi individu yang fleksibel dan responsif terhadap dinamika masyarakat pluralistik dan tantangan global. Selain itu, kerja sama yang efektif antara pendidik, sekolah, keluarga, dan masyarakat berkontribusi pada keberhasilan program ini. Pemangku kepentingan yang berbeda akan mendukung dan mendorong pengembangan karakter melalui pendekatan multikultural yang terintegrasi dan kontekstual.
Dengan mempromosikan spiritualitas dan disiplin melalui kebiasaan ibadah dan BTQ (pembacaan Al-Quran), program-program pembentukan kebiasaan ini secara langsung menanamkan komponen-komponen utama Profil Siswa Pancasila, terutama dimensi keyakinan dan ketaatan kepada Allah Yang Maha Kuasa serta karakter mulia. Selain itu, nilai-nilai empati, solidaritas, dan toleransi yang muncul dari berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan praktik inklusif menunjukkan bagaimana aspek kerja sama mutual dan keragaman global diperkuat. Karakter mulia dan kemandirian dalam interaksi sosial dengan kerendahan hati dan rasa hormat ditanamkan melalui tradisi salim dan kebiasaan sopan santun. Program ini secara keseluruhan bukan sekadar teori atau pengajaran di kelas; melainkan, program ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa untuk membentuk kebiasaan yang mendalam yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Laboratorium sosial yang dibentuk di lingkungan sekolah melalui kombinasi program-program ini berfungsi sebagai lingkungan belajar bagi orang-orang dari latar belakang yang berbeda dalam hal kemampuan, agama, dan budaya[39].
Semua program pembentukan kebiasaan di sekolah, termasuk praktik keagamaan, program Baca dan Tulis Al-Qur'an (BTQ), kegiatan ekstrakurikuler, pengajaran etika melalui tradisi salam, dan praktik inklusif di sekolah inklusif, memiliki korelasi langsung dengan Tujuan Profil Siswa Pancasila. Profil Siswa Pancasila dibuat untuk Kurikulum Merdeka oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Ini adalah kerangka nilai dan keterampilan penting. Profil ini menekankan enam dimensi utama: iman, ketaatan kepada Allah Yang Maha Kuasa, karakter mulia, dan keragaman global. Program pembentukan kebiasaan ini memengaruhi aspek keagamaan melalui nilai-nilai spiritual dan moral dengan menanamkan rasa toleransi, empati, dan solidaritas dalam kehidupan sehari-hari siswa. Program-program ini juga memperkuat keragaman di seluruh dunia.
Ritual keagamaan dan BTQ, misalnya, menumbuhkan disiplin dan keyakinan, sementara berbagai kegiatan ekstrakurikuler menumbuhkan inklusivitas, kreativitas, dan kepemimpinan. Kebiasaan sopan santun, seperti tradisi salam, menanamkan nilai-nilai kerendahan hati dan rasa hormat. Sementara itu, sebagai pengakuan terhadap keragaman dunia, lingkungan inklusif menumbuhkan rasa hormat terhadap perbedaan keterampilan dan latar belakang sosial. Program ini, yang menciptakan laboratorium sosial, memungkinkan siswa secara langsung mengalami kehidupan multikultural yang damai di sekolah. Nilai-nilai Pancasila menjadi sifat yang tertanam dalam diri siswa dan membentuk identitas mereka sesuai dengan Pancasila. Nilai-nilai ini tidak hanya diajarkan secara teoretis tetapi juga ditunjukkan melalui tindakan sehari-hari mereka.
Oleh karena itu, pendidikan karakter multikultural berhasil diwujudkan secara menyeluruh dan menyeluruh melalui penggabungan dan kerja sama kebiasaan. Siswa tidak hanya belajar menjadi cerdas dan berdedikasi, tetapi mereka juga belajar pemikiran kritis, kreativitas, kemandirian, kerja sama, dan bagaimana hidup secara damai dan inklusif dalam keragaman. Program pembentukan kebiasaan di sekolah menunjukkan bagaimana pendidikan karakter multikultural berdampak pada Profil Siswa Pancasila. Program-program ini memberikan dasar yang kokoh bagi siswa untuk menjadi generasi masa depan bangsa yang patuh, berakhlak mulia, dan menghormati keberagaman.
Sekolah dasar, terutama SD Muhammadiyah di Kabupaten Sidoarjo, dapat berhasil menerapkan pendidikan karakter multikultural. Melalui berbagai strategi, termasuk manajemen kelas inklusif, dialog, dan pengelolaan kelompok belajar yang fleksibel, pendidik telah berhasil mengintegrasikan nilai-nilai toleransi, empati, dan inklusivitas ke dalam proses belajar sehari-hari. Karakter siswa juga sangat dipengaruhi oleh kegiatan ekstrakurikuler, kebiasaan saling menyapa, praktik berdoa secara berjamaah, dan lingkungan pendidikan yang inklusif. . Pendidikan karakter multikultural ini membentuk siswa dalam domain sosial, etika, dan akademik, menumbuhkan rasa saling menghormati terhadap keragaman budaya.
Pada kegiatan interaksi sehari-hari dan pembelajaran responsif, sekolah inklusif di mana siswa dari berbagai latar belakang dan kebutuhan belajar bersama dalam harmoni juga berperan signifikan dalam pengembangan nilai-nilai seperti empati dan toleransi. Ekosistem pendidikan yang efisien untuk menginternalisasi pendidikan karakter multikultural secara menyeluruh terbentuk melalui kolaborasi berbagai inisiatif sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan menanamkan nilai-nilai iman, ketaatan, karakter mulia, dan apresiasi terhadap keragaman di seluruh dunia, pengembangan karakter ini juga membantu siswa mencapai Profil Siswa Pancasila. Kerja sama antara pendidik, sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat sepenuhnya dan berkelanjutan mewujudkan pendidikan karakter berbasis multikultural, mendukung perkembangan siswa menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga berakhlak mulia dan peka terhadap keragaman budaya.
Dengan interaksi sehari-hari dan pembelajaran responsif, sekolah inklusif di mana siswa dari berbagai latar belakang dan kebutuhan belajar bersama dalam harmoni juga berperan signifikan dalam pengembangan nilai-nilai seperti empati dan toleransi. Ekosistem pendidikan yang efisien untuk menginternalisasi pendidikan karakter multikultural secara menyeluruh terbentuk melalui kolaborasi berbagai inisiatif sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan menanamkan nilai-nilai iman, ketaatan, karakter mulia, dan keragaman global dalam kehidupan sehari-hari siswa, pendidikan karakter multikultural secara langsung berkontribusi pada pencapaian Profil Siswa Pancasila. Siswa yang menerima pendidikan terpadu berkembang menjadi individu yang mandiri, kritis, dan kreatif yang dapat hidup berdampingan secara damai dengan keragaman budaya selain memiliki kecerdasan akademis yang tinggi.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran multikultural untuk mendukung keberhasilan pendidikan karakter multikultural di sekolah dasar. Selain itu, diperlukan pembentukan model pembelajaran yang lebih kolaboratif dan berguna antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Tantangan seperti tekanan akademik, kekurangan dana, dan guru yang tidak siap harus diatasi agar pendidikan karakter multikultural berhasil dan berkelanjutan. Mengingat nilai-nilai Pancasila dan kesulitan dalam masyarakat pluralistik saat ini, pendidikan karakter multikultural di sekolah dasar merupakan langkah strategis untuk menciptakan generasi mendatang yang inklusif, toleran, dan berakhlak mulia.
Peneliti menyampaikan rasa terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi dan dukungan dalam penyelesaian penelitian ini. Peneliti secara khusus ucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 5 Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur yang telah memberikan izin dan dukungan penuh dalam pelaksaan penelitian ini, Guru-guru di SD Muhammadiyah 5 Porong yang telah memberikan kesediaannya meluangkan waktu untuk berpartisipasi aktif dalam berbagi informasi yang penting bagi penelitian ini, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah memberikan dukungan dan fasilitas dalam pelaksanaan penelitian ini.
A. Sujana and W. Sopandi, Model-Model Pembelajaran Inovatif: Teori dan Implementasi, 2020.
E. Melianti, D. Handayani, F. Novianti, S. Syahputri, and S. A. Hasibuan, “Pentingnya pendidikan yang ada di sekolah dasar,” Jurnal Pendidikan dan Konseling, vol. 5, no. 1, pp. 3549–3554, 2023.
H. Isnaini and R. Fanreza, “Pentingnya pendidikan karakter di sekolah,” Semantik: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya, vol. 2, no. 4, pp. 279–297, 2024, doi: 10.61132/semantik.v2i4.1130.
M. Agustian, K. S. Hilman, and R. Purwansi, “Penerapan pendidikan multikultural di sekolah dasar berbasis agama Islam, Katolik, dan Buddha,” Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, vol. 6, no. 2, pp. 551–559, 2023, doi: 10.24912/jmishumsen.v6i2.15261.2022.
A. Ramli Raffli Rasyid et al., “Pentingnya pendidikan multikultural dalam konteks Pancasila di masyarakat,” Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, vol. 7, pp. 3648–3655, 2024.
I. Basri, “Evaluasi pembelajaran sekolah dasar (SD) berbasis pendidikan karakter dan multikultural,” Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, vol. 1, no. 4, p. 247, 2017, doi: 10.23887/jisd.v1i4.12593.
A. Prasetyo, L. ’Adilah Hayya, and F. Fauzi, “The role of multicultural education in shaping the character of student tolerance,” 2023, doi: 10.4108/eai.26-11-2022.2339378.
M. Mardhiah et al., “Internalization of multicultural education in improving students’ multicultural competence,” Journal of Education and Health Promotion, vol. 13, p. 204, 2024, doi: 10.4103/jehp.jehp.
M. Mastur, “Multicultural classroom management of students in elementary schools,” AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan, vol. 15, no. 4, pp. 5131–5139, 2023, doi: 10.35445/alishlah.v15i4.3882.
A. C. Lalita, L. Zakiah, and D. R. Haikal, “The effect of multicultural education on the tolerant attitudes of elementary school students: A literature study,” Pendidikan Multikultural, vol. 8, no. 1, pp. 16–21, 2024.
A. Saepurokhman and M. Makhrus Ali, “Character education in multicultural perspective: A literature review,” Indonesian Journal of Education (INJOE), vol. 5, no. 1, pp. 117–124, 2025.
D. Zamathoriq, “Implementasi pendidikan multikultural dalam membentuk karakter peserta didik,” Jurnal Ilmiah Mandala Education, vol. 7, no. 4, pp. 24–34, 2021, doi: 10.58258/jime.v7i4.2396.
A. Sutisnawati, A. Maksum, and A. Marini, “Implementasi pendidikan multikultural berbasis Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah dasar,” DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik, vol. 7, no. 3, 2023, doi: 10.20961/jdc.v7i3.79769.
D. Nurmansyah and M. F. Muttaqin, “Implementasi pendidikan multikultural dalam PKn untuk menumbuhkan toleransi dan nasionalisme siswa sekolah dasar,” JISPE: Journal of Islamic Primary Education, vol. 5, no. 2, pp. 92–101, 2024, doi: 10.51875/jispe.v5i02.536.
T. Sunaryati, N. R. Aulia, L. Yuliyanti, A. S. Maulana, and Tasya, “Implementasi multikultural budaya dalam interaksi sosial siswa di sekolah dasar,” Innovative: Journal of Social Science Research, 2025.
R. Nasution and Albina, “Pendidikan multikultural: Membangun kesatuan dalam keanekaragaman,” Scholars: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan, 2024.
W. Taba, H. Rara, H. Bulawan, E. Kurapak, and Arrang, “Pentingnya pendidikan multikultural dalam membangun toleransi di lingkungan sekolah,” ADIBA: Journal of Education, 2025.
Ridwan Ardi and E. E. S., “Implementasi model pendidikan karakter berbasis multikultural,” vol. 4, no. 2, pp. 7823–7830, 2024.
F. H. and S. Raharja, “Pengembangan model pembelajaran multikultural terintegrasi mata pelajaran IPS di sekolah dasar,” Hitachi Review, vol. 6, no. 3, pp. 78–83, 2013.
H. Hartinah, I. Fauziah Badarab, I. Nur Hasanah, and I. Madjid, “Conflict management strategies in multicultural education subjects for class V students MI Muhammadiyah 02 Mariyai,” Journal of Quality Assurance in Islamic Education (JQAIE), vol. 3, no. 2, pp. 69–79, 2023, doi: 10.47945/jqaie.v3i2.1194.
I. Husnah, W. D. L. Wardhani, and A. B. Adwitiya, “Satu saudara: Pelaksanaan pendidikan multikultural di TK X Kabupaten Jember,” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 1, no. 1, pp. 1–14, 2023, doi: 10.47134/paud.v1i1.33.
S. Sudrajat, “Pendidikan multikultural untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPS di sekolah dasar,” JIPSINDO, vol. 1, no. 1, pp. 1–19, 2015, doi: 10.21831/jipsindo.v1i1.2874.
T. M. Utami, A. Drmiyanti, and F. Ferianto, “Implementasi nilai pendidikan multikultural terhadap pembentukan karakter: Studi kasus di Sekolah Dasar Negeri Wanasari 1 Telukjambe Barat Karawang,” Al-Ulum: Jurnal Pemikiran dan Penelitian ke-Islaman, vol. 10, no. 2, pp. 187–198, 2023, doi: 10.31102/alulum.10.2.2023.187-198.
T. S. Atmaja, “Implementasi pendidikan multikultural di sekolah dasar untuk meningkatkan keterampilan sosial peserta didik,” Jurnal Basicedu, vol. 8, no. 3, pp. 1906–1915, 2024, doi: 10.31004/basicedu.v8i3.7664.
M. Metravia, M. Yunus, A. C. Sarie, “Implementasi pendidikan multikultural berbasis Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema kebhinekaan di sekolah dasar,” Sustainability (Switzerland), vol. 11, no. 1, pp. 1–14, 2025.
K. A. Hartono, D. Riyanti, and Y. A. Feriandi, “Tantangan dan hambatan pendidikan multikultural di sekolah dasar negeri,” Jurnal Harmoni Nusa Bangsa, vol. 1, no. 2, pp. 243–251, 2024.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, edisi kesatu. Bandung: Alfabeta, 2023.
A. Nasir, Nurjana, K. Shah, R. A. Siroj, and M. W. Afgani, Penelitian Kualitatif: Studi Fenomenologi, Case Study, Grounded Theory, 2023.
P. Akbarwati, T. Supriyanto, and T. Trimurtini, “Implementation of multicultural education values in the learning process in grade V elementary school,” JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia), vol. 10, no. 3, p. 386, Aug. 2024, doi: 10.29210/020244180.
S. M. P. Sasa, N. A. Alwi, and I. Kharisma, “Peran pendidikan multikultural dalam menumbuhkan sikap toleransi di kalangan siswa sekolah dasar: Kajian literatur,” Jurnal Nakula: Pusat Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Ilmu Sosial, vol. 3, no. 4, pp. 80–94, May 2025, doi: 10.61132/nakula.v3i4.1873.
E. Syahputra Siregar, “Multikulturalisme dalam perspektif Muhammadiyah,” Proceeding International Seminar on Islamic Studies, vol. 6, no. 1, 2025.
J. Lapung and N. Amaliyah, “Penerapan pendidikan karakter religius melalui habituasi kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler peserta didik MIN 1 Alor,” LPPMUNINDRA, vol. 11, no. 2, Oct. 2025.
Fitriani, N. Afiqah, M. N. A. Rasyid, and Nursalam, “Evaluasi program baca tulis Al-Qur’an dengan model CIPP di MI Manggarupi Gowa,” Cendekia Pendidikan, vol. 16, no. 11, 2025.
T. Ningsih, “Analisis implementasi nilai-nilai pendidikan multikultural di madrasah,” ELSE (Elementary School Education Journal). [Online]. Available: https://journal.um-surabaya.ac.id/index.php/pgsd
S. A. Irbathy and Y. Nurshanti, “Reinterpretasi tradisi salim sebagai sarana internalisasi nilai karakter pada anak usia dini,” doi: 10.19105/18356.
A. Kasturi, D. Aura, N. D. O. Suseno, and S. Hilmayati, “Pendidikan inklusif dalam toleransi beragama,” TSAQOFAH, vol. 4, no. 1, pp. 632–639, Jan. 2024, doi: 10.58578/tsaqofah.v4i1.2537.
N. Tri Aulia, M. Yunus, M. Risti Nabilah, D. Triarsuci, and H. Tasya Al-Qodri, “Analisis implementasi pendidikan multikultural terhadap pembentukan karakter global peserta didik sekolah dasar.” [Online]. Available: https://pusdikra-publishing.com/index.php/jres
R. A. Febriyanti, M. Hajar, S. Putri, F. Husnia, S. H. Rusminati, and C. T. Rosidah, “Penerapan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran kontekstual di sekolah dasar,” 2023.